Keputusan Wawan Rapiko banyak mengundang tanda tanya/Instagram@perselafc
Pemandangan tidak baik, namun lumrah terjadi di sepakbola Indonesia kembali terjadi dalam lanjutan kompetisi sepakbola Shopee Liga 1 pekan ke 11 antara Persela Lamongan melawan Borneo FC.
Laga yang berakhir sama kuat 2-2 itu berujung dengan kericuhan akibat suasana yang kurang kondusif.
Penyebabnya, kepemimpinan wasit asal Riau, Wawan Rapiko yang kurang tegas dalam membuat keputusan mengenai kartu merah dan tendangan penalti.
Menurut Abdul Haris selaku komentator dan pengamat sepakbola nasional, ada beberapa keputusan Wawan Rapiko yang sudah benar menurut Law Of The Game FIFA namun sayang sikap ketidaktegasan wasit, membuat keputusan itu menjadi terkesan abu-abu.
"Karena yang dia lakukan (Dwi Kuswanto) menanduk pemain lawan itu jelas melakukan tindakan yang bisa dikatakan menyerang. itu kartu merah." kata Abdul Haris ketika mengomentari insiden kartu merah Dwi Kuswanto.
Sementara keputusan Wawan Rapiko yang perlu dikaji ulang menurutnya adalah pemberian kartu merah kepada salah satu pemain Borneo FC, Wahyudi Hamisi yang sebenarnya menjadi "korban" dari tandukan Dwi Kuswanto.
"Soal penalti, jadi kalau kita baca regulasi FIFA, bola masih dalam play on istilahnya, masih dalam bola jalan. dia melakukan pelanggaran di dalam kotak penalti. Itu fix penalti." Jelas Abdul Haris soal insiden penalti.
Yang menjadi sorotan tajam adalah Ketidaktegasan Wawan Rapiko dalam mempertahankan keputusannya yang memakan waktu 25 menit lebih.
Selain itu wasit Wawan Rapiko tidak memberi tindakan tegas kepada pelatih dan official tim yang mencoba mengintervensi keputusannya.
"tindakan wasit ini menjadi bahan perdebatan. Dia (Wawan Rapiko) tidak memberi peringatan kepada official dari Persela termasuk Coach Nil. Itu sebenarnya sudah kartu merah tuh." katanya lagi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: