Goncalo Ramos, dengan selebrasi Menghormati Diogo Jota
INDOZONE.ID - Akhir pekan lalu menjadi momen penuh haru di berbagai stadion dunia. Sorotan tak hanya tertuju pada pertandingan, tetapi juga pada gestur penghormatan unik untuk mendiang Diogo Jota. Para pemain duduk di lapangan, menyilangkan kaki, dan berpura-pura bermain dengan joystick tak kasat mata, menghidupkan kembali selebrasi khas sang bintang Portugal.
Gestur ini kini menjadi simbol universal. Diogo Jota, yang semasa hidup dikenal karena kecintaannya pada sepak bola dan video game, meninggalkan jejak mendalam di kedua dunia itu. Ousmane Dembele dari PSG menjadi salah satu sosok pertama yang memberikan penghormatan langsung usai mencetak gol ke gawang Bayern Munich. Ia menirukan gerakan khas Jota tepat di Parc des Princes.
Bukan hanya Dembele, Raul Jimenez, Diogo Goncalves, hingga Hany Mukhtar ikut mempopulerkan selebrasi yang kini tidak hanya menjadi tren, tetapi juga bentuk penghormatan mendalam.
Sejak masa kecilnya, Jota sudah akrab dengan dunia video game. PlayStation pertamanya menjadi gerbang awal mengenal sepak bola secara digital. Simulator game seperti FIFA menjadi hiburan, pelarian, bahkan ajang kompetitif yang ia jalani dengan serius hingga dewasa.
Baca juga: Virgil van Dijk Kecewa Berat Penghormatan untuk Diogo Jota Terganggu Siulan Suporter Crystal Palace
Dikutip dari As, Jota menjadikan FIFA bukan hanya sekadar hobi, tetapi jalan lain untuk menyalurkan kecintaannya pada sepak bola. Saat dunia terhenti karena pandemi, Jota justru bersinar di arena digital. Menurut Anfield Watch, tahun 2020 ia keluar sebagai juara ePremier League Invitational, menaklukkan Trent Alexander-Arnold di laga final lewat gol emas.
Diogo Jota dan Alexander-Arnold saat bermain di Liverpool. (REUTERS/Peter Byrne)
Tak hanya itu, ia juga mencetak 30 kemenangan beruntun dalam mode FUT Champions FIFA 21, menduduki peringkat 20 besar dunia dan sempat berada di posisi nomor satu global. Fakta ini membuatnya dikenal luas di komunitas game internasional.
Kiprahnya di dunia gim terus berkembang. Jota tampil sebagai ikon kampanye EA SPORTS FC dan berpartisipasi dalam turnamen besar, termasuk FIFA 22 Global Series Qualifier. Ia berada di peringkat 320 besar Eropa dan bersaing dengan bintang esports lainnya.
Kisah unik muncul ketika ia harus memilih antara bermain FIFA atau membela Liverpool di lapangan. Ia pun memilih bermain di dunia nyata dan mencetak dua gol melawan Southampton. Selebrasi khasnya setelah itu, bermain dengan joystick imajiner, menjadi momen ikonik yang selalu dikenang.
Tak hanya sebagai pemain, Jota juga berkontribusi sebagai pelaku industri esports. Ia membentuk tim esports profesional bernama Luna Galaxy setelah bermitra dengan Galaxy Racer. Berdasarkan informasi yang didapat, tim ini tampil di kompetisi internasional seperti Piala Dunia Esports di Arab Saudi, dan Jota secara aktif menyuarakan pentingnya investasi di industri game.
Diogo Jota memang telah tiada, namun selebrasi khasnya, semangat kompetitifnya, dan kecintaannya terhadap dua dunia, sepak bola dan game, telah meninggalkan jejak yang abadi. Joystick tak kasat mata itu kini menjadi simbol universal akan gairah, kreativitas, dan penghormatan tanpa batas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Infobae.com