Kepala Pemandu Bakat Timnas Indonesia, Simon Tahamata. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
INDOZONE.ID - Head of Scouting Timnas Indonesia, Simon Tahamata baru-baru ini membandingkan sistem pembinaan usia dini di Indonesia dan Belanda, yang mana hal itu menjadi catatan besar bagi sepak bola tanah air untuk kedepannya.
Menurut Simon Tahamata, sistem pembinaan di Indonesia dengan Belanda dan juga negara-negara lain di Eropa memiliki perbedaan yang signifikan. Menurut legenda Ajax itu teknik dasarnya masih kurang berkualitas.
Om Simon mengatakan bahwa di Belanda mulai pembinaan sudah sejak usia 8 tahun, sementara itu di Indonesia untuk pembinaan usia dini menurutnya sudah terlambat yang mana di Indonesia mulai lakukan pembinaan dan seleksi di usia 13-14 tahun. Hal tersebut diungkapkan oleh Simon Tahamata dalam wawancaranya bersama PSSI baru-baru ini.
"Ya, di Belanda sejak usia 8 tahun, sudah ada seleksi bagi calon-calon pemain masa depan. Di Indonesia, terus terang, sudah terlambat dengan bikin seleksi dengan umur lebih muda lagi. Di Indonesia kita mulai seleksi dari usia 13-14 tahun," ujar Simon Tahamata dalam wawancaranya yang dikutip dari laman resmi PSSI pada Senin (10/11/2025).
Baca juga: Laga ke-1000, Guardiola Terasa Spesial Usai Manchester City Bungkam Liverpool
Simon Tahamata. (Instagram/@simon_tahamata_)
Kendati begitu, Om Simon mengatakan untuk membenahi pembinaan usia dini butuh waktu panjang dan harus perlu kesabaran. Tetapi, ia yakin bahwa pembinaan di Indonesia akan berjalan lancar jika dikelola dengan baik.
"Secara perlahan dan harus kita ikuti seperti di Eropa yaitu sejak 8 tahun. Namun butuh waktu dan mesti sabar sedikit. Karena bagaimanapun juga, kita tidak bisa paksakan anak-anak di usia tersebut," ujar pria berusia 69 tahun tersebut melanjutkan.
Tak cuma itu, Simon Tahamata juga mengatakan bahwa pembinaan bisa terintegrasi dengan sekolah sepak bola (SSB). Sebab, perkenalan dasar di usia paling dini cukup penting, sehingga nantinya di usia 13-14 tahun bisa mengetahui kemampuan pemain muda tersebut.
"Kita bisa pula berhubungan dengan sekolah sepakbola. Itu bisa dicoba karena perkenalan dasar di usia paling dini sangat penting sehingga di usia 13-14 tahun, kita sudah tahu apakah pemain muda ini berbakat atau tidak," tutur pria berdarah Maluku tersebut menjelaskan.
Baca juga: PSSI Dikabarkan Ingin Bojan Hodak Jadi Pelatih Timnas Indonesia, Ini Alasannya
ilustrasi pembinaan usia muda di sepak bola (kemenkopkm.go.id)
Simon Tahamata juga menceritakan hasil penemuan pemain-pemain muda di pelosok Indonesia. Bahkan, ia mengatakan banyak pemain muda berbakat yang diluar radar akademi besar.
Ia juga mengatakan bahwa ia telah melihat banyak anak-anak di Maluku, Sulawesi dan juga pulau Jawa yang memiliki banyak pemain muda yang memiliki talenta alami di sepak bola.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: PSSI