Moise Kean saat bermain di Fiorentina. (REUTERS/Jennifer Lorenzini)
INDOZONE.ID - Pemandangan tabel klasemen Serie A musim 2025/26 sejauh ini menyajikan sebuah anomali yang membuat dahi para penggemar Calcio berkerut.
Bukan tentang siapa yang sedang memimpin perburuan Scudetto, melainkan tentang siapa yang terpuruk di dasar klasemen.
Di sana, tepatnya di zona merah yang menakutkan, bertengger sebuah nama besar yang seharusnya menjadi penantang Eropa, ACF Fiorentina.
Bagi generasi yang tumbuh melihat kehebatan La Viola mengganggu dominasi Juventus, AC Milan, dan Inter, situasi ini terasa seperti sebuah "glitch" dalam simulasi sepak bola.
Stadion Artemio Franchi yang biasanya bergemuruh oleh sorak-sorai kebanggaan, kini lebih sering diselimuti awan kelabu kekecewaan.
Klub yang identik dengan warna ungu yang elegan ini sedang mengalami krisis identitas parah.
Alih-alih bersaing memperebutkan tiket ke Liga Champions atau setidaknya menjaga tradisi di Conference League, tim dikenal dengan julukan La Viola ini justru harus berjuang mati-matian hanya untuk sekadar bertahan di kasta tertinggi sepak bola Italia.
Hal ini bukan lagi sekadar performa buruk, melainkan mode bertahan hidup.
Melihat Fiorentina terjerembab di zona degradasi adalah sebuah kejutan budaya bagi penikmat Serie A.
Padahal, secara historis dan finansial, mereka memiliki sumber daya untuk setidaknya berada di posisi tujuh besar. Namun, sepak bola tidak dimainkan di atas kertas.
Baca juga: Joan Laporta Dukung Keputusan Ronald Araujo untuk Cuti Sejenak dari Barcelona
Musim ini, lini pertahanan mereka tampak rapuh dan kehilangan kohesi, sementara lini serang seolah lupa caranya mencetak gol.
Kehilangan poin dari tim-tim promosi atau tim papan bawah lainnya menjadi kebiasaan baru yang mengkhawatirkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber