INDOZONE.ID Kekecewaan mendalam dirasakan penyerang Raphinha, setelah FC Barcelona harus angkat koper dari Liga Champions.
Blaugrana tersingkir di babak perempat final, usai kalah agregat 2-3 dari Atlético Madrid pada Selasa (14/4/2026).
Meski mampu meraih kemenangan 2-1 di leg kedua, hasil tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan.
Situasi semakin sulit karena Barcelona harus bermain dengan 10 pemain di kedua leg, yang turut memengaruhi jalannya pertandingan.
Baca juga: Misi Meruntuhkan Tembok Atletico Madrid: Skenario Comeback Barcelona di Liga Champions!
Kontroversi Keputusan Wasit Jadi Sorotan
Raphinha yang absen akibat cedera dalam dua leg tersebut, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Ia menilai, sejumlah keputusan wasit sangat merugikan timnya, bahkan menyebutnya sebagai bentuk “perampokan”.
“Menurut saya, ini seperti perampokan. Bukan hanya di pertandingan ini, tetapi juga di leg pertama,” ujar Raphinha kepada wartawan.
Leg kedua dipimpin oleh Clément Turpin, sementara leg pertama dikawal István Kovács.
Menurut Raphinha, keputusan dari kedua pengadil lapangan tersebut sulit dipahami, dan berdampak besar terhadap hasil akhir.
Baca juga: Berapa Jumlah Wasit dalam Pertandingan Sepak Bola? Ini Penjelasannya Menurut FIFA dan IFAB
Gestur dan Emosi Raphinha Usai Laga
Sorotan juga tertuju pada reaksi Raphinha setelah pertandingan berakhir.
Dalam tayangan siaran, pemain asal Brasil itu terlihat berulang kali membuat gestur mencengkeram dengan tangannya, gerakan yang kerap diartikan sebagai simbol ketidakadilan atau “perampokan”.
Emosi tersebut mencerminkan betapa beratnya situasi yang dihadapi Barcelona, terutama ketika mereka merasa harus bekerja ekstra keras hanya untuk menjaga peluang tetap hidup.
“Ini sangat sulit, apalagi ketika kami merasa harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bisa menang,” ungkapnya.
Baca juga: Raphinha Alami Cedera, Presiden Barcelona Joan Laporta Salahkan FIFA
Raphinha Minta Evaluasi Kinerja Wasit
Lebih lanjut, Raphinha menegaskan, kesalahan wasit memang hal yang manusiawi. Namun, ia menilai ada pola keputusan yang terus berulang dan merugikan timnya.
“Semua orang bisa melakukan kesalahan karena kita manusia. Tapi kalau kesalahan yang sama terus terjadi, ini menjadi sesuatu yang harus diperhatikan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal agar ada evaluasi terhadap kinerja wasit di Liga Champions.
Bagi Barcelona, kegagalan ini menjadi pukulan telak, juga menutup harapan mereka untuk melangkah lebih jauh di Liga Champions musim ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters