Selasa, 06 JANUARI 2026 • 17:15 WIB

Imbas Tendangan Kungfu, PSSI Jatim Larang Hilmi Gimnastiar Aktif di Sepak Bola Seumur Hidup

Author

Tangkapan layar pertandingan antara PS Putra Jaya Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung yang berlaga di Liga 4 Jatim, di Stadion Bangkalan, Madura, Senin 5 Januari 2026. (ANTARA/Naufal Ammar Imaduddin)

INDOZONE.ID - Aksi pemain Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar, melepaskan tendangan kungfu kepada pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha Ardhiansyah,  di Liga 4 Jawa Timur (Jatim), berujung sanksi berat.

Atas tindakan ilegalnya tersebut, Komite Disiplin (Komdis) Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jatim, menjatuhkan sanksi larangan aktif di sepak bola seumur hidup.

Ketua Komdis Asprov PSSI Jatim, Samiadji Makin Rahmat, menyatakan perbuatan Hilmi Gimnastiar tergolong pelanggaran serius setelah memeriksa dan menilai aksinya.

“Perbuatan menendang pemain lawan yang mengakibatkan luka parah merupakan tindakan kekerasan dan pelanggaran berat, sehingga Komdis menjatuhkan hukuman tambahan berupa larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup,” kata Makin saat di Surabaya, dikutip dari ANTARA, Selasa (6/1/2026).

Hilmi Gimnastiar melakukan pelanggaran Pasal 48 juncto Pasal 49 Kode Disiplin PSSI. Bagaimana tidak, dalam pertandingan di Stadion Gelora Bangkalan, Madura, pada Senin 5 Januari 2026, ia melepaskan tendangan kungfu ke dada Firman.

Tak ayal, sanksi larangan aktif di sepak bola seumur hidup dijatuhkan kepada Hilmi Gimnastiar. Selain itu, ia juga didenda Rp2,5 juta sesuai Pasal 78 Kode Disiplin PSSI.

Baca juga: Didesak Keluar dari PSSI, Michael Sianipar: Futsal Tidak Bisa Dipisahkan dari Sepak Bola!

Meski sudah dijatuhkan sanksi, Hilmi Gimnastiar bisa mengajukan banding sesuai aturan yang berlaku di Kode Disiplin PSSI.

Pelajaran untuk Pesepak Bola Lain

Makin berharap, sanksi berat terhadap Hilmi Gimnastiar menjadi pelajaran bagi pesepak bola lain supaya sportif saat bertanding.

“Komdis berharap keputusan ini menjadi pelajaran bagi seluruh insan sepak bola Jawa Timur untuk menjunjung tinggi sportivitas dan keselamatan pemain,” ucapnya.

Terakhir, Makin menegaskan, bahwa pelanggaran seperti itu tidak seharusnya terjadi lagi di masa depan, karena sepak bola bukan bela diri.

"Hukuman itu juga kami putuskan agar tidak ada pemain lainnya yang meremehkan dengan melakukan tindakan yang sama, ini sepak bola bukan bela diri," pungkas Makin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU