Yuki Tsunoda "Remontada" di Azerbaijan: Rahasia di Balik Performa Gacor dan Ancaman Rookie of the Year!
INDOZONE.ID - Pembalap Red Bull asal Jepang, Yuki Tsunoda, sukses mencuri perhatian di Grand Prix Azerbaijan dengan performa yang bikin semua orang melongo.
Setelah sempat struggling di beberapa balapan, Yuki seolah melakukan remontada (bangkit dari keterpurukan) di sirkuit jalan raya Baku yang super tricky.
Yuki sendiri berhasil finis di posisi keenam, hasil terbaiknya sejak kembali ke kokpit Red Bull Racing.
Tapi yang lebih seru lagi, di balik performa gacor ini ada "rahasia dapur" dari Red Bull dan bayang-bayang ancaman dari seorang rookie sensasional yang bikin masa depannya di F1 jadi taruhan. Penasaran? Yuk, kita kupas!
Baca juga: Sudah Menangkan Banyak Trofi, Sergio Busquets Putuskan Pensiun dari Dunia Sepak Bola
Rahasia Dapur Red Bull
Jadi, apa sih yang bikin Yuki tiba-tiba bisa secepat itu di Baku? Jawabannya datang langsung dari ayahanda Helmut Marko, penasihat Red Bull yang terkenal suka ceplas-ceplos.
Menurut Marko, semua ini berkat "pendekatan yang berbeda" yang mereka terapkan setelah balapan di Monza.
"Kami duduk bersama setelah balapan di Monza, di mana (Yuki)Tsunoda terkadang satu detik lebih lambat dari Max (Verstappen) dalam balapan, dan memutuskan untuk mengambil pendekatan yang berbeda," ungkap Marko, dikutip dari Sky Germany.
Ternyata, tim sadar bahwa Yuki, dengan pengalaman yang lebih sedikit dibanding Max, butuh perlakuan khusus. Jadi, apa aja pendekatan baru itu?
Melansir dari Crash.net, terdapat dua poin penting dari pendekatan baru yang dimaksud Red Bull kepada Yuki.
Baca juga: Amerika Serikat Siap Hadang Upaya Sejumlah Negara yang Tolak Israel Ikut Piala Dunia 2026
Pertama, tim memutuskan untuk memberikan bimbingan yang lebih mendalam kepada Yuki. Ini bukan berarti Yuki nggak jago, tapi F1 itu super kompleks.
Bimbingan ekstra ini membantunya memahami detail-detail kecil yang bisa bikin perbedaan sepersekian detik di lintasan. Waduh, kayak lagi bimbingan skripsi!
Kedua, Red Bull mulai mengatur setup mobil RB21 lebih sesuai dengan keinginan dan gaya balap Yuki.
Sebelumnya, mungkin setup-nya lebih condong ke arah Max. Dengan mobil yang terasa "nyambung", Yuki bisa lebih percaya diri untuk push to the limit.
Hasilnya? Langsung kelihatan di Baku. Yuki nggak cuma kencang di kualifikasi dengan merebut P6, tapi juga punya race pace yang solid.
Baca juga: Diva Zahra Comeback di Sprint Rally Semarang, Bidik Podium Usai Vakum 4 Bulan
Bahkan, hasilnya bisa lebih baik lagi kalau bukan karena kalah duel tipis dengan Liam Lawson saat keluar dari pit.
Peningkatan ini juga pas banget momennya, karena Red Bull sendiri lagi on fire dengan Max Verstappen yang menang di dua balapan terakhir.
Ancaman Baru dari Sister Team Sendiri?
Performa gemilang Yuki di Baku ini datang di saat yang sangat krusial. Kenapa? Karena kursi balapnya untuk musim 2026 sedang terancam.
Ancaman utamanya justru datang dari seorang rookie yang lagi naik daun banget dari "tim adik" Red Bull itu sendiri, alias VCARB. Siapa dia? Yap, Isack Hadjar!
Pembalap asal Prancis ini bisa dibilang jadi kandidat kuat Rookie of the Year musim 2025.
Bersama tim Visa Cash App Racing Bulls (sister team-nya Red Bull)), performanya super konsisten dan bahkan seringkali lebih unggul dari rekan setimnya, Liam Lawson.
Baca juga: Sindiran Pedas Toni Kroos untuk Timnas Jerman: Skuad Medioker dan Sulit Bersaing di Piala Dunia 2026
Puncaknya? Hadjar sukses meraih podium F1 pertamanya di Zandvoort.
Dengan performa sekeren itu, banyak yang memprediksi Hadjar bakal dipromosikan ke tim utama Red Bull pada 2026 untuk menggantikan Yuki.
Situasi ini bikin Yuki harus berjuang mati-matian di setiap balapan untuk membuktikan bahwa ia layak dipertahankan.
Opsi Sulit di Musim 2026 Mendatang
Kalau seandainya skenario terburuk terjadi dan Yuki kehilangan kursinya di Red Bull, kemana ia akan berlabuh? Ini dia bagian yang bikin deg-degan.
Opsi untuk Yuki di grid F1 2026 terlihat sangat terbatas.
Baca juga: Masih Betah Nganggur, Luciano Spaletti Tolak Tawaran untuk Jadi Pelatih Iran
Tim seperti Alpine, lewat penasihat sekaligus tim prinsipal Flavio Briatore, sudah menegaskan nggak akan merekrut Yuki atau Lawson karena mereka fokus pada pembalap junior internal mereka, Paul Aron.
Beberapa media sempat menyebut rumor berhembus kencang Yuki akan membela Alpine.
Hal tersebut dibantah oleh Briatore beberapa hari setelah memperpanjang kontrak pembalap senior sekaligus "tulang punggung" tim di musim ini, Pierre Gasly, hingga 2028 mendatang.
Sementara itu, Cadillac juga sudah mengunci susunan pembalap mereka dengan memboyong Valtteri Bottas dan Sergio Perez.
Baca juga: FC Twente Dinilai Tidak Adil, Pengacara Belanda ini Desak Mees Hilgers Layangkan Gugatan
Keduanya dijuluki "The Second Choice" oleh netizen Indonesia karena mereka sebelumnya adalah pembalap kedua dari Mercedes dan Red Bull.
Gimana kalo balikan sama VCARB? Kayaknya, hampir nggak mungkin. Yuki sudah menghabiskan empat musim di sana sebelum akhirnya dipromosikan ke Red Bull.
Tim itu biasanya jadi tempat untuk pembalap muda baru, bukan untuk senior seperti Yuki.
Jadi pembalap cadangan? Nah, mungkin ini bisa jadi opsi. Tim seperti Aston Martin (yang pakai mesin Honda) atau Haas (lewat koneksi dengan Ayao Komatsu) bisa jadi pilihan, mengingat koneksi Jepang dari kedua tim.
Tapi, tentu saja ini bukan yang diharapkan oleh pembalap sekompetitif Yuki.
Baca juga: Presiden FIFA Gianni Infantino Tak Permasalahkan Erick Thohir Rangkap Jabatan Ketua PSSI dan Menpora
Jadi, jelas banget kan? Performa comeback Yuki di Azerbaijan bukan cuma soal meraih poin, tapi ini adalah pernyataan.
Ini adalah pertarungan untuk karirnya di Formula 1. Dengan tekanan dari rookie fenomenal dan kursi yang makin sedikit, Yuki Tsunoda harus terus tampil gacor untuk membuktikan bahwa ia bukan cuma pelengkap, tapi salah satu talenta terbaik di grid.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber