Jumat, 28 NOVEMBER 2025 • 01:56 WIB

Tidak Lagi Belanja Gila-gilaan, PSG Mulai Andalkan Pemain Akademi di Skuad Utama

Author

Senny Mayulu saat bermain di PSG. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)

INDOZONE.ID - Gol penutup Senny Mayulu di final Liga Champions 2025 saat Paris Saint-Germain menaklukkan Inter Milan bukan hanya memastikan gelar eropa pertama mereka.

Bagi PSG, momen bersejarah itu menandai perubahan dalam cara klub membangun skuadnya.

Setelah lebih dari satu dekade terkenal dengan belanja pemain-pemain bintang, PSG mulai menggeser fokus mereka ke arah yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: 5 Fakta Menarik PSG Juara Liga Champions 2024/25, Trofi Pertama Sepanjang Sejarah Klub!

Investasi Akademi Jadi Fondasi PSG

PSG kini mengandalkan kampus akademi modern senilai 350 juta euro sebagai pusat pengembangan pemain muda.

Fasilitas ini menyatukan tim pria, wanita, dan semua kelompok usia dalam satu ekosistem. Tujuannya jelas: memperkuat jalur pembinaan dan memaksimalkan potensi pemain lokal.

“Hanya ada satu tangga yang harus dinaiki,” ujar Direktur Olahraga PSG, Luis Campos.

Baca juga: Jonny Evans Seharusnya Dipertahankan Ruben Amorim Sebagai Pelatih Akademi Manchester United

“Dalam jangka panjang, kami ingin membentuk skuad tanpa bergantung pada belanja besar dan memiliki identitas yang kuat sebagai tim Prancis,” tambahnya.

Pernyataan itu menjadi gambaran cara baru PSG yang kini lebih menekankan keberlanjutan dan mengembangkan pemain lokal dibanding ketergantungan pada bintang mahal.

Generasi Baru Lulusan Akademi Mulai Ambil Peran

Selebrasi Warren Zaire-Emery saat bermain di PSG (Instagram/@wzairemery6)

Perubahan ini langsung terlihat dalam komposisi tim musim ini.

Ada lima pemain akademi yang sudah resmi naik ke skuad utama: Warren Zaire-Emery, Senny Mayulu, Noham Kamara, Ibrahim Mbaye, dan Quentin Ndjantou.

Keberadaan mereka menegaskan bahwa pembinaan pemain muda PSG berjalan dengan efektif.

Baca juga: Lupakan Kylian Mbappe, PSG Kini Punya Desire Doue yang Bersinar di Liga Champions

Pada Mei lalu, PSG juga menurunkan starting XI termuda sepanjang sejarah klub saat menghadapi Montpellier, dengan rata-rata usia 21 tahun 251 hari.

Bahkan skuad yang sukses meraih gelar Liga Champions tahun ini tercatat sebagai tim termuda kedua sepanjang sejarah kompetisi, hanya sedikit lebih tua dari Ajax Amsterdam 1994-95.

Dua di antara talenta muda ini mencetak rekor tersendiri. Zaire-Emery tampil sebagai starter pada usia 16 tahun 4 bulan 29 hari, sementara Mbaye menyusul debut hanya dua bulan lebih tua darinya.

Keduanya menjadi contoh dari keberanian PSG memberi kesempatan pada pemain akademi untuk bermain di tim utama.

Perubahan Kebijakan

Desire Doue saat juara Liga Champions di PSG. (Pool via Reuters/Frank Fife)

Kebijakan baru ini sangat kontras dengan Qatar Sports Investments (QSI) pada 2011. Saat itu, PSG dikenal sebagai salah satu klub paling boros di Eropa.

Mereka mendatangkan deretan pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Neymar, Kylian Mbappe, hingga Lionel Messi.

Baca juga: Niat Hati Ingin Pensiun di Barcelona, Lionel Messi Kecewa karena Terpaksa Pindah ke Klub Lain

Walaupun saat era tersebut berhasil meraih banyak trofi domestik, gelar Liga Champions yang diimpikan tidak kunjung datang.

Kini, PSG mencoba membangun identitas baru. Bukan lagi sekadar mengumpulkan pemain bintang, melainkan menciptakan pemain bintang yang tumbuh dari akademi klub sendiri.

Dengan akademi sebagai pusat proyek jangka panjang, PSG berharap dapat menciptakan pemain bintang dari akademi dan lebih konsisten untuk jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU