Rabu, 01 OKTOBER 2025 • 14:00 WIB

Dulu Ngefans Berat, Kini Carlos Sainz Jr. Anggap Lewis Hamilton Cuma Rival: Ferrari Nyesel Nggak, Nih?

Author

Carlos Sainz Jr. dan Lewis Hamilton (sumber: XPB Images via Crash.net)

INDOZONE.ID - Buat sebagian orang, bertemu atau bahkan bersaing dengan idola hanyalah mimpi. Namun, di dunia Formula 1 yang superkompetitif, mimpi itu bisa jadi kenyataan sekaligus menjadi rivalitas paling sengit. Hal inilah yang dirasakan Carlos Sainz Jr., yang tumbuh besar dengan poster Lewis Hamilton di dinding kamarnya, dan kini harus melawannya di trek setiap akhir pekan.

Kisah ini semakin dramatis karena Hamilton adalah orang yang mengambil alih kursinya di Ferrari untuk musim 2025. Namun, plot twist-nya, Sainz yang “terbuang” justru tampil lebih gacor dan tampak bahagia bersama tim Williams. Momen ini memicu satu pertanyaan besar di paddock F1: apakah Ferrari mulai menyesali keputusan mereka?

Dari Poster di Dinding Jadi Saingan di Trek

Hubungan Sainz dan Hamilton punya cerita panjang. Pembalap asal Spanyol ini blak-blakan mengakui bahwa dulu ia ngefans berat dengan Hamilton. Bagaimana tidak? Saat Hamilton meraih gelar juara dunia pertamanya bersama McLaren pada 2008, Sainz baru berusia 12 tahun dan sedang serius-seriusnya menonton F1.

“Ketika saya berusia 10 tahun, dia tiba di Formula 1 dan menjadi juara dunia pada 2008. Saya berumur 12 tahun, dan saat itulah saya mulai menonton F1, ketika dia balapan melawan Fernando Alonso, Felipe Massa, dan semuanya,” kenang Sainz, dikutip dari Radio 1 Breakfast with Greg James.

“Dia dulu adalah salah satu idola saya dan orang yang saya panuti, tapi sekarang dia adalah salah satu pesaing saya, 10 atau 15 tahun kemudian,” lanjutnya.

Sainz menegaskan, dalam dunia F1 yang kejam, tidak ada ruang untuk mengidolakan lawan di trek. Begitu helm terpasang, semua pembalap adalah target yang harus dikalahkan.

“Bagi saya, jujur, ini karena dia adalah pesaing saya. Tetapi jika saya tidak berada di F1, dia akan menjadi salah satu idola saya,” jelasnya.

Baca juga: Eks Tim Prinsipal Haas Sebut Carlos Sainz Jr. Menyesal Pilih Williams Ketimbang Audi

Ditikung Hamilton, Sainz Justru “Menyala” Bersama Williams

Charles Leclerc dan Carlos Sainz Jr. (Hamad I Mohammed)

Karier Sainz di Ferrari harus berakhir lebih cepat setelah tim Kuda Jingkrak membuat gebrakan dengan merekrut Hamilton dari Mercedes. Keputusan ini membuat Sainz terlempar ke pasar pembalap tanpa kursi untuk 2025. Setelah menerima beberapa tawaran, ia akhirnya berlabuh di tim legendaris Williams.

Banyak yang mengira ini adalah sebuah penurunan karier. Namun, Sainz membuktikan bahwa mereka salah besar. Momen pembuktian terbesarnya datang di Grand Prix Azerbaijan beberapa minggu lalu. Saat mobil Ferrari yang dikendarai Hamilton terseok-seok, Sainz dengan brilian berhasil finis di posisi ketiga, meraih podium perdananya bersama Williams.

Di sisi lain garasi, Hamilton hanya mampu finis di posisi kedelapan, satu strip di depan rekan setimnya, Charles Leclerc. Sebuah akhir pekan yang suram bagi Ferrari, dan perayaan besar bagi Sainz dan Williams. Hingga balapan ke-17 musim ini, Hamilton bahkan belum sekalipun naik podium dengan mobil merahnya.

Saat ditanya soal perbandingan performanya dengan Hamilton, Sainz menunjukkan kelasnya.

“Apa yang dilakukan orang lain sejujurnya bukan urusan saya. Yang saya pedulikan adalah bahwa kesempatan pertama saya untuk mencetak podium dengan Williams, kami mengambilnya, kami mencetaknya, dan itulah hasilnya.”

Eks Tim Prinsipal Haas Malah “Ngomporin”

Situasi ironis ini tidak luput dari perhatian Guenther Steiner, mantan tim prinsipal Haas yang terkenal dengan komentarnya pedas dan blak-blakan. Menurutnya, pasti ada orang di dalam Ferrari yang mulai menyesali keputusan menukar Sainz dengan Hamilton.

“Saya pikir beberapa orang di tim merasa begitu (menyesal),” kata Steiner, dikutip dari Crash.net.

“Manajemen tentu tidak bisa merasa menyesal karena itu berarti mengakui kesalahan. Tapi saya yakin beberapa orang di sana merasa menyesal, karena Ferrari finis kedelapan dan kesembilan di Baku (Grand Prix Azerbaijan). Carlos Sainz, sekarang dengan Williams, finis ketiga,” lanjut Steiner.

Baca juga: Drama di Balik Kepindahan ke Williams, Manajer Carlos Sainz Jr.: Kayak Main Catur!

Steiner menambahkan bahwa dengan Sainz, Ferrari memiliki “paket komplit” yang sudah terbukti bisa diandalkan dan tidak banyak drama. Sebaliknya, performa Hamilton yang belum maksimal justru membawa “keresahan” ke dalam tim.

“Tim bisa fokus pada balapan dan membuat segalanya lebih baik, daripada selalu mencoba mencari tahu mengapa Lewis (Hamilton) tidak menyukai mobilnya,” jelas Steiner.

“Belum lagi investasinya. Saya cukup yakin jauh lebih tinggi dengan Lewis daripada dengan Carlos (Sainz Jr.),” pungkasnya.

Kisah Carlos Sainz adalah bukti nyata bahwa di F1, talenta dan mental baja bisa mengalahkan segalanya. Ia mengubah situasi sulit menjadi panggung pembuktian diri. Pertanyaannya sekarang, apakah Ferrari benar-benar salah langkah? Dan mampukah Hamilton membalikkan keadaan serta membuktikan bahwa Ferrari tidak salah pilih?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU