Yuki Tsunoda (Sumber: Instagram/@yukitsunoda0511)
INDOZONE.ID - Drama perebutan gelar juara dunia Formula 1 (F1) musim 2025 antara Max Verstappen, Lando Norris, dan Oscar Piastri di Grand Prix Abu Dhabi pada Minggu (7/12/2025) tidak hanya menyajikan aksi salip-menyalip yang menegangkan, tetapi juga kontroversi taktik tim yang panas.
Salah satu sorotan utama jatuh pada pembalap Red Bull, Yuki Tsunoda, yang mencoba memainkan peran krusial dalam menahan laju Lando Norris. Namun, aksi defensif Tsunoda justru menuai kritik tajam dari komentator veteran Sky Sports, Martin Brundle, yang menyamakannya dengan gerakan seorang “pelaut mabuk”.
Insiden ini bermula dari strategi Red Bull yang menempatkan Tsunoda pada stint panjang menggunakan ban Hard. Tujuannya jelas, yaitu menempatkan pembalap Jepang tersebut di lintasan untuk menghambat laju Lando Norris setelah pembalap McLaren itu melakukan pit stop.
Harapannya, gangguan dari Tsunoda bisa memangkas waktu Norris dan memberikan keuntungan bagi Max Verstappen dalam perburuan gelar juara dunia kelimanya secara beruntun.
Baca juga: Drama F1 Abu Dhabi 2025: Lando Norris Juara Dunia dan Perpisahan Yuki Tsunoda!
Ketegangan dimulai bahkan sebelum kedua mobil berdekatan di lintasan. Melalui radio tim, Tsunoda menegaskan bahwa ia tahu apa yang harus dilakukan saat Norris mulai mendekat.
Martin Brundle, yang bertugas sebagai komentator pada balapan pamungkas tersebut, merasa komunikasi radio tersebut terdengar tidak nyaman. Pasca-balapan, Brundle menyebut bahwa instruksi dan respons tersebut terdengar “hampir mengancam”.
Brundle sebenarnya memaklumi adanya permainan strategi tim, mengingat setiap tim memiliki dua mobil untuk dimaksimalkan. Namun, ia menyoroti cara penyampaian pesan tersebut, terutama saat tim memberitahu Tsunoda mengenai jarak Norris dengan Charles Leclerc yang hanya 1,4 detik.
Informasi yang disampaikan ini seolah menjadi kode keras bagi Tsunoda untuk segera bertindak agresif demi merusak balapan Norris, bukan sekadar balapan secara kompetitif.
Pembalap Red Bull Yuki Tsunoda saat menjalani balapan di GP Jepang. (MANAMI YAMADA)
Kritik utama Brundle bukan hanya pada niatnya, melainkan pada eksekusi di lintasan yang dinilai ceroboh. Menurutnya, Tsunoda seharusnya bisa menahan Lando Norris di sektor tikungan lambat, mulai dari Tikungan 12 hingga Tikungan 5.
Cara tersebut dinilai lebih efektif, aman, dan legal untuk membuang waktu lawan tanpa melanggar regulasi. Namun, Tsunoda justru memilih jalan lain yang lebih berisiko dan tentu saja berbahaya.
Alih-alih bertahan secara teknis di tikungan, Tsunoda memutuskan untuk melakukan manuver defensif di trek lurus panjang dengan zona DRS.
Di sinilah Brundle mengeluarkan perumpamaan pedasnya. Ia menggambarkan gerakan mobil Tsunoda yang zig-zag di trek lurus tersebut seperti seorang “pelaut mabuk” yang kehilangan arah. Tindakan weaving atau bergoyang-goyang di trek lurus ini sangat berbahaya dan jelas melanggar regulasi olahraga FIA.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crash.net