Mengulik Sejarah dan Makna Selebrasi "Ice Cold" yang Diperagakan Beckham Putra di Laga El Clasico Indonesia
INDOZONE.ID - Atmosfer panas selalu menyelimuti pertemuan dua raksasa sepak bola tanah air, Persib Bandung dan Persija Jakarta. Namun, pada laga bertajuk “El Clasico Indonesia” yang digelar Minggu sore (11/1/2026), ada satu momen yang justru terasa “dingin” di tengah gemuruh stadion.
Momen tersebut terjadi ketika gelandang andalan Maung Bandung, Beckham Putra Nugraha, mencatatkan namanya di papan skor.
Bukannya berlari liar atau berteriak histeris, Beckham justru berdiri terpaku sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya ke lengan, seolah-olah sedang kedinginan di tengah hujan salju.
Gerakan ikonik yang dikenal sebagai selebrasi “Ice Cold” ini sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Selebrasi ini bukan hanya gaya-gayaan semata, melainkan sebuah gestur yang telah mendunia dan memiliki sejarah panjang melintasi berbagai cabang olahraga.
Trae Young vs Morgan Rogers: Siapa yang Mulai Duluan?
Perdebatan mengenai siapa pencipta asli gerakan ini sering kali terjadi di kalangan penggemar olahraga. Banyak penikmat sepak bola yang baru mengenal gerakan ini dalam satu atau dua tahun terakhir, namun akarnya ternyata berasal dari lapangan basket Amerika Serikat.
Bintang NBA dari klub Atlanta Hawks, Trae Young, adalah sosok yang pertama kali mempopulerkan gerakan menggigil ini sekitar tahun 2018. Julukan “Ice Trae” yang melekat padanya divisualisasikan dengan gestur kedinginan setiap kali ia mencetak poin krusial di detik-detik akhir pertandingan.
Baca juga: Enzo Maresca Pastikan Cole Palmer Siap Main Penuh saat Chelsea Lawan Aston Villa
Di dunia sepak bola, gerakan ini mulai diadopsi oleh beberapa pemain. Namun, nama Morgan Rogers sering disebut sebagai salah satu pionir di kancah lapangan hijau Inggris.
Saat masih berseragam Middlesbrough (kini berseragam Aston Villa), Rogers kerap melakukan selebrasi ini sebagai penanda keberhasilannya membobol gawang lawan. Pertama kali Rogers memperagakan selebrasi tersebut tepatnya di laga lanjutan EFL Championship antara Middlesbrough vs West Bromwich Albion (WBA) pada musim 2023 silam.
Meskipun demikian, transisi gerakan ini dari lapangan basket ke lapangan sepak bola menandakan bahwa bahasa tubuh kemenangan bersifat universal dan dapat diadopsi lintas disiplin olahraga.
Mengapa Cole Palmer Mempopulerkan Selebrasi Tersebut?
Jika Trae Young adalah penciptanya, maka Cole Palmer adalah sosok yang bertanggung jawab membuat selebrasi ini meledak secara global di era sepak bola modern.
Pemain muda berbakat Chelsea ini mulai rutin memperagakan gestur “kedinginan” setelah mencetak gol-gol penting di Premier League. Popularitas Palmer yang meroket tajam bersama The Blues membuat gerakan ini semakin identik dengan dirinya, hingga ia mendapat julukan “Cold Palmer”.
Menariknya, Palmer secara terbuka mengakui bahwa ia tidak menciptakan gerakan tersebut sendirian. Melansir beberapa sumber, ia menyebut bahwa inspirasi tersebut datang dari mantan rekan setimnya di akademi Manchester City, Morgan Rogers.
Palmer melakukan selebrasi itu sebagai bentuk penghormatan dan koneksi persahabatan dengan Rogers. Namun, karena eksposur media yang masif terhadap Chelsea dan ketajaman Palmer di depan gawang, publik kini secara otomatis mengasosiasikan gerakan mengusap lengan tersebut dengan sosok Cole Palmer.
Apa Makna di Balik Selebrasi “Ice Cold”?
Di balik estetika gerakannya yang unik, selebrasi “Ice Cold” menyimpan makna filosofis yang mendalam bagi seorang atlet. Gerakan ini bukan sekadar menunjukkan bahwa pemain tersebut merasa dingin secara harfiah, melainkan sebuah metafora tentang ketenangan mental.
Frasa “ice in his veins” atau darah dingin mengacu pada kemampuan seorang atlet untuk tetap tenang, fokus, dan tidak panik meskipun berada di bawah tekanan yang luar biasa tinggi.
Ketika Beckham Putra melakukan ini di berbagai laga, khususnya El Clasico Indonesia, ia seolah ingin mengirimkan pesan bahwa tekanan dari puluhan ribu suporter lawan ataupun tensi tinggi pertandingan tidak memengaruhi mentalitasnya.
Ia tetap bisa berpikir jernih dan mengeksekusi peluang dengan dingin. Hal ini menjadi simbol dominasi mental, di mana seorang pemain mampu membekukan waktu sejenak dan menyelesaikan tugasnya tanpa terbebani oleh riuh rendah ekspektasi di sekitarnya.
Baca juga: Persib Menang 1-0 di Laga El Clasico Indonesia, Selebrasi "Cold Palmer" Kembali Jadi Sorotan!
Beckham Putra dan Riwayat Sanksi di Balik Selebrasi
Penggunaan selebrasi ini oleh Beckham Putra memiliki lapisan cerita tersendiri yang cukup emosional bagi Bobotoh. Adik kandung Gian Zola ini sebenarnya sudah pernah memperagakan selebrasi serupa sebelumnya, namun momen tersebut justru berujung pada polemik.
Publik sepak bola nasional tentu mengingat ketika Beckham sempat tersandung masalah indisipliner dan sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI yang dikaitkan dengan gestur selebrasinya yang dianggap provokatif pada masa lalu.
Kala itu, pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, bahkan sempat meluapkan kebingungannya di hadapan media. Ia mempertanyakan dasar keputusan sanksi tersebut, mengingat selebrasi serupa dilakukan oleh banyak pemain dunia tanpa konsekuensi apa pun.
Kini, dengan kembali memperagakan selebrasi “Ice Cold” di laga sepenting El Clasico Indonesia pada awal tahun 2026 ini, Beckham seolah membuktikan bahwa ia telah berdamai dengan masa lalu.
Ia menunjukkan kedewasaan bermain dan keberanian untuk tetap menjadi dirinya sendiri, mengubah memori sanksi menjadi simbol kemenangan yang manis bagi tim kebanggaan Jawa Barat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber