Rabu, 01 APRIL 2026 • 16:44 WIB

Spill Dosa-dosa Timnas Italia: Alasan Kenapa Gli Azzurri Layak Hattrick Gagal Lolos Piala Dunia!

Author

Timnas Italia kembali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun usai kalah adu penalti oleh Bosnia & Hergezovina. (REUTERS/Matteo Ciambelli)

INDOZONE.ID - Dunia sepak bola kembali diguncang 'gempa tektonik'. Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, sang juara dunia empat kali, Italia, dipastikan absen dari panggung termegah Piala Dunia 2026

Kegagalan ini menjadi sejarah kelam karena Gli Azzurri menjadi mantan juara pertama yang absen di tiga edisi beruntun (2018, 2022, 2026).

Setelah kekalahan dramatis lewat adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina pada laga final play-off (31 Maret 2026), publik bertanya-tanya: Apa yang salah dengan Italia? 

Berikut adalah bedah faktor-faktor krusial di balik runtuhnya sang raksasa Eropa tersebut:

Baca juga: Daftar 5 Calon Tim Kuda Hitam yang Siap Beri Kejutan di Piala Dunia 2026

1. Petaka Kartu Merah di Momen Krusial

Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. (BBC)

Laga penentuan melawan Bosnia di Zenica sebenarnya dimulai dengan manis lewat gol Moise Kean di menit ke-15. Namun, segalanya berubah menjadi mimpi buruk ketika bek andalan Alessandro Bastoni menerima kartu merah langsung di menit ke-41. 

Bermain dengan 10 orang selama lebih dari 80 menit (termasuk babak tambahan) membuat stamina dan fokus pemain terkuras habis, yang akhirnya berujung pada gol penyeimbang Bosnia di menit ke-79.

2. Kutukan Adu Penalti yang Kembali Menghantui

Bek Italia Alessandro Bastoni lawan Bosnia-Herzegovina. (REUTERS/Amel Emric)

Italia dan adu penalti punya hubungan "benci tapi rindu". Setelah sempat menang di final Euro 2020, memori kelam adu penalti kembali hadir. 

Dalam drama di Stadion Bilino Polje, hanya Sandro Tonali yang berhasil mengeksekusi penalti, sementara Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal menjalankan tugasnya. Kekalahan 1-4 di babak adu penalti menegaskan bahwa mentalitas clutch Italia sedang berada di titik terendah.

Baca juga: Italia Hat-trick Gak Lolos ke Piala Dunia, Gennaro Gattuso: Kami Tidak Pantas Menerima Ini

3. Transisi Kepelatihan yang Terlambat

Gennaro Gattuso saat memimpin sesi latihan Timnas Italia. (REUTERS/Matteo Ciambelli)

Penunjukan Gennaro Gattuso menggantikan Luciano Spalletti terjadi di tengah situasi krisis setelah kekalahan dari Norwegia di fase grup. 

Meski sempat mencatatkan enam kemenangan beruntun, Gattuso mewarisi skuad yang sudah kehilangan kepercayaan diri. Kurangnya waktu untuk membangun sistem permainan yang matang di bawah tekanan kualifikasi membuat Italia tampil gugup di laga-laga penentuan.

4. Ketergantungan pada "Generasi Transisi"

Kekecewaan para pemain Timnas Italia usai gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti atas Bosnia dan Herzegovina (AP)

Italia saat ini sedang mengalami krisis identitas pemain bintang. Tidak ada lagi sosok regista sekelas Andrea Pirlo atau bek selevel Giorgio Chiellini di masa primanya. 

Skuad 2026 ini diisi oleh banyak pemain muda yang belum teruji di turnamen besar. Absennya beberapa pemain kunci seperti Federico Chiesa karena cedera panjang juga membuat variasi serangan Italia menjadi sangat terbaca oleh lawan.

5. Menurunnya Dominasi Klub Serie A di Eropa

Beberapa pemain Timnas Italia. (Instagram/azzurri)

Kondisi tim nasional adalah cerminan liga domestiknya. Gattuso sendiri mengakui bahwa sepak bola Italia sedang dalam fase sulit. 

Di musim 2025/2026, klub-klub Serie A kesulitan berbicara banyak di kompetisi Eropa, dengan hanya Atalanta yang mampu menembus babak 16 besar Liga Champions. Minimnya menit bermain bagi talenta lokal di klub-klub besar Italia disinyalir menjadi akar masalah tumpulnya Gli Azzurri.

Absennya Italia selama 16 tahun dari putaran final Piala Dunia (sejak 2014 hingga setidaknya 2030) adalah sebuah anomali sejarah. 

Sepak bola dunia kehilangan salah satu warna terbesarnya, namun bagi Italia ini adalah sinyal keras untuk melakukan revolusi total pada sistem sepak bola mereka. 

Peluit panjang di Zenica bukan hanya akhir dari sebuah laga, tapi akhir dari sebuah era yang perlu dibangun ulang dari nol!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU