INDOZONE - Laga Liga Primer Inggris (EPL) akan kembali bergulir akhir pekan nanti, setelah sebelumnya tersaji pertandingan piala domestik. Mengikuti hal ini, tersiar kabar tentang penggunan fitur baru di kompetisi ini.
Karena Liga Premier mungkin tidak akan memperkenalkan teknologi Semi-Assisted Offside Technology atau teknologi sistem keputusan semi otomatis (SAOT) hingga tahun depan, karena pengujian sistem terus berlanjut.
Awal tahun ini, klub EPL dengan suara sama memilih untuk menerapkan teknologi itu, yang akan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengecekan, yang rata-rata membutuhkan waktu selama 31 detik.
Pihak EPL berencana untuk melakukan peralihan setelah jeda internasional pada musim gugur, dengan bulan Oktober dianggap sebagai jangka waktu yang paling tepat.
Baca Juga: Teknologi VAR: Menyempurnakan Sepak Bola atau Mengacaukan Suasana?
Namun, dalam informasi terbaru klub pada rapat pemegang saham EPL hari Kamis, diketahui bahwa SAOT belum siap untuk diluncurkan.
Diperkirakan sistem ini baru akan diterapkan pada 2025, karena munculnya pertanyaan tentang validitas penerapannya musim ini.
Serie A adalah liga Eropa pertama yang beralih ke SAOT. Sistem ini diperkenalkan pada Januari 2023, setelah adanya kesalahan VAR yang terkenal di awal musim lalu, yang membuat gol kemenangan Juventus di menit akhir dianulir.
LaLiga menjadi liga top Eropa kedua yang berpindah ke SAOT pada awal musim ini, namun belum ada tanggal pasti untuk penggunaannya.
SAOT menghilangkan elemen manual dalam menempatkan garis pada pemain dan menyamakan kedudukan, menjadikannya lebih cepat dan akurat.
SAOT juga memberikan visualisasi grafis yang jauh lebih baik dari keputusan offside, dibandingkan metode saat ini dalam menampilkan garis pada kamera siaran.
Pekan lalu, bos Leicester City Steve Cooper, mengklaim kesalahan manusia yang parah pada VAR tidak terhindarkan menyusul hasil imbang 2-2 timnya di Crystal Palace.
Leicester unggul 2-0 sebelum striker Palace Jean-Philippe Mateta melihat golnya dinyatakan onside oleh VAR, dan Cooper bersikeras bahwa gol tersebut offside.
“Kesalahan seperti itu seharusnya tidak terjadi dan itulah sebabnya kami ingin beralih ke sistem semi-otomatis,” kata Cooper.
"Kami merasa sangat kecewa karenanya (VAR Manual)," sambungnya.
Pengujian dan analisis ekstensif telah dilakukan sepanjang musim lalu, namun Liga Premier belum yakin bahwa teknologi tersebut sepenuhnya dapat diandalkan dan tidak akan menggunakannya secara langsung hingga teknologi tersebut layak untuk digunakan.
Baca Juga: Kehadiran VAR di Liga 1 Dinilai Berhasil Mengubah Wajah Sepak Bola Indonesia
SAOT pertama kali diperkenalkan oleh UEFA pada babak penyisihan grup Liga Champions 2022-23, dan FIFA juga menggunakannya di Piala Dunia 2022 di Qatar.
Sistem yang digunakan FIFA memiliki chip pada bola untuk meningkatkan akurasi titik tendangan, yang digunakan pada Euro 2024.
Namun Liga Inggris, Italia, Spanyol, dan Champions, akan menggunakan metode AI untuk hasil yang lebih baik.
EPL musim lalu banyak mengalami sejumlah kesalahan pengambilan keputusan offside, seperti gol Brentford ke Arsenal, gol Brighton ke Crystal Palace, dan yang paling menghebohkan adalah tidak disahkannya gol Luiz Diaz Liverpool ke gawang Tottenham.
Semuanya diakibatkan oleh VAR manual yang gagal menganalisa offside atau tidaknya posisi pemain, yang mungkin tidak akan terjadi dengan penerapan SOAT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ESPN