Momen Emosional Romain Grosjean: Jajal Mobil F1 untuk Terakhir Kali, Lima Tahun Setelah Tragedi di Bahrain
INDOZONE.ID - Buat kalian yang ngikutin Formula 1 dari lama, pasti inget banget momen horor di Grand Prix Bahrain 2020.
Momen di mana mobil Romain Grosjean, yang kala itu membela Haas, menabrak pagar pembatas, terbelah dua, dan meledak jadi bola api raksasa.
Sebuah insiden yang viral dan bikin seluruh dunia menahan napas. Secara ajaib, Grosjean selamat dari maut dan dijuluki "The Phoenix" yang bangkit dari api.
Tapi, tragedi itu membuat karier F1-nya berakhir secara tiba-tiba di ranjang rumah sakit, bukan di garis finis.
Baca juga: Arsenal Perpanjang Kontrak William Saliba Hingga 2027, Real Madrid Gigit Jari
Ia nggak pernah dapet kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal yang layak. Sampai kemarin adalah puncak dari perpisahan yang bener-bener memorable buat Grosjean.
Tepat lima tahun setelah insiden mengerikan itu, Romain Grosjean akhirnya mendapatkan the last dance-nya.
Di Sirkuit Mugello yang basah, ia kembali masuk ke kokpit mobil F1 untuk tes perpisahan yang super emosional, sebuah momen full circle yang sukses bikin para fans (dan Grosjean sendiri) nangis terharu.
Baca juga: Kenalan dengan Maple, Zayu, dan Clutch: Maskot Resmi Piala Dunia 2026 yang Penuh Warna!
Tragedi 67G yang Mengubah Segalanya
Mari kita putar waktu sejenak ke 29 November 2020 silam. Di lap pertama GP Bahrain, mobil Haas bernomor 8 yang dikemudikan Grosjean mengalami kecelakaan dahsyat.
Dengan kekuatan tumbukan mencapai 67G (67 kali gravitasi), mobilnya menembus pagar baja dan langsung terbakar hebat.
Grosjean terjebak dalam kobaran api selama hampir 30 detik sebelum berhasil menyelamatkan diri.
Akibat luka bakar parah di tangannya, ia harus absen di dua balapan terakhir musim itu.
Artinya, karir F1 yang sudah ia jalani selama bertahun-tahun berakhir begitu saja, tanpa lap perpisahan, tanpa lambaian tangan ke penonton.
Sempat ada janji dari tim Mercedes untuk memberinya kesempatan tes di tahun 2021 sebagai bentuk penghormatan, tapi rencana itu batal karena pembatasan COVID-19.
Asa untuk sebuah perpisahan yang layak pun seolah pupus. Hingga akhirnya, tim lamanya, Haas, turun tangan untuk mewujudkan mimpi yang tertunda ini.
The Last Dance di Tengah Mugello yang "Bersedih"
Pada hari Jumat kemarin di Mugello, Italia, momen itu akhirnya tiba. Dengan dukungan penuh dari MoneyGram Haas F1 Team dan sang prinsipal, Ayao Komatsu, Grosjean kembali bersatu dengan mobil F1.
Bukan mobil tua, melainkan mobil VF-23 spek 2023, memberinya kesempatan merasakan langsung generasi baru mobil F1.
Kondisi sirkuit yang basah karena hujan seolah menambah suasana dramatis di hari itu. Grosjean mengakui kalau awalnya ia merasa sedikit kaku.
Baca juga: Casemiro Siap Tinggalkan Manchester United Usai Piala Dunia 2026
"Lima tahun setelah Bahrain, di sinilah kita di Mugello. Terima kasih banyak untuk Tim F1 MoneyGram Haas, ini adalah hari yang spesial," kata Grosjean, dikutip dari Crash.net.
"Tentu saja tim Haas, Ayao Komatsu, mereka mewujudkannya. Aku mengendarai mobilnya. Hari itu basah, hari yang hujan dan membahagiakan. Sungguh fantastis," ujarnya.
"Awalnya aku merasa sedikit kaku, tapi kemudian semuanya kembali seperti biasa," tambahnya.
Berani Melawan Trauma
Salah satu momen paling powerful dari tes ini adalah ketika Grosjean melakukan standing start, prosedur start balapan dari posisi diam.
Kenapa ini begitu penting? Karena standing start terakhir yang ia lakukan adalah beberapa detik sebelum kecelakaan horor di Bahrain lima tahun lalu.
Baca juga: Tidak Takut Bersaing, Federico Chiesa Ungkap Perjuangan dan Tekadnya di Liverpool
Ini bukan cuma soal teknis, tapi juga soal mental. Ini adalah cara Grosjean untuk menatap lurus pada traumanya dan menaklukkannya.
"Aku bahkan sempat melakukan standing start dan coba tebak, standing start terakhirku adalah Bahrain 2020, jadi kali ini hasilnya jauh lebih baik," serunya dengan penuh kelegaan dan kebahagiaan.
Ini adalah bukti nyata bahwa ia telah menang melawan iblis di masa lalunya.
Standing Ovation dan Air Mata di Pit Lane
Puncak emosi hari itu terjadi saat Grosjean menyelesaikan lap terakhirnya dan kembali ke pit lane. Momen ini begitu mengharukan sampai-sampai ia tidak bisa menahan air matanya.
"Itu membuatku menangis di penghujung hari," jelasnya.
Baca juga: Bayern Munich Kasihan pada Florian Wirtz karena Pindah ke Liverpool
"Aku sengaja tidak membuka kaca helmku saat in-lap terakhir. Semua orang dari Ferrari, Red Bull, Pirelli, dan tentu saja Haas ada di sana, bertepuk tangan dan memberiku standing ovation," terusnya.
Penghormatan itu bukan hanya dari timnya sendiri, tapi dari seluruh komunitas F1 yang kebetulan sedang melakukan tes di sirkuit yang sama.
Sebuah pemandangan yang menunjukkan rasa hormat dan solidaritas yang luar biasa. Baginya, momen ini bahkan terasa lebih manis daripada perpisahan yang mungkin ia dapatkan dulu.
"Itu adalah sesuatu yang aku harapkan di Abu Dhabi 2020, tapi aku rasa hari ini terasa jauh lebih baik," tutupnya.
Baca juga: Sering Gonta-Ganti Posisi, Amad Diallo Kesulitan Beradaptasi dengan Formasi 3-4-3 Ruben Amorim
Tes perpisahan Romain Grosjean bukan sekadar mengemudikan mobil F1 sekali lagi.
Ini adalah sebuah penutupan, sebuah proses penyembuhan, dan sebuah perayaan atas semangat manusia yang tak pernah padam.
Sebuah pengingat bahwa terkadang, perpisahan termanis datang di saat yang tak terduga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crash.net