INDOZONE.ID - Penyerang Manchester United yang kini dipinjamkan ke Barcelona, Marcus Rashford, melontarkan kritik pedas terhadap kondisi klub saat ini.
Menurutnya, Manchester United masih terjebak dalam situasi yang tidak jelas. Sebab, The Red Devils terlalu sering berganti manajer yang masing-masing datang dengan filosofi permainan berbeda.
Rashford terakhir bermain untuk Manchester United pada Desember lalu. Hubungannya dengan Pelatih Ruben Amorim memburuk, berujung peminjamannya ke Aston Villa untuk paruh kedua musim lalu.
Bulan lalu, pemain berusia 27 tahun itu kembali meninggalkan Manchester United. Kali ini, ia bergabung dengan Barcelona dengan status pinjaman.
Baca juga: 33 Menit Debut Gemilang Rashford Bersama Barcelona, Langsung Cetak Assist
Transisi yang Tak Kunjung Dimulai
Jarak yang dekat dari klub, membuat Rashford bisa melihat permasalahan United dari sudut pandang berbeda.
Ia menilai, meskipun orang-orang menyebut United berada dalam masa transisi selama bertahun-tahun, kenyataannya proses tersebut belum benar-benar dimulai.
“Ketika Liverpool mengalami masa sulit, mereka mendatangkan Juergen Klopp dan tetap setia padanya. Mereka tidak langsung menang, tapi punya rencana yang dijalankan konsisten hingga akhirnya bersaing dengan Manchester City dan memenangkan trofi,” ujar Rashford dalam podcast The Rest is Football, Kamis (14/8/2025).
Baca juga: Robert Lewandowski Ungkap Pernah Setuju untuk Bergabung dengan Manchester United
Rashford menegaskan, bahwa untuk memulai transisi dibutuhkan rencana yang jelas dan komitmen penuh untuk menjalankannya.
Menurutnya, United telah berganti terlalu banyak manajer, ide, dan strategi, sehingga klub justru terjebak di wilayah tak bertuan yang membuat perkembangan tim tersendat.
Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, Manchester United belum lagi mengangkat trofi Premier League. Sementara itu, Liverpool berhasil menyamai rekor 20 gelar liga yang sebelumnya dipegang United sendirian.
Kehilangan Identitas Sejak Era Ferguson Berakhir
Pasca Sir Alex Ferguson, kursi pelatih Manchester United bergantian diisi David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Erik ten Hag, dan sekarang Ruben Amorim.
Setiap manajer membawa gaya bermain yang berbeda dan membuat identitas klub semakin tidak jelas.
“Dulu, saat Ferguson memimpin, prinsip permainan tidak hanya berlaku di tim utama, tapi juga di akademi. Semua orang tahu bagaimana bermain ala Manchester United," kata Rashford.
Baca juga: Ruben Amorim Ingin Melatih Manchester United Selama 20 Tahun, Ikuti Jejak Sir Alex Ferguson?
"Klub yang sukses punya prinsip seperti itu, sehingga siapa pun pelatih atau pemainnya, mereka akan menyesuaikan diri,” tambahnya.
Meskipun United masih mampu meraih beberapa trofi setelah Ferguson pensiun, Rashford menilai kesuksesan tersebut lebih dipengaruhi kualitas individu pemain dan kerja keras pelatih pada saat itu, bukan hasil dari sistem yang matang serta konsisten.
Sulit Juara Liga Jika Selalu Berubah
Rashford menilai ambisi United untuk kembali berjaya justru membuat klub sering mengambil keputusan yang bersifat reaktif.
Mereka kerap mengubah strategi atau membeli pemain hanya demi menyesuaikan dengan sistem pelatih yang sedang menjabat.
“Kadang saya merasa United terlalu haus kemenangan. Kami sering mengambil keputusan reaktif yang mengubah strategi atau membeli pemain hanya untuk menyesuaikan dengan sistem pelatih saat itu. Jika arah Anda terus berubah, sulit untuk memenangkan liga,” kata Rashford.
Baca juga: Borong 3 Penyerang Baru, Ruben Amorim Dituntut Bawa Manchester United untuk Segera Bangkit
Ia menambahkan, dalam kondisi seperti itu, United mungkin masih bisa menjuarai turnamen piala.
Keberhasilan tersebut biasanya terjadi karena faktor pelatih yang hebat, pemain berkualitas tinggi, serta pemain individu yang mampu menjadi penentu kemenangan di momen penting.
Dengan situasi yang masih belum jelas, Manchester United perlu segera menemukan identitas permainan dan arah konsisten jika ingin kembali menjadi penguasa Premier League.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Rest Is Football