Alpine Endurance Team nomor 35. (Sumber: Frontstretch)
INDOZONE.ID - Bayangin, di satu sudut dunia, sebuah tim sedang pesta besar-besaran merayakan kemenangan bersejarah yang sudah lama diimpikan. Tapi di dunia lain, tim dengan nama yang sama justru menangis di pojokan, terpuruk di dasar klasemen. Inilah plot twist yang dialami Alpine, tim balap asal Prancis yang nasibnya kini terbelah di dua dunia: World Endurance Championship (WEC) dan Formula 1.
Di Sirkuit Fuji Speedway, Alpine Endurance Team baru saja mencetak sejarah. Mereka berhasil meraih kemenangan perdana di ajang WEC. Ironisnya, di saat yang bersamaan, BWT Alpine F1 Team justru berjuang mati-matian sekadar untuk keluar dari posisi juru kunci. Kok bisa nasibnya berbeda jauh?
Balapan ketahanan 6 Hours of Fuji musim ini menjadi saksi momen emas bagi Alpine. Trio pembalap Paul-Loup Chantin, Ferdinand Habsburg, dan Charles Milesi tampil luar biasa di balik kemudi mobil hypercar Alpine A424 bernomor 35. Setelah melahap 202 lap yang super melelahkan, mereka finis di posisi pertama, mengalahkan tim-tim raksasa lain seperti Ferrari, Porsche, dan Toyota.
Ini adalah kemenangan pertama Alpine di kelas tertinggi WEC. Sebuah pencapaian monumental yang membuktikan mereka mampu bersaing dan menang di level dunia. Kemenangan ini menjadi suntikan semangat bagi seluruh keluarga besar Alpine. Mereka membuktikan bahwa DNA juara itu ada. Namun, euforia ini kontras dengan apa yang terjadi di divisi F1 mereka.
Baca juga: Pecah Telor! Pierre Gasly Tampil Solid, Alpine Cetak Poin Perdana di Musim Ini
Kalau di WEC seri Fuji kemarin mereka jadi raja, di F1 nasib Alpine 180 derajat berbeda. BWT Alpine F1 Team saat ini tenggelam di dasar klasemen konstruktor dengan koleksi hanya 20 poin. Angka yang sangat menyedihkan untuk sebuah tim pabrikan.
Mirisnya, semua 20 poin itu disumbangkan oleh satu pembalap saja. Yap, the one and only, Pierre Gasly!
Situasi Gasly bak tokoh Moko (diperankan Chicco Kurniawan) di film 1 Kakak 7 Ponakan. Ia harus berjuang sendirian sambil menggendong beban dan tanggung jawab tim di pundaknya.
Penampilan terbaik Gasly (dan tim) musim ini terjadi di Grand Prix Inggris, di mana ia heroik finis keenam dan membawa pulang 8 poin. Tapi setelah itu? Keran poin Alpine seolah macet total. Mereka belum pernah lagi mencetak satu poin pun, membuat posisi mereka terkunci di dasar klasemen.
BWT Alpine F1 Team. (Sumber: PlanetF1)
Pertanyaannya, kenapa bisa begitu? Bagaimana mungkin tim dengan nama, sumber daya, dan dukungan pabrikan yang sama bisa punya nasib berbeda di dua kejuaraan? Jawabannya terletak pada kompleksitas yang sangat berbeda antara WEC dan F1.
Kemenangan di WEC adalah bukti bahwa brand Alpine punya kapabilitas untuk menjadi juara. Ini angin segar yang bisa mengangkat moral perusahaan. Namun, kemenangan ini tidak otomatis menyelesaikan masalah pelik di F1.
Tantangan di F1 jauh lebih besar dan membutuhkan perombakan fundamental, baik teknis maupun manajemen, terutama menjelang era regulasi baru 2026. Pertanyaannya, apakah kesuksesan di WEC bisa “menular” dan menginspirasi kebangkitan di F1? Atau Alpine akan terus menjalani takdirnya di dua dunia yang kontras ini?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan