Lewis Hamilton di sesi kualifikasi Grand Prix Sao Paulo. (Sumber: RacingNews365)
INDOZONE.ID - Kepindahan sang veteran, Lewis Hamilton, dari Mercedes ke Scuderia Ferrari digadang-gadang sebagai salah satu transfer paling monumental dalam sejarah Formula 1.
Narasi tentang sang juara dunia tujuh kali yang menutup karirnya dengan balutan warna merah ikonik Maranello seharusnya menjadi kisah kepahlawanan yang manis.
Namun, realitas di lintasan balap seringkali jauh dari skenario film Hollywood.
Di debutnya bersama tim Kuda Jingkrak justru terus menyajikan drama memilukan yang seolah tak berujung, dan babak terbaru dari mimpi buruk tersebut baru saja terjadi di Sirkuit Internasional Lusail, Qatar.
Sesi Kualifikasi Sprint atau Sprint Qualifying (SQ) untuk Grand Prix Qatar menjadi saksi bisu betapa sulitnya proses adaptasi pembalap berusia 40 tahun tersebut dengan mobil barunya.
Baca juga: Hasil Persija Jakarta vs PSIM Yogyakarta: Macan Kemayoran Menang 2-0 Tepat di HUT Ke-97
Alih-alih bertarung di barisan depan melawan rival-rival lamanya, Hamilton justru harus menelan pil pahit karena tersingkir di sesi pertama (SQ1).
Catatan waktunya yang jauh dari kata kompetitif memaksanya harus memulai balapan Sprint hari Sabtu dari posisi ke-18.
Hal ini menjadi sangat asing dan tentu saja mengecewakan bagi seorang pembalap dengan rekor pole position terbanyak sepanjang masa.
Masalah yang dihadapi Hamilton di Qatar bukan cuma kesalahan strategi atau insiden lalu lintas di trek, melainkan kurangnya kecepatan murni atau pure pace.
Melalui radio tim, nada frustrasi terdengar jelas ketika Hamilton melaporkan kepada insinyur balapnya bahwa mobil Ferrari yang dikendarainya "tidak bisa melaju lebih cepat lagi."
Pernyataan tersebut menyiratkan keputusasaan teknis, di mana sang pembalap merasa telah memeras seluruh potensi mobil namun hasilnya tetap nol besar.
Situasi ini semakin kontras jika dibandingkan dengan rekan setimnya, Charles Leclerc.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crash.net