INDOZONE.ID - Kepergian Diogo Jota menjadi duka mendalam yang mengguncang sepak bola. Pemain Timnas Portugal yang dikenal sebagai sosok pekerja keras, rendah hati, dan penuh dedikasi ini, meninggalkan dunia pada usia 28 tahun.
Pada usia tersebut, seharus ia tengah berada di puncak kariernya sebagai pesepak bola profesional dan handal.
Tidak hanya sebagai pemain top yang bersinar bersama Liverpool dan Timnas Portugal, Jota juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan dekat dengan siapa saja.
Kisah hidup dan kepribadiannya, meninggalkan jejak mendalam di hati rekan setim, pelatih, dan para penggemar di seluruh dunia.
Diogo Jota Pribadi yang Sederhana
Diogo Jota dikenal bukan hanya karena ketajamannya di depan gawang, tetapi juga karena kerendahan hatinya.
Meskipun menjadi bagian dari skuad bintang seperti Liverpool dan Timnas Portugal, Jota tidak pernah menampilkan diri sebagai pribadi yang super star. Ia lebih memilih menjadi pribadi yang membumi.
Baca juga: Diogo Jota Meninggal Dunia, Cristiano Ronaldo: Kami Semua Akan Merindukanmu
Salah satu kisah yang membuktikan kesederhanaannya terjadi, usai mencetak gol untuk Wolverhampton Wanderers pada tahun 2019.
Alih-alih menikmati kemewahan, Jota berjalan kaki sejauh satu kilometer menuju stasiun bersama keluarganya di tengah kerumunan suporter.
Bagi banyak orang, ia bisa saja tampak seperti penonton biasa, tapi itulah cerminan siapa dirinya sebenarnya.
Momen Tak Terlupakan Bersama Liverpool dan Timnas Portugal
Karier Jota bersama Liverpool dihiasi banyak momen bersejarah. Gol debutnya melawan Arsenal di Anfield, hattrick di Liga Champions ke gawang Atalanta, hingga dua gol ke gawang Arsenal yang mengantar Liverpool ke final Piala Liga 2022, semua menjadi bagian dari warisannya.
Salah satu momen paling emosional adalah, gol terakhirnya untuk Liverpool sebagai penentu kemenangan dalam derby Merseyside musim lalu.
Baca juga: Diogo Jota Meninggal Dunia Usai Unggah Video Pernikahan: Hari yang Tak Akan Pernah Kami Lupakan
Gol itu menjadi titik balik dalam perjuangan Liverpool meraih gelar Premier League, sekaligus menjadi penanda betapa pentingnya peran Jota dalam perjalanan Liverpool.
Setelah itu, ia membawa Portugal menjuarai UEFA Nations League dan menikahi kekasih lamanya, Rute Cardoso. Di saat hidupnya tampak berada dalam fase paling membahagiakan, takdir berkata lain.
Karier yang Dibangun dengan Kerja Keras
Jota memulai karier profesionalnya bersama Pacos de Ferreira di Liga Portugal, sebelum menarik perhatian Atletico Madrid.
Namun, kariernya mulai berkembang saat dipinjamkan ke FC Porto di usia 20 tahun. Di sana, ia dilatih Nuno Espírito Santo, sosok pelatih yang kemudian menjadi kunci dalam perjalanan karier Jota.
Nuno membawa Jota ke Wolverhampton dan sejak itu kontribusinya di Wolves luar biasa. Bersama Ruben Neves, Helder Costa, dan Pedro Goncalves, Jota mengantarkan Wolves promosi ke Premier League, dan kemudian menjadi tim yang disegani di Premier League.
Ia dikenal sebagai pemain versatile yang bisa bermain di semua posisi lini depan, dengan memiliki naluri mencetak gol tinggi, dan selalu tampil disiplin.
Tidak heran, jika Liverpool menjadikannya rekrutan yang memberikan dampak dan mengandalkannya di beberapa pertandingan besar.
Jota Adalah Pemain Rendah Hati
Bagi jutaan suporter, Diogo Jota lebih dari sekadar pesepak bola, ia adalah inspirasi. Seorang pemain yang membuktikan, kerja keras, rendah hati, dan profesionalisme bisa membawa seseorang dari pinggiran Porto ke Liverpool yang merupakan salah satu klub terbesar di dunia.
Jota pernah menggambarkan dirinya sebagai "anak kecil dari Gondomar, tempat saya bermimpi." Kini, mimpi itu telah ia wujudkan.
Baca juga: Diogo Jota Meninggal Dunia, Jurgen Klopp Kehilangan: Saya Patah Hati!
Namun, lebih dari sekadar gelar dan gol, ia akan dikenang sebagai sosok yang menyentuh banyak hati lewat sikap dan kepribadiannya.
Kehilangan Diogo Jota meninggalkan luka bagi sepak bola. Tapi, warisan yang ia tinggalkan di lapangan dan di luar lapangan akan terus hidup.
Terlebih, perjuangannya selama ini, bisa menginspirasi generasi baru yang mencintai sepak bola bukan hanya karena keindahan permainannya, tetapi juga karena manusia hebat di baliknya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Telegraph