INDOZONE.ID - Organisasi yang mewakili pemain sepak bola profesional di seluruh dunia, FIFPro, kembali menyuarakan kekhawatiran soal padatnya jadwal kompetisi.
Mereka menyebut banyak pemain merasa tidak bebas untuk berbicara secara terbuka, meskipun kebutuhan utama mereka sering diabaikan oleh FIFA.
Sekretaris Jenderal FIFPro, Alex Phillips, menjelaskan bahwa para pemain merasa takut akan konsekuensi jika mereka menyampaikan pendapat.
Tekanan dari klub dan federasi sepak bola membuat mereka memilih diam daripada harus menghadapi risiko yang bisa merugikan karier mereka.
Sekretaris Jenderal FIFPro, Alex Phillips. (Dok. FIFPro)
Dalam beberapa tahun terakhir, kalender pertandingan sepak bola makin padat.
Selain kompetisi domestik dan internasional, FIFA juga menambahkan agenda seperti Piala Dunia Antarklub yang diperluas formatnya. Hal ini semakin membebani kondisi fisik dan mental para pemain.
Salah satu contohnya terjadi pada Chelsea. Klub asal London itu baru saja mengakhiri musim mereka dengan menjuarai Piala Dunia Antarklub 2025.
Namun hanya 35 hari setelahnya, mereka sudah harus kembali turun ke lapangan untuk menjalani pertandingan pertama Premier League melawan Crystal Palace. Jarak yang sangat singkat untuk pemulihan.
Baca juga: Pujian FIFA untuk Keberhasilan Piala Dunia Antarklub 2025 Hanyalah Fiksi Belaka
Phillips mengungkapkan bahwa para pemain sudah mengeluhkan masalah ini kepada FIFPro. Banyak dari mereka merasa kelelahan, namun tidak punya pilihan lain selain terus bermain.
"Para pemain enggan berbicara karena mereka tidak memiliki kekuatan," kata Phillips.
"Secara individu, beberapa mungkin masuk dalam 1% pemain yang kaya. Namun, 99% sisanya tak punya kekuatan, kecuali melalui serikat atau asosiasi mereka."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC Sport