Lewis Hamilton di Ferrari (sumber: XPB Images via Crash.net)
INDOZONE.ID - Kalau kepindahan Lewis Hamilton dari Mercedes ke Scuderia Ferrari awal musim ini diibaratkan drama Korea, sepertinya kita sedang masuk ke episode di mana sang protagonis utama diuji habis-habisan. Momen yang seharusnya jadi dream move malah penuh dengan plot twist tak terduga, dan episode terbarunya di Grand Prix Belanda akhir pekan lalu benar-benar bikin penonton F1 ikut cemas.
Setelah balapan penuh drama di GP Belanda pada Minggu (31/8/2025) malam waktu Indonesia, Ralf Schumacher, mantan pembalap F1, sampai angkat bicara. Adik kandung Michael Schumacher itu bilang kondisi yang dialami juara dunia tujuh kali tersebut “sungguh tragis” untuk disaksikan.
Akhir pekan di Belanda menjadi puncak dari kesulitan Hamilton musim ini. Lagi asyik-asyiknya berjuang di posisi kelima, Hamilton tiba-tiba melakukan kesalahan yang sangat tidak biasa baginya (uncharacteristic error) dan menabrak dinding pembatas. Mobil SF-25 miliknya rusak dan ia pun harus keluar dari balapan.
Baca juga: Lewis Hamilton Finis Posisi 12 di GP Hungaroring, Bernie Ecclestone: Mending Pensiun Aja!
Hal ini menjadikan DNF (Did Not Finish) atau gagal finis pertama Hamilton sejak berseragam Kuda Jingkrak. Selain itu, Hamilton lagi-lagi gagal menyumbangkan poin bagi tim asal Maranello tersebut. Parahnya lagi, pembalap Inggris berusia 40 tahun itu harus “nelangsa” di rumah rival lamanya, Max Verstappen.
Meskipun sedang dalam tren negatif, Hamilton mencoba tetap positif di depan media, mengklaim bahwa ia “senang dengan progresnya.” Namun, pandangan dari luar melihat sebuah cerita berbeda.
Ralf Schumacher (sumber: Crash.Net)
Ralf Schumacher, yang kini aktif sebagai analis F1 untuk Sky Germany, memberikan analisis tajam mengenai situasi Hamilton. Menurutnya, masalah utamanya bukan pada skill atau kecepatan, melainkan pada tekanan mental yang luar biasa.
“Saya perlahan-lahan mulai bingung, karena di satu sisi dia bisa melakukannya (tampil cepat), tapi di sisi lain dia tampaknya berada di bawah tekanan yang sangat besar, dia menekan dirinya sendiri,” ungkap Schumacher, dikutip dari Crash.net.
Schumacher merasa sedih melihat seorang ikon balap seperti Hamilton berada dalam kondisi seperti ini. Ia menegaskan bahwa kecepatan murni sang G.O.A.T tidak hilang, tetapi ada terlalu banyak “gangguan” di sekitarnya yang memengaruhi performanya di lintasan.
“Sungguh tragis saat ini melihatnya seperti ini. Meskipun kecepatannya masih ada, tapi ada terlalu banyak hal yang terjadi di sekitarnya,” tambah Schumacher.
Baca juga: Eks Pembalap Ferrari Sebut Lewis Hamilton Kehilangan 'Senyumnya' Bersama Kuda Jingkrak
Komentar Schumacher menyoroti satu hal, yaitu tekanan menjadi pembalap Ferrari memang tidak main-main. Ekspektasi untuk langsung menang dan mengembalikan kejayaan tim legendaris jelas membebani pundak pembalap berusia 40 tahun itu. Setiap gerakannya, baik di dalam maupun di luar lintasan, selalu berada di bawah sorotan tajam.
Kini, perjalanan Hamilton di Ferrari bukan lagi sekadar tentang balapan, tapi juga tentang pertarungan mental. Akankah ada plot twist bahagia di episode selanjutnya? Atau sang protagonis harus melewati lebih banyak rintangan?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crash.net