INDOZONE.ID - Kalau biasanya TikTok ramai karena dance atau drama selebgram, kali ini olahraga tradisional sekaligus budaya lokal Indonesia yang jadi pusat perhatian.
Namanya Pacu Jalur, lomba dayung tradisional yang viral gara-gara aksi seorang bocah penari yang tampil di atas perahu saat lomba berlangsung.
Gayanya yang percaya diri, langsung mencuri perhatian, sampai banyak netizen ikut-ikutan lewat tren Aura Farming.
Aksi itu terjadi di Festival Pacu Jalur, yang rutin digelar setiap Agustus di Tepian Narosa, Taluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Baca juga: Baru Sebulan di Real Madrid, Trent Alexander-Arnold Sukses Bikin Klubnya Untung
Festival tahunan ini sebenarnya sudah jadi agenda nasional, tapi popularitasnya makin meledak setelah video si bocah viral di TikTok.
Tren Aura Farming sendiri mulai ramai sejak 2024, istilah yang digunakan untuk menggambarkan momen seseorang yang terlihat “punya aura” layaknya karakter utama.
Dalam konteks Pacu Jalur, aura itu muncul dari gerakan para pendayung cilik yang mengayun tangan sambil jaga keseimbangan di atas perahu, diiringi lagu “Young Black & Rich” dari Melly Mike. Aksi itu jadi bahan parodi di mana-mana dan disambut hangat oleh netizen dari berbagai negara.
Viralnya Pacu Jalur tidak cuma bikin netizen heboh, tapi juga jadi bukti kuat kalau olahraga lokal punya daya tarik global. Dengan pendekatan kreatif dan sentuhan tren digital, budaya tradisional bisa bersinar di panggung internasional.
Secara arti, “pacu” berarti perlombaan, dan “jalur” adalah nama lokal untuk perahu panjang tradisional.
Dalam satu perlombaan, satu jalur bisa sepanjang 40 meter dan diisi 50 sampai 60 pendayung. Tiap perahu punya kru lengkap, termasuk tukang concang sebagai pengatur irama, tukang pinggang sebagai pengemudi, tukang tari yang jadi daya tarik, dan tukang onjay untuk bantu keseimbangan.
Perlombaan biasanya dimulai dengan suara tiga kali meriam karbit. Ini penting karena arena lomba luas dan penontonnya ribuan, jadi aba-aba harus jelas.
Hebatnya lagi, biaya bikin satu jalur bisa sampai Rp100 juta dan mayoritas ditanggung secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Perahu-perahu ini juga dihias dengan simbol hewan seperti ular, harimau, atau buaya, yang mencerminkan kekuatan dan karakter daerah.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Riau, Haji Roni Rakhmat, tradisi ini awalnya muncul sebagai alat transportasi.
“Digunakan sebagai sarana pengangkutan hasil bumi, seperti buah-buahan lokal dan tebu. Selain itu, berfungsi untuk mengangkut sekitar 40-60 orang per perahu atau sampannya,” ujarnya, dikutip dari Media Center Riau, Kamis (3/7/2025).
Seiring waktu, Pacu Jalur berkembang jadi festival rakyat yang punya nilai sejarah dan budaya tinggi. Pemerintah sudah menetapkan acara ini sebagai Warisan Budaya Takbenda dan masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN).
Pacu Jalur sudah ada sejak 1890 dan dulunya digunakan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina.
Baca juga: Jobe Bellingham Dapat Banyak Kartu Kuning, Harapan Sang Kakak Bertemu di Lapangan Pupus
Namun setelah kemerdekaan, festival ini digelar untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan juga hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi dan Tahun Baru Islam.
Tradisi ini nggak cuma jadi olahraga fisik, tapi juga spiritual. Warga percaya peran pawang perahu sangat penting.
Dari proses pemilihan kayu, pembuatan perahu, hingga perlombaan, semuanya diritualkan agar energi dan keberuntungan tetap menyertai tim jalur.
Viralnya Pacu Jalur tahun ini menunjukkan olahraga lokal sekaligus budaya Indonesia tidak cuma bisa bertahan, tapi juga berkembang lewat tangan kreatif generasi muda. Dari tepian sungai di Kuantan Singingi, pesona budaya Indonesia bisa menjangkau dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mediacenter.riau.go.id