Selasa, 21 OKTOBER 2025 • 10:05 WIB

Di Balik Pembangkangan Franco Colapinto yang Bikin Petinggi Alpine Murka, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Author

Franco Colapinto. (Motorcycle Sports)

INDOZONE.ID - Sirkuit The Americas (COTA) menjadi saksi bisu drama internal yang bikin geger di tim Alpine

Bukan soal perebutan podium, tapi soal "perang saudara" antara dua pembalapnya di barisan belakang. 

Pembalap rookie asal Argentina, Franco Colapinto, secara terang-terangan menolak perintah team order, yang auto bikin petinggi tim tepuk jidat.

Kejadian ini bukan cuma soal salip-menyalip biasa. Melainkan soal hierarki, kepercayaan, dan masa depan seorang pembalap yang lagi di ujung tanduk. Penasaran?

Baca juga: Dilempari Gelas, Wasit Setop Laga Standard Liege vs Royal Antwerp di Menit ke-88

Kronologi Drama di Lap Akhir

Cerita dimulai saat duo Alpine, Franco Colapinto dan Pierre Gasly, berada di posisi buncit, yakni P16 dan P17. 

Gasly, yang melakukan pit stop sangat awal di lap 27 mengganti ban Soft, mulai kehilangan kecepatan secara drastis. 

Bannya sudah aus, membuatnya jadi target empuk bagi pembalap di belakangnya.

Melihat situasi ini, pit wall Alpine memberikan perintah yang jelas kepada Colapinto yang berada tepat di belakang Gasly. 

"Tahan posisi, jangan menyerang," perintah yang digaungkan tim pada pembalap mereka.

Baca juga: Rehat dari Dunia Kepelatihan, Jurgen Klopp Terbuka Jika Kembali Ditawarkan Mengasuh Liverpool

Reaksi Colapinto di radio tim? Ikonik dan penuh rasa tidak percaya. "Hah? Tahan posisi?! Tapi dia lambat, weh!" jawabnya dengan nada protes.

Nggak butuh waktu lama, Colapinto yang ngotot merasa lebih cepat, langsung melakukan manuver agresif dan menyalip Gasly di Tikungan 1. 

Sebuah pembangkangan yang disiarkan langsung ke seluruh dunia.

Pembelaan Colapinto: "Ban Gasly Aus, Ada Bortoleto di Belakang!"

Setelah balapan, Colapinto memberikan pembelaan atas tindakannya yang nekat. 

Menurutnya, ia terpaksa menyalip Gasly bukan karena ego, tapi karena ada ancaman dari pembalap lain di belakangnya, yaitu Gabriel Bortoleto dari tim Kick Sauber.

Baca juga: Liverpool Empat Kali Kalah Beruntun, Arne Slot Hadapi Ujian Terberat Sejak Gantikan Jurgen Klopp

"Di akhir balapan, ban saya sedikit lebih segar dari Pierre dan saya melihat Gabriel [Bortoleto] menyerang. Saya ingin menahannya di belakang kami berdua," jelas Colapinto dikutip dari Crash.net.

Menurut POV Colapinto, membiarkan Gasly yang lambat di depan justru berisiko membuat kedua mobil Alpine jadi "santapan lezat" Bortoleto. 

Jadi, ia mengambil inisiatif untuk menjaga posisi tim secara keseluruhan.

Petinggi Alpine Murka

Meskipun punya alasan, tindakan Colapinto tetap membuat manajemen Alpine meradang. 

Steve Nielsen, Managing Director Alpine, mengonfirmasi bahwa masalah ini akan ditinjau dan ditangani secara internal.

Baca juga: FAM Berhasil Menangkan Penghargaan Grassroot dari AFC ditengah Kasus Pemalsuan Data Pemain Naturalisasi

Nielsen menegaskan prinsip utama dalam sebuah tim balap. "Sebagai sebuah tim, instruksi apa pun yang dibuat oleh pit wall adalah final dan hari ini kami kecewa hal itu tidak terjadi," kata Nielsen dengan tegas.

Pihak tim menjelaskan bahwa perintah itu diberikan karena mereka sedang mengelola bahan bakar di kedua mobil, ditambah ketidakpastian jumlah lap tersisa. 

Tindakan Colapinto dianggap mengabaikan gambaran besar yang sudah diperhitungkan oleh tim.

Masa Depan Colapinto di Ujung Tanduk

Drama ini terjadi di momen yang sangat krusial bagi Colapinto. 

Performanya memang sedang naik, terbukti ia berhasil mengungguli Gasly "sang tulang punggung" tim dalam sesi kualifikasi di empat dari lima balapan terakhir. 

Baca juga: Ricky van Wolfswinkel Buka Suara Soal Situasi Mees Hilgers di FC Twente

Namun, ia belum juga mengamankan kursi untuk musim depan.

Posisi di Alpine untuk 2026 kabarnya diperebutkan antara dirinya dan pembalap junior kebangsaan Estonia, Paul Aron. 

Dengan tindakan pembangkangan ini, Colapinto mungkin telah menunjukkan kecepatannya, tapi di saat yang sama ia juga mempertahankan reputasinya sebagai team player. 

Apakah aksi nekatnya ini akan dilihat sebagai jiwa seorang juara atau justru menjadi blunder yang bisa mengakhiri karier F1-nya?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Crash.net

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU