INDOZONE.ID - Atlet kembar panjat tebing Indonesia, Raviandi Ramadhan dan Ravianto Ramadhan, membagikan kisah perjalanan mereka dalam menekuni olahraga panjat tebing sejak kecil dalam sebuah wawancara di kantor Indozone, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026).
Raviandi dan Ravianto mengaku olahraga panjat tebing bukan hal asing di lingkungan keluarga mereka. Keduanya terinspirasi dari sosok sang paman dan bibi yang lebih dulu berkarier sebagai atlet panjat tebing profesional. Dari situlah mereka mulai akrab dengan olahraga ekstrem tersebut sejak usia dini.
“Kebetulan om dan tante kami atlet. Akhirnya kami memutuskan jadi atlet profesional pas masih SD sampai umur belasan tahun. Kalau dihitung sekarang, mungkin sudah sekitar 24 tahun kenal dunia panjat tebing ini,” ujar mereka.
Masa kecil keduanya juga diwarnai dengan latihan sederhana di rumah keluarga mereka di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Saat itu, fasilitas latihan panjat tebing modern seperti yang kini banyak ditemukan di pusat perbelanjaan belum populer.
Baca juga: Ronaldo Pimpin Bruno Fernandes Cs, Portugal Resmi Umumkan Skuad Piala Dunia 2026
Si kembar kelahiran Jakarta 26 November 2002 itu mengatakan, paman dan bibi membangun fasilitas latihan secara mandiri di lantai dua rumah. Meski tempatnya tidak terlalu luas, area tersebut menjadi lokasi pertama mereka mengenal panjat tebing jauh lebih dekat.
Awalnya, Raviandi dan Ravianto hanya menonton latihan anggota keluarga mereka tanpa benar-benar tertarik untuk ikut mencoba. Namun, ketertarikan mulai muncul ketika mereka mencoba memanjat secara langsung.
“Awalnya cuma lihat-lihat mereka latihan saja, belum yang benar-benar suka. Tapi setelah coba manjat bareng, ternyata seru dan menarik,” kata mereka.
Rasa takut sempat menjadi tantangan tersendiri saat pertama kali mencoba panjat tebing. Menurut keduanya, ketakutan jatuh merupakan hal yang wajar, apalagi saat masih kecil dan harus memanjat di ketinggian tertentu.
Baca juga: Pep Guardiola akan Berbicara dengan Petinggi Manchester City Terkait Rumor Kepergiannya
Mereka kemudian mulai mencoba arena panjat yang lebih tinggi di Plaza Festival dengan ketinggian sekitar 15 meter. Meski begitu, rasa takut ternyata masih tetap ada hingga sekarang.
“Awalnya pasti takut, namanya juga anak kecil. Sampai sekarang pun kadang masih ada rasa takut jatuh. Tapi justru itu letak seru dan tantangannya,” ujar mereka.
Untuk mengatasi rasa takut tersebut, Raviandi dan Ravianto menekankan pentingnya prosedur keamanan dalam olahraga panjat tebing. Mereka menjelaskan bahwa setiap atlet selalu menjalani safety check ketat sebelum memanjat, terutama pada nomor lead yang menggunakan tali pengaman.
Selain itu, keberadaan tim pengaman di bawah arena panjat juga membuat mereka lebih percaya diri saat bertanding maupun latihan. Menurut keduanya, pengalaman dan jam terbang yang tinggi secara perlahan membantu mengurangi rasa takut itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung