Jumat, 20 FEBRUARI 2026 • 09:33 WIB

Ironi Slogan FIFA soal "Piala Dunia untuk Semua" di Tengah Rangkaian Insiden terhadap Imigran Amerika

Author

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersama Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam drawing fase grup Piala Dunia 2026. (Reuters/Amber Searls-Imagn Images)

INDOZONE.ID - FIFA gemar menyebut Piala Dunia 2026 sebagai ajang paling inklusif dan ramah untuk semua. 

Namun, di balik slogan "World Cup for everyone", ada kegelisahan yang membuncah di komunitas imigran—kelompok yang disebut-sebut justru menjadi fondasi sepak bola Amerika Utara.

Ketika FIFA mengumumkan 16 kota tuan rumah pada musim panas 2022 di Manhattan, Presiden FIFA Gianni Infantino dan wakilnya Victor Montagliani menekankan makna khusus turnamen ini bagi para imigran. 

Montagliani saat itu berkata, "Sepak bola di sini, seperti negara-negara ini, dibangun di atas punggung para imigran."

New York dipilih sebagai salah satu pusat perhelatan, termasuk untuk partai final di MetLife Stadium, New Jersey, karena keragaman populasinya. 

Baca juga: Dianggap Titik Terendah Baru, Jose Mourinho Banjir Kritik Usai Komentari Insiden Vinicius

Lebih dari 200 negara terwakili di wilayah ini. Infantino pun menyebutnya sebagai "sesuatu yang unik" untuk merayakan dan menyatukan dunia.

Namun, narasi indah itu kini berhadapan dengan realitas pahit di lapangan.

Ketika Lelucon soal ICE Jadi Cermin Ketakutan

Melanie Anzidei, jurnalis The Athletic yang tumbuh di komunitas imigran New Jersey, menuliskan kegelisahannya. 

Suatu malam, ia nongkrong di bar East Rutherford bersama teman-teman yang sebagian besar adalah imigran generasi pertama—berasal dari Brasil, Argentina, Sri Lanka, Polandia, hingga Kolombia.

Seorang teman melontarkan "lelucon gelap": "Kita bakal kacau kalau ICE (Imigrasi dan Bea Cukai AS) tiba-tiba masuk sekarang."

Baca juga: Kandidat Tak Lazim di Bursa Calon Presiden Barcelona: Eks Bintang Film Dewasa hingga Pemain Terompet

Lelucon itu mungkin hanya candaan, tapi ada ketakutan nyata di baliknya. Sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat pada Januari 2025, kebijakan deportasi massal digencarkan. 

Dua warga Amerika baru-baru ini tewas dalam insiden yang melibatkan agen federal di Minnesota, memicu protes di berbagai kota.

Ancaman Nyata bagi Penggemar dan Pemain

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Pekan lalu, koalisi kelompok advokasi imigran mengeluarkan peringatan perjalanan bagi wisatawan, menyoroti beberapa kasus di mana pengunjung berhadapan dengan ICE. 

Direktur Pelaksana ICE, Todd Lyons, bahkan secara terbuka mengatakan agennya akan memainkan "peran kunci" selama turnamen berlangsung—pernyataan yang jelas tidak membantu menenangkan situasi.

Pertanyaan besar pun mengemuka:

Baca juga: 5 Kiper Terbaik Dunia Sepanjang Masa, Urutan 3 Pernah Menangkan Ballon d'OR

  • Akankah penggemar dari negara-negara yang menghadapi larangan perjalanan, seperti Senegal (juara Piala Afrika) atau Haiti (yang lolos Piala Dunia pertama kali dalam 52 tahun), diizinkan masuk?
  • Akankah imigran yang sudah tinggal di AS merasa aman pergi ke stadion?
  • Apakah Piala Dunia ini dirancang tanpa mempertimbangkan para penggemar yang selama puluhan tahun memimpikan momen ini?

Mahalnya Tiket Makin Jauhkan Mimpi

Selain masalah imigrasi, harga tiket yang selangit juga jadi tembok pemisah. Keluarga Anzidei, pendukung fanatik Timnas Argentina, masih ingat bagaimana Piala Dunia 1994 terasa begitu dekat. 

Tiket saat itu terjangkau, memungkinkan keluarga biasa menyaksikan langsung laga terakhir Diego Maradona di tim internasional.

Baca juga: Kapan Sih Waktu Terbaik Berolahraga saat Puasa? Ini Jawabannya!

Sekarang, ceritanya berbeda. Setelah gagal dalam undian tiket FIFA, keponakan Anzidei berkomentar singkat di grup keluarga: "Harga jual kembali mulai seribu dolar. 

Nggak, makasih." Per 11 Februari lalu, tiket pertandingan pembuka Maroko vs Brasil di tribun atas dibanderol mulai $1.495, sementara tiket final di kategori yang sama mencapai $9.775.

Ironi di Negeri Imigran

Di tengah ketidakpastian ini, Anzidei merenungkan ironi yang terjadi. 

Ia melihat sendiri keragaman itu setiap hari dalam perjalanan bus dari New Jersey ke kantornya di Manhattan—melewati kota-kota seperti Union City, North Bergen, West New York, yang dihuni oleh komunitas imigran, lalu melihat skyline New York menjulang.

Baca juga: Pernyataan Vinicius Jr di Medsos, Soroti Rasisme dan Kontroversi Kartu Kuning usai Selebrasi Gol

Ia teringat pesan Montagliani pada 2022: bahwa Piala Dunia ini adalah momen penting bagi wilayah mereka, dan sepak bola adalah benang yang menyatukan para imigran dengan ayah-ayah mereka. 

Namun kini pertanyaan besarnya: apakah momen ini akan menyambut para imigran, atau justru menutup pintu bagi olahraga yang mereka bangun?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Nytimes.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU