Rabu, 26 NOVEMBER 2025 • 09:38 WIB

Drama Internal Ferrari Kembali Memanas: Fred Vasseur Minta Lewis Hamilton untuk "Calm Down" Pasca Curhatan Frustrasi di GP Las Vegas!

Author

Lewis Hamilton (Sumber: AutoRacing1.com)

INDOZONE.ID - Hubungan bulan madu antara Lewis Hamilton dan Scuderia Ferrari tampaknya sedang menghadapi ujian berat pertamanya. Setelah serangkaian hasil mengecewakan yang memuncak di Grand Prix Las Vegas, suasana di garasi tim Kuda Jingkrak dikabarkan memanas.

Prinsipal Tim Ferrari, Fred Vasseur, dilaporkan harus turun tangan dan meminta pembalap bintangnya untuk tenang (calm down) setelah Hamilton meluapkan frustrasinya kepada media dengan komentar-komentar yang sangat suram. Juara dunia tujuh kali itu secara terbuka menyebut musim perdananya bersama Ferrari sebagai musim terburuk dalam kariernya, sebuah pernyataan yang tentu saja memicu alarm di Maranello.

Apa yang sebenarnya terjadi di Las Vegas hingga membuat Hamilton begitu putus asa, dan bagaimana respons Vasseur menghadapi krisis kepercayaan diri pembalap utamanya?

Baca juga: Podium Buyar! Penalti 10 Detik Gagalkan Momen Epik Lewis Hamilton Usai Duel Panas Lawan Verstappen

Kualifikasi Terburuk dalam 17 Tahun

Puncak kekecewaan Hamilton bermula dari sesi kualifikasi di sirkuit jalan raya Las Vegas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah karier Formula 1-nya yang gemilang selama 17 tahun, Lewis Hamilton terkualifikasi di posisi paling buncit berdasarkan kecepatan murni, tanpa adanya masalah teknis yang signifikan. Meski begitu, di hari H balapan ia naik satu posisi setelah Yuki Tsunoda (Red Bull) start dari pit lane karena mengganti beberapa part mobilnya.

Bagi seorang pembalap yang memegang rekor pole position terbanyak sepanjang masa, memulai balapan dari posisi paling belakang karena kurangnya kecepatan mobil adalah pukulan telak bagi egonya.

Meskipun pada balapan utama Hamilton berhasil melakukan recovery drive (pemulihan posisi) hingga finis ke-10 di lintasan (yang kemudian naik menjadi posisi ke-8 setelah kedua pembalap McLaren didiskualifikasi pasca-balapan), hasil tersebut sama sekali tidak menghiburnya. Menurutnya, finis di papan tengah bukanlah alasan dia pindah ke Ferrari.

Curhatan Hamilton: Ingin Musim Cepat Berakhir

Lewis Hamilton di Ferrari (sumber: XPB Images via Crash.net)

Wawancara pasca-balapan menjadi momen di mana emosi Hamilton tumpah ruah. Berbicara kepada Sky Sports F1, pembalap berusia 40 tahun itu tampak sangat terpukul dan tidak berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Saya merasa buruk sekali,” ungkap Hamilton dengan nada rendah.

“Ini adalah musim terburuk yang pernah ada, dan tidak peduli seberapa keras saya mencoba, situasinya terus memburuk.”

Dalam wawancara terpisah dengan BBC Radio 5 Live, Hamilton bahkan menegaskan bahwa tidak ada satu pun hal positif yang bisa diambil dari balapan di Las Vegas. Ia bahkan secara eksplisit menyatakan keinginannya untuk segera mengakhiri musim 2025 ini.

“Saya sangat ingin ini berakhir, saya menantikan ini berakhir,” katanya.

Ketika wartawan meminta klarifikasi apakah yang dimaksud berikutnya adalah balapan akhir pekan depan di Qatar, Hamilton memberikan jawaban singkat namun menohok, “Musim depan.”

Pernyataan ini seolah mengonfirmasi bahwa Hamilton sudah menyerah secara mental dengan performa mobil Ferrari SF-25 tahun ini dan hanya ingin segera melompat ke tahun 2026.

Pola Frustrasi yang Berulang

Komentar di Las Vegas ini bukanlah kejadian isolasi. Hanya dua minggu sebelumnya, setelah gagal finis (DNF) di Grand Prix Sao Paulo, Hamilton juga menggambarkan musim pertamanya bersama Ferrari sebagai sebuah mimpi buruk.

Pola komentar negatif yang berulang ini menjadi perhatian serius bagi manajemen Ferrari. Memiliki pembalap yang secara terbuka menyatakan ketidakbahagiaan dan keputusasaan dapat berdampak buruk pada moral ribuan staf di pabrik Maranello yang bekerja keras siang malam.

Di sinilah peran Fred Vasseur selaku tim prinsipal menjadi sangat krusial. Vasseur, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Hamilton sejak masa-masa junior mereka, harus mengambil peran sebagai penyeimbang emosi.

Respons Sang Pemimpin Tim

Menanggapi rentetan komentar negatif dari pembalapnya, Fred Vasseur dilaporkan telah mendesak Hamilton untuk lebih tenang. Vasseur memahami bahwa Hamilton adalah pembalap yang emosional dan sangat kompetitif, namun sebagai pemimpin tim, ia perlu menjaga stabilitas internal.

Pesan “calm down” dari Vasseur bukan berarti ia meremehkan masalah mobil, tetapi lebih kepada ajakan untuk melihat perspektif yang lebih luas. Ferrari sedang dalam masa transisi, dan reaksi berlebihan terhadap setiap hasil buruk hanya akan memperkeruh suasana.

Vasseur menyadari bahwa adaptasi Hamilton dengan mobil Ferrari, yang memiliki karakteristik handling yang sangat berbeda dengan Mercedes yang dikendarainya selama lebih dari satu dekade. Namun, Vasseur juga butuh Hamilton untuk tetap menjadi pemimpin, bukan sosok yang menyebarkan pesimisme.

Baca juga: Lewis Hamilton "Nyerah" di P13, Performa Jomplang dari Charles Leclerc Disorot Pakar F1

Tantangan di Usia 40 Tahun

Situasi ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi Hamilton di usia senjanya di F1. Pindah tim di usia 40 tahun dengan ekspektasi membawa gelar juara kembali ke Italia tentu menjadi beban yang sangat berat.

Ketika realita di lintasan tidak sesuai dengan janji manis saat tanda tangan kontrak, wajar jika rasa frustrasi muncul. Hamilton datang ke Ferrari untuk menang, bukan untuk bertarung memperebutkan poin remah-remah di posisi ke-8 atau ke-10.

Frustrasi Hamilton mungkin juga dipicu oleh fakta bahwa ia merasa telah memberikan segalanya, namun hasilnya tetap nihil atau malah memburuk. Hal ini menjadi situasi yang jarang dialami oleh pembalap yang terbiasa memiliki mobil pemenang.

Dengan sisa musim yang tinggal sedikit, termasuk balapan di Qatar yang akan datang, fokus utama Ferrari sekarang adalah manajemen krisis. Vasseur harus memastikan bahwa “api” frustrasi Hamilton tidak membakar semangat tim menjelang musim dingin.

Jika Hamilton sudah mengarahkan pandangannya ke musim depan, maka Ferrari harus memastikan bahwa mobil tahun 2026 benar-benar kompetitif. Jika tidak, drama mimpi buruk ini bisa berlanjut menjadi krisis jangka panjang yang dapat mengancam harmoni tim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU