Pembalap didikan Akademi Red Bull (Red Bull Content Pool).
INDOZONE.ID - Program Red Bull Junior Team di bawah tangan besi Helmut Marko dikenal sebagai "Kawah Candradimuka" paling brutal namun sukses di dunia Formula 1.
Sistem yang dirancang oleh pria 82 tahun itu memiliki karakteristik tidak kenal ampun. Siapa yang cepat akan bertahan, dan yang lambat akan "wasalam" tanpa basa-basi.
Jika kita menarik benang merah dari puluhan talenta yang telah diorbitkan.
sejarah panjang akademi ini bisa dikelompokkan layaknya saga Tokusatsu legendaris, Ultraman, yang terbagi dalam tiga babak zaman, yakni Era Showa, Era Heisei, dan Era Reiwa.
Baca juga: Kamboja Tarik Kontingennya dari SEA Games Imbas Situasi Memanas dengan Thailand
Setiap era memiliki karakteristik, drama, dan heronya masing-masing.
Melansir F1 Speed Indonesia, terdapat 18 nama yang pernah merasakan "keras"-nya Helmut Marko di akademi Red Bull.
Era ini bisa dibilang sebagai masa pencarian jati diri bagi Red Bull Racing di awal keterlibatan mereka secara penuh di F1.
Layaknya Ultraman era Showa yang klasik dan penuh perjuangan fisik, para lulusan awal ini menghadapi mobil yang belum dominan dan manajemen yang masih mencari format terbaik.
Christian Klien, Vitantonio Liuzzi, dan Scott Speed adalah prototipe awal yang menjadi kelinci percobaan dari kekejaman sistem rotasi Marko.
Baca juga: Resmi Jadi Juara Dunia 2025: Lando Norris Bongkar Penyesalan Terbesarnya, Apa Itu?
Mereka memiliki kecepatan, namun gagal memenuhi standar tinggi yang ditetapkan.
Namun, dari era inilah lahir "Ultraman Taro" versi Red Bull, yakni Sebastian Vettel.
Ia adalah bukti sukses pertama bahwa akademi ini bisa mencetak Juara Dunia sejati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram.com/@f1speed.indonesia