TImnas Indonesia (instagram @timnasindonesia)
INDOZONE.ID - John Herdman jadi salah satu kandidat pelatih baru Timnas Indonesia. Jika terpilih, target besar meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030 sudah menantinya.
Mimpi berlaga di Piala Dunia masih mengganjal hingga sekarang. Apalagi, Skuad Garuda gagal mewujudkannya usai gugur di Putaran Keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
John Herdman saat melatih di Toronto FC. (Imagn Images via Reuters/Dan Hamilton)
Kegagalan itu berujung pada pemecatan Patrick Kluivert oleh PSSI pada Oktober lalu. Sejak pemecatan itu, kursi panas pelatih Timnas Indonesia kosong.
Beberapa nama dikaitkan dengan jabatan pelatih Timnas Indonesia, salah satunya John Herdman.
Baca juga: Ini Kekuatan John Herdman yang Diisukan Jadi Pelatih Baru Timnas Indonesia
Pelatih berumur 50 tahun asal Inggris itu identik dengan Kanada yang dilatihnya pada 2018-2023. Bagaimana tidak, ia meloloskan Kanada ke Piala Dunia 2022 sejak terakhir kali mentas di hajatan besar itu pada 1986.
Setelahnya, John Herdman menukangi FC Toronto sejak 1 Oktober 2024. Akan tetapi, ia cuma bertahan di klub tersebut hingga 29 November 2024.
Setelah menganggur, namanya kini dikaitkan dengan Timnas Indonesia. Bahkan, para fans Timnas Indonesia mulai sering memperbincangkannya.
Jika PSSI memilih John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, ia harus siap mempersiapkan Skuad Garuda untuk lolos ke Piala Dunia 2030.
Tugas mudah? Tentu saja, tidak. Itu yang disampaikan pengamat sepak bola nasional, Rizal Pahlevi, kepada INDOZONE.
Ia menilai, beberapa pemain andalan Timnas Indonesia, seperti Thom Haye dan Joey Pelupessy, sudah termakan usia.
Baca juga: John Herdman Rencananya Jadi Melatih Timnas Indonesia, PSSI Disebut Kembali Lakukan Blunder
Namun, karena dikabarkan juga akan menjadi juru taktik kelompok umur, Rizal menilai John Herdman bisa mengintegrasikan para pemain muda yang siap membela Timnas Indonesia senior.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara