Tim Prinsipal Haas Bela Manuver Agresif Yuki Tsunoda di GP Abu Dhabi: Harusnya Nggak Perlu Penalti!
INDOZONE.ID - Grand Prix Abu Dhabi musim 2025 yang jadi penutup musim Formula 1 (F1) tahun ini ternyata memang menyisakan drama yang tak terlupakan.
Bukan hanya soal Lando Norris yang meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya, tetapi juga aksi-aksi di lintasan yang memicu perdebatan panas hingga saat ini.
Salah satu sorotan utama jatuh pada Yuki Tsunoda, pembalap asal Jepang yang melakoni balapan terakhirnya untuk Red Bull Racing.
Dalam upaya terakhirnya membantu Max Verstappen mempertahankan gelar, Tsunoda terlibat insiden kontroversial dengan Norris yang kini mendapat pembelaan tak terduga dari mantan tim prinsipal Haas, Guenther Steiner.
Baca juga: Petenis Justin Barki Sumbangkan Bonus Rp1 Miliar untuk Korban Bencana di Sumatera Utara
Drama di Lintasan Lurus Yas Marina
Situasi di Sirkuit Yas Marina malam itu memang sangat genting.
Lando Norris harus berjuang membelah trafik untuk mengamankan posisi ketiga demi gelar juara dunia.
Namun, ia harus melewati Yuki Tsunoda yang bertugas sebagai wingman setia Red Bull.
Di lintasan lurus panjang atau back straight, Tsunoda melakukan manuver agresif dengan berpindah jalur beberapa kali untuk mematahkan slipstream yang didapat Norris.
Akibatnya, Norris terpaksa membanting setir ke kiri dan bahkan keempat rodanya sempat keluar dari lintasan untuk menyelesaikan aksi overtake.
Baca juga: Dikritik Legenda Klub, Ruben Amorim Akui Performa Manchester United Belum Maksimal
Insiden tersebut langsung diinvestigasi oleh stewards.
Hasilnya, Norris dinyatakan bersih, namun Tsunoda dijatuhi hukuman penalti lima detik karena dianggap melakukan perubahan arah lebih dari satu kali untuk mempertahankan posisi.
Penalti inilah yang kemudian memantik reaksi keras dari Guenther Steiner.
Guenther Steiner: "Harusnya Nggak Perlu, Stewards Cuma Caper!"
Melansir The Red Flags Podcast, Guenther Steiner yang dikenal dengan gaya bicaranya yang "asbun", merasa hukuman tersebut sangat tidak perlu.
Menurutnya, apa yang dilakukan Tsunoda adalah esensi dari balapan yang sesungguhnya.
Steiner bahkan menyindir para stewards yang menurutnya terlalu "caper" dengan memberikan penalti di momen krusial.
Steiner menekankan bahwa penonton dan fans F1 ingin melihat pertarungan sengit di lintasan, bukan parade peraturan, apalagi sampai harus mengekang para pembalap dengan aturan-aturan yang dianggap "semaunya".
Baca juga: Ditawar Perusahaan Kripto, Keluarga Agnelli Tegaskan Juventus Tidak Akan Dijual
Baginya, aksi Tsunoda memang berada di batas wajar, begitu pula dengan keberanian Norris dalam mengambil risiko di sisi luar trek.
Justru momen saling sikut itulah yang membuat F1 tetap hidup dan menarik untuk ditonton.
Steiner berpendapat bahwa manuver Tsunoda hanyalah upaya untuk mematahkan slipstream di lintasan lurus, bukan gerakan membahayakan di zona pengereman yang akibatnya bisa jauh lebih fatal.
Ia khawatir jika setiap aksi defensif dihukum, tidak ada lagi orang yang mau menonton balapan karena kehilangan unsur hiburannya.
Perbedaan Pandangan dengan McLaren
Tentu saja, pernyataan Steiner ini berseberangan dengan kubu McLaren. CEO McLaren Racing, Zak Brown, mengecam keras tindakan yang dilakukan Tsunoda saat diwawancarai oleh Sky Sports F1.
Baca juga: Pembalap Kimi Antonelli Kepergok Dukung Bologna FC di Renato Dall'Ara Saat Jamu Juventus
Brown menilai keputusan penalti tersebut sudah sangat pantas karena manuver Tsunoda dianggap berbahaya dan tidak perlu dilakukan.
Meskipun Brown memahami bahwa F1 adalah olahraga tim di mana pembalap kedua sering membantu pembalap utama, ia merasa apa yang dilakukan Tsunoda itu "too much" dari batas toleransi sportivitas.
Terlepas dari perdebatan apakah penalti tersebut layak atau tidak, sejarah telah tertulis.
Lando Norris sukses melewati rintangan tersebut dan finis di posisi yang cukup untuk mengalahkan dominasi Max Verstappen di klasemen akhir, meskipun Verstappen memenangkan balapan di Yas Marina dengan dominan.
Namun, pembelaan Steiner menjadi pengingat bagi regulator F1 bahwa di mata fans, sedikit drama dan agresivitas di lintasan adalah bumbu yang membuat olahraga ini tetap dicintai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber