Ilustrasi kepemilikan klub-klub sepak bola Eropa. (Dok. Gemini Ai)
INDOZONE.ID - Di balik gemerlap gol Erling Haaland atau selebrasi ikonik para megabintang, ada permainan catur yang jauh lebih mahal di ruang-ruang rapat kedap suara.
Tahun 2026 menjadi saksi bagaimana sepak bola bukan lagi sekadar kompetisi taktik di lapangan, melainkan adu otot finansial antara negara, dinasti pengusaha, dan konsorsium raksasa.
Selamat datang di era "Sultan" sepak bola, di mana trofi sering kali dimulai dari tanda tangan di atas cek bernilai triliunan rupiah.
Berikut adalah pemetaan para "penguasa langit" sepak bola dunia dan bagaimana mereka mendefinisikan ulang aturan main di industri ini.
Baca juga: Kebelet Pipis di Tengah Pertandingan: Aksi Nekat Bintang Lapangan Hijau dan Aturan Tegas FIFA
Klub bukan lagi sekadar hobi, melainkan alat diplomasi dan soft power bagi negara-negara kaya.
Public Investment Fund (PIF) - Newcastle United
Dengan aset yang dikelola mencapai lebih dari 900 miliar USD, Arab Saudi melalui PIF telah menyulap Newcastle menjadi raksasa yang menakutkan. Mereka tidak hanya membeli pemain, tapi juga membangun infrastruktur kota.
Qatar Sports Investments (QSI) - PSG
Meski mulai melakukan diversifikasi investasi ke klub lain (seperti saham di Braga), pengaruh Doha tetap menjadi standar emas dalam hal dukungan finansial masif di Eropa.
City Football Group (CFG) - Manchester City
Di bawah naungan Sheikh Mansour dari UEA, CFG telah membangun imperium global yang mencakup belasan klub di seluruh benua, menciptakan ekosistem transfer internal yang sulit ditembus.
Baca juga: Driver Ojol Ketiban Rezeki, Antar Pesanan ke Pemain Persib
Berbeda dengan SWF yang berbasis dana negara, para miliarder AS melihat klub sebagai aset investasi yang harus "diperah" valuasinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan