Fans Timnas INggris membentangkan sebuah kertas bertuliskan "It's coming home". (Pedestrian)
INDOZONE.ID - Fans atau suporter Inggris dikenal memiliki siklus emosional yang khas. Menjelang turnamen mereka dipenuhi keraguan, namun begitu kompetisi dimulai dan tim meraih beberapa kemenangan, optimisme mereka langsung melonjak drastis.
Keyakinan ini terus bertahan di era modern karena munculnya generasi emas baru seperti Jude Bellingham, Harry Kane, Marcus Rashford, dan talenta muda lainnya yang secara konsisten membawa Inggris melaju jauh di beberapa turnamen terakhir, seperti Semifinal Piala Dunia 2018 dan dua kali Final Euro (2020 & 2024).
Seperti yang baru saja terjadi, melalui sebuah pertandingan yang sangat ketat, keras, dan tentunya menarik, The Three Lions berhasil mengalahkan tuan rumah Meksiko dengan skor 2-3 di babak 16 besar dan berhak lolos ke 8 besar atau perempat final. Kemenangan dramatis ini langsung memicu euforia luar biasa di kalangan pendukungnya.
Baca juga: Brace Erling Haaland Bawa Norwegia Lolos ke Perempatfinal Piala Dunia 2026
Seiring dengan kelolosan ini, kalimat "Football's Coming Home" yang berasal dari lagu "Three Lions" (1996) oleh komedian Frank Skinner dan David Baddiel bersama band The Lightning Seeds, kemudian selalu berkumandang di sudut-sudut stadion dan media sosial.
Bagi publik Inggris, ini tentunya bukan slogan bentuk kesombongan, melainkan representasi dari harapan, rasa cinta yang mendalam, serta kerinduan suporter Inggris untuk memenangkan turnamen besar sejak kemenangan pertama dan terakhir mereka di Piala Dunia 1966 silam.
Menurut sosiolog olahraga dari University of Leicester, lagu ini sebenarnya adalah lagu tentang "penderitaan dan harapan yang tak kunjung padam" seorang fans sepak bola, bukan sebuah klaim arogansi bahwa Inggris adalah yang terbaik.
Sayangnya, sampai sekarang harapan itu belum pernah menjadi kenyataan. Timnas Inggris seperti selalu sial di setiap turnamen besar. Sejarah mencatat kutukan adu penalti yang seolah mendarah daging dalam DNA mereka.
Baca juga: 7 Fakta Pertandingan Brasil vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Brace Haaland Jadi Sorotan
Berdasarkan data dari Opta, Inggris memiliki rekor adu penalti terburuk dalam sejarah turnamen besar (Piala Dunia dan Euro), di mana mereka kalah dalam 7 dari 10 babak adu penalti yang pernah mereka jalani sebelum era Gareth Southgate.
Kutukan ini kembali terasa menyakitkan pada final Euro 2021, di mana Inggris harus kalah lewat adu penalti melawan Timnas Italia tepat di hadapan publik mereka sendiri di Stadion Wembley.
Semangat para suporter Inggris untuk melihat tim kesayangannya mengangkat trofi sepertinya memang tidak pernah pupus. Namun berdasarkan data historis, harapan fans selalu berujung dengan kekecewaan yang mendalam.
Jurnalis olahraga senior Inggris, Henry Winter, pernah menulis bahwa tekanan media dan ekspektasi publik yang terlalu masif sering kali menjadi beban mental tersendiri bagi para pemain di atas lapangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: What Britain Loves, FIFA