INDOZONE.ID - Sisi gelap media sosial kembali menodai sportivitas di ajang Formula 1 (F1). Kali ini, korbannya adalah wonderkid sekaligus pembalap rookie tim Mercedes, Kimi Antonelli.
Pembalap muda yang digadang-gadang sebagai bintang masa depan ini harus menghadapi gelombang kebencian yang tidak masuk akal pasca-Grand Prix Qatar pada akhir pekan lalu.
Situasi tersebut menjadi sangat serius hingga Federasi Otomotif Internasional (FIA) merasa perlu turun tangan secara langsung untuk melindungi kesehatan mental dan keselamatan sang pembalap.
Insiden bermula dari sebuah momen di lintasan balap yang sebenarnya sangat lumrah terjadi.
Baca juga: Diogo Dalot Bangga Bisa Capai 150 Pertandingan Premier League Bersama Manchester United
Antonelli, yang sedang berjuang mempertahankan posisinya di P4, mengalami oversteer alias kehilangan kendali pada bagian belakang mobilnya.
Kesalahan teknis ini membuka celah lebar bagi Lando Norris untuk menyalipnya dengan mudah.
Namun, apa yang terjadi di lintasan ternyata diterjemahkan berbeda oleh narasi konspirasi di luar trek.
Narasi Panas Helmut Marko Pemicu Serangan Netizen
Api kemarahan netizen yang terjadi ternyata tidak muncul begitu saja.
Gelombang hujatan ini disinyalir kuat dipicu oleh komentar kontroversial dari penasihat Red Bull Racing, Helmut Marko.
Dengan gaya bicaranya yang seringkali blak-blakan dan terkesan "nyelekit", Marko menuding bahwa kesalahan Antonelli bukanlah ketidaksengajaan.
Baca juga: Carlos Baleba Dinilai Terlalu Mahal dan Belum Tentu Cocok di Manchester United
Ia melemparkan tuduhan serius bahwa Antonelli "sengaja" memberikan jalan kepada Lando Norris untuk memuluskan langkah pembalap McLaren tersebut menjadi juara dunia, sekaligus menjegal Max Verstappen, yang saat itu memenangkan balapan, dalam perebutan gelar juara dunia musim ini.
Sinyal "SOS" di Media Sosial Antonelli
Pernyataan yang dilontarkan Marko seolah menjadi bensin yang disiramkan ke api. Para penggemar fanatik yang termakan narasi tersebut langsung menyerbu akun media sosial Antonelli.
Kolom komentar pembalap muda Italia tersebut dipenuhi dengan ujaran kebencian, cacian, hingga yang paling mengerikan sampai ancaman pembunuhan.
Tekanan mental yang diterima Antonelli tampaknya sangat berat.
Baca juga: Suka Makan, Szczesny Akui Pernah Memegang Rekor Lemak Tubuh Terbanyak di Barcelona
Sebagai bentuk protes diam atau mungkin tanda kekecewaan mendalam, Antonelli terlihat menghapus foto profil media sosialnya dan menggantinya dengan latar hitam polos.
Sebuah sinyal "SOS" yang sunyi namun sangat ngena bagi siapa saja yang memahami isu kesehatan mental.
FIA Turun Tangan: "Stop Online Abuse!"
Melihat situasi yang sudah melampaui batas kewajaran, FIA akhirnya mengambil langkah tegas. Badan pengelola balapan dunia tersebut tidak tinggal diam melihat salah satu pembalap mudanya dihancurkan secara mental oleh publik.
Melalui akun media sosial resminya, FIA mengunggah sebuah pernyataan grafis bertajuk "UNITED AGAINST ONLINE ABUSE".
Dalam unggahan tersebut, FIA menyertakan pesan solidaritas yang sangat kuat dan menohok bagi para pelaku perundungan.
"We stand in support of Kimi Antonelli and urge the wider community, online and offline, to treat drivers, teams, officials and the whole sporting ecosystem with the respect and compassion that they deserve." tulis FIA di postingannya.
Baca juga: Florian Wirtz Cuma Punya Waktu hingga Natal untuk Buktikan Diri di Liverpool
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa FIA berdiri tegak mendukung Kimi Antonelli.
Mereka mendesak seluruh komunitas, baik di dunia maya maupun nyata, untuk memperlakukan pembalap, tim, ofisial, dan seluruh ekosistem olahraga dengan rasa hormat dan kasih sayang yang pantas mereka dapatkan.
Caption singkat "We stand in support of Kimi Antonelli" yang menyertai unggahan tersebut menjadi penegasan bahwa tidak ada tempat bagi toksisitas dalam olahraga yang kita cintai ini.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi kita semua, terutama generasi muda penikmat F1, bahwa di balik helm dan mobil super cepat itu, para pembalap adalah manusia biasa yang memiliki perasaan.
Kritik terhadap performa adalah hal wajar, namun ancaman terhadap nyawa adalah tindakan kriminal yang tidak bisa ditoleransi atas nama fanatisme semata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan