3 Tahun Bungkam, Kenapa Arsenal Memilih Diam Terhadap Kasus Pemerkosaan Thomas Partey? Memalukan!
INDOZONE.ID - Arsenal memiliki lebih dari satu kesempatan untuk mengambil sikap tegas terhadap Thomas Partey.
Klub asal London itu bisa saja menangguhkan gelandang asal Ghana tersebut sejak tiga tahun lalu, saat ia pertama kali ditangkap atas dugaan pemerkosaan.
Atau setidaknya pada November lalu, ketika ia diwawancarai polisi setelah muncul banyak laporan tentang dugaan pelecehan seksual.
Bahkan pada awal Januari tahun ini, ketika berkas bukti lengkap telah diserahkan ke Kejaksaan Inggris (Crown Prosecution Service), Arsenal tetap tidak mengambil tindakan apa pun.
Alih-alih menghentikan sementara pemainnya yang bergaji £200.000 per minggu itu, mereka justru masih berupaya memperpanjang kontraknya enam minggu sebelum Partey resmi didakwa atas lima kasus pemerkosaan dan satu dugaan penyerangan seksual terhadap tiga perempuan berbeda.
Baca juga: Kisah Gelandang Arsenal Thomas Partey, Masuk Islam demi Nikahi Sang Kekasih
Arsenal Tahu Sejak Awal, Tapi Memilih Diam
“Saya rasa dia [Partey] pemain yang sangat penting bagi kami,” ujar pelatih Mikel Arteta saat itu.
Pernyataan Arteta terasa semakin janggal jika melihat kronologi yang terjadi. Klub sudah mengetahui tuduhan terhadap Partey sejak Juli 2022.
Namun hingga dakwaan resmi dijatuhkan, Arsenal tetap memberi kepercayaan penuh kepada pemain tersebut. Bahkan, mereka masih mempertimbangkan untuk memperpanjang kontraknya.
Memang, secara hukum seseorang dianggap tidak bersalah sampai terbukti di pengadilan. Namun, dalam konteks klub profesional yang menjunjung nilai dan etika, Arsenal terlihat sangat lemah. Etika seakan dikorbankan demi Partey tetap bisa bermain.
Partey Dijauhkan dari Sorotan Media
Menariknya, dalam tiga tahun terakhir, Arsenal tampaknya sengaja menjaga Partey agar tidak terlalu tampil di media.
Baca juga: Kronologi Kasus Fitnah Coach Justin Seret Puluhan Akun Medsos versi Polda Metro Jaya
Ia jarang hadir dalam wawancara, kegiatan sponsor, atau promosi klub. Tapi ketika performanya di lapangan bagus, klub tak ragu mengangkatnya ke media.
Salah satunya terjadi pada 29 Oktober 2023, ketika akun resmi Arsenal di X menyebut Partey sebagai pemain terbaik di laga lawan Liverpool. Padahal, sembilan hari setelah itu, ia kembali dipanggil polisi untuk pemeriksaan.
Standar Ganda Arsenal
Perbandingan mencolok bisa dilihat dari kasus Mark Bonnick, staf perlengkapan yang telah bekerja di Arsenal selama dua dekade.
Pada Desember 2023, ia langsung diskors dan kemudian dipecat hanya karena postingan di media sosial dukungan terhadap Palestina. Tidak ada proses panjang, tidak ada perlindungan dari klub, langsung pecat.
Baca juga: Pep Guardiola Beri Dukungan Untuk Rakyat Palestina Usai Menerima Gelar Doktor Kehormatan
Sementara itu, Partey tetap diberi kesempatan bermain dan menerima gaji yang sangat besar meski berada dalam sorotan kasus hukum yang sangat serius.
Perbedaan perlakuan ini memunculkan pertanyaan tentang standar ganda di dalam tim Arsenal
Tekanan dari Suporter dan Perhatian Terhadap FA
Tekanan tidak hanya datang dari publik, tapi juga dari komunitas Arsenal sendiri. Kelompok Arsenal Supporters Against Sexual Violence pernah mengajukan surat terbuka yang ditandatangani 9.000 orang.
Intinya, mereka menilai bahwa keputusan klub yang terus memainkan Partey sangat tidak peka terhadap isu kekerasan seksual.
Sayangnya, kasus seperti ini tidak hanya terjadi di Arsenal. Manchester United sempat menghadapi situasi serupa dengan Mason Greenwood.
Baca juga: Resmi jadi Tersangka Kasus Pemerkosaan, Sejumlah Kontrak Cuan Greenwood Ditangguhkan
Banyak klub besar terlihat lebih mementingkan performa di lapangan ketimbang mengambil sikap tegas atas isu-isu moral yang menyangkut kekerasan terhadap perempuan.
Lebih ironis lagi, sampai saat ini tidak ada pedoman dari FA atau Premier League terkait bagaimana menangani pemain yang sedang diselidiki dalam kasus kekerasan seksual. Akibatnya, klub-klub berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan jelas.
Krisis Etika Arsenal
Arsenal bisa saja berdalih bahwa tindakan mereka sesuai hukum. Tapi dalam ranah moral, sikap klub sangat mengecewakan. Partey tetap bermain, tetap menerima gaji jutaan poundsterling, bahkan nyaris memperpanjang kontraknya.
Padahal, ini bukan sekadar kasus biasa. Partey adalah pesepakbola profesional dengan penghasilan besar yang tetap dilindungi oleh klub meski telah didakwa atas beberapa kasus pemerkosaan.
Untuk klub yang kerap membanggakan nilai-nilai sosial, keberpihakan ini menodai reputasi mereka sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Telegraph