Rabu, 15 APRIL 2026 • 14:00 WIB

Kejatuhan Dramatis Spanyol dan Harapan Baru La Roja Menuju Piala Dunia

Author

Timnas Spanyol asuhan pelatih Luis de la Fuente di Kualifikasi Piala Dunia 2026. (REUTERS/Marcelo Del Pozo)

INDOZONE.ID - Perjalanan tim nasional Spanyol di kancah sepak bola global adalah kisah tentang puncak kejayaan yang runtuh begitu cepat. Setelah mendefinisikan sebuah era dengan permainan indah, La Roja harus menelan pil pahit dari serangkaian kegagalan yang mempertanyakan posisi mereka sebagai raksasa. Kini, dengan darah muda dan pelatih baru, asa untuk bangkit di Piala Dunia 2026 mulai menyala.

Jauh sebelum generasi emas lahir, Spanyol kerap dicap sebagai tim yang selalu kurang beruntung. Nama-nama legendaris seperti Alfredo Di Stefano, Raul Gonzalez, hingga Fernando Hierro tidak pernah sekalipun menyentuh trofi Piala Dunia. Pertanyaan soal mentalitas baja selalu menghantui langkah mereka di turnamen besar. Kutukan itu baru pecah saat era keemasan datang pada akhir dekade 2000-an.

Dari Puncak Kejayaan Dunia hingga Keruntuhan di Brasil

Kesuksesan mulai terlihat saat Spanyol asuhan Luis Aragones meraih gelar Euro 2008. Dua tahun berselang, puncak tertinggi dalam sejarah sepak bola negara itu terukir di Afrika Selatan. Gol ikonik Andres Iniesta pada babak perpanjangan waktu final Piala Dunia 2010 melawan Belanda memastikan gelar juara dunia pertama bagi La Roja.

Generasi yang dihuni Iker Casillas, Xavi Hernandez, Sergio Ramos, hingga David Villa benar-benar tak terbendung. Dominasi berlanjut dengan mempertahankan gelar Euro pada 2012. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa kesuksesan di Polandia dan Ukraina justru menjadi penanda berakhirnya sebuah dinasti besar. Hukum alam bahwa yang naik akan turun berlaku lebih cepat dari perkiraan.

Penurunan performa dramatis terjadi di Stadion Maracana. Spanyol dihancurkan Brasil pada final Piala Konfederasi 2013. Puncaknya adalah kegagalan di Piala Dunia 2014, ketika pasukan Vicente del Bosque tersingkir di fase grup setelah kalah telak dari Belanda dan takluk dari Chile. Kejatuhan ini menjadi pukulan telak sekaligus sinyal bahwa regenerasi tak bisa ditunda.

Baca juga: Ranking FIFA Terbaru: Timnas Prancis Kembali Jadi Nomor 1 usai Geser Spanyol

Kesulitan Mencari Titisan Generasi Emas

Setelah era keemasan berakhir, Spanyol bergulat dengan kegagalan demi kegagalan. Dalam dua edisi Piala Dunia berturut-turut, Rusia 2018 dan Qatar 2022, La Roja selalu terhenti di babak 16 besar. Meski klub-klub Spanyol tetap mendominasi Eropa, tim nasional justru kesulitan menemukan harmoni seperti era tiki-taka yang dipopulerkan Pep Guardiola.

Pertanyaan pun bermunculan. Bisakah Spanyol menemukan kiper sekelas Iker Casillas? Adakah bek setangguh Carles Puyol? Dan mungkinkah lahir gelandang sekreatif Xavi dan Iniesta? Fondasi permainan yang dulu dibangun dari akademi La Masia Barcelona tampak mulai rapuh. Hingga akhirnya, secercah harapan kembali muncul dari tempat yang sama.

Harapan Bangkit Bersama Lamine Yamal

Lamine Yamal saat bermain di Timnas Spanyol. (REUTERS/Murad Sezer)

Jawaban atas krisis identitas Spanyol datang dari seorang remaja bernama Lamine Yamal. Debut profesionalnya pada 29 April 2023 bersama Barcelona langsung mencuri perhatian. Dengan gaya bermain yang mengingatkan pada Lionel Messi, Yamal tampil percaya diri tanpa rasa gentar menghadapi bek lawan.

Kehadiran pemain muda lulusan La Masia ini menyuntikkan harapan baru. Yamal menjadi bagian penting saat Spanyol kembali ke jalur juara di Euro 2024 dengan mengalahkan Inggris. Bersama generasi baru seperti Nico Williams, Pedri, dan Gavi, ia diyakini mampu membawa Spanyol menuju kebangkitan di Piala Dunia 2026.

Membebani pemain muda yang belum genap 20 tahun dengan harapan besar tentu berisiko. Namun, ketenangan Yamal di lapangan menunjukkan mentalitas yang matang. Tak berlebihan jika penampilannya mulai dibandingkan dengan langkah awal legenda seperti Pele atau Kylian Mbappe saat remaja.

Baca juga: Daftar Lengkap 23 Pemain Timnas Spanyol untuk Piala Dunia 2026

Misi Berat Menjemput Bintang Kedua

Perjalanan menuju Piala Dunia 2026 di Amerika Utara tidak akan mudah. Persaingan dipenuhi tim-tim kuat. Argentina masih tangguh bersama Lionel Messi, Prancis dengan Kylian Mbappe, serta Portugal yang dihuni talenta melimpah. Selain itu, Brasil, Inggris, hingga kuda hitam seperti Maroko dan tuan rumah Amerika Serikat juga siap memberi kejutan.

Spanyol tak hanya menghadapi lawan di lapangan, tetapi juga beban sejarah dan ekspektasi besar. Namun, dengan talenta muda seperti Yamal, harapan untuk meraih bintang kedua kembali terbuka. Mampukah La Roja mengakhiri penantian panjang sejak 2010?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Goal.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU