Presiden FIFA, Gianni Infantino. (REUTERS/Eduardo Munoz)
INDOZONE.ID - Presiden FIFA Gianni Infantino membalas kritik yang ditujukan kepada penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Menurutnya, para pengkritik itu hanya bisa menyebarkan kebencian dan informasi menyesatkan, sedangkan FIFA menghadirkan kebahagiaan untuk semuanya.
Melalui surat terbuka yang diunggah di akun Instagram-nya pada Senin (27/7/2026), Infantino menyebut para pengkritik gagal melihat kegembiraan yang telah dirasakan jutaan penggemar sepak bola selama gelaran Piala Dunia 2026.
"Maaf jika kalian begitu dipenuhi kebencian dan kritik hingga melewatkan semua hal luar biasa yang terjadi," tulis Infantino, yang secara langsung menyindir para jurnalis dan pihak-pihak yang mengkritik penyelenggaraan turnamen.
Baca juga: Benarkah FIFA Cabut Kartu Merah Leandro Paredes? Ini Fakta Sebenarnya
Lebih lanjut katanya, para pengkritik cuma bisa bersembunyi di belakang layar dengan menyebarkan kebencian dan rumor palsu. Sementara FIFA bekerja keras di garis depan untuk menyukseskan Piala Dunia 2026.
"Saat kalian memecah belah, kami justru mempersatukan."
Infantino juga mengklaim Piala Dunia 2026 berlangsung tanpa kekerasan maupun insiden berarti.
"Tidak ada kekerasan, tidak ada insiden. Keamanan terjamin 100 persen."
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan pemerintah, aparat keamanan, dan para relawan di tiga negara tuan rumah.
Ia juga menyebut sekitar 7 juta penonton dari lebih dari 200 negara hadir langsung di stadion selama turnamen berlangsung, sementara miliaran orang lainnya menyaksikan pertandingan melalui siaran di berbagai belahan dunia.
"Setiap kota dipenuhi suporter dari seluruh dunia. Ketika mereka merayakan sepak bola, kalian justru sibuk menebar benih kebencian."
Piala Dunia 2026 memang diwarnai berbagai isu, mulai dari harga tiket yang terlalu mahal, ketegangan geopolitik, konflik internasional hingga suhu panas di negara tuan rumah.
Isu visa juga menjadi sorotan, terutama terkait keikutsertaan Iran di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat, krisis yang terjadi di Haiti, hingga wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.
Salah satu kasus yang paling banyak mendapat perhatian adalah wasit asal Somalia, Omar Artan, yang gagal memasuki Amerika Serikat setelah ditolak akibat kebijakan imigrasi ketat pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Anadolu