7 Pesepakbola yang Pensiun dengan Alasan Paling Tak Masuk Akal, Ada yang Takut Kiamat!
INDOZONE.ID - Biasanya, pesepakbola memutuskan gantung sepatu karena faktor usia yang sudah senja, cedera parah yang tak kunjung sembuh, atau kontrak yang tidak diperpanjang. Namun, dunia sepak bola selalu punya cerita unik yang di luar nalar.
Beberapa pemain justru memilih berhenti saat masih di puncak karier atau karena alasan personal yang sangat tidak biasa, mulai dari takut kiamat hingga lebih memilih musik rock.
7 Pesepakbola yang Pensiun dengan Alasan Paling Tak Masuk Akal
Berikut adalah daftar judul dan artikel mengenai 7 pesepakbola dengan alasan pensiun paling aneh sepanjang sejarah:
Baca juga: Wrexham Kian Dekat untuk Wujudkan Mimpinya Promosi ke Premier League usai Kalahkan Blackburn Rovers
1. Carlos Roa (Takut Kiamat)
Kiper timnas Argentina yang bersinar di Piala Dunia 1998 ini melakukan hal yang mengejutkan dunia pada tahun 1999. Di tengah incaran klub-klub besar seperti Manchester United, Roa memilih pensiun di usia 30 tahun.
Alasannya? Ia yakin dunia akan kiamat pada tahun 2000 dan ingin fokus beribadah serta mempersiapkan diri menghadapi akhir zaman. Meski akhirnya sempat kembali bermain setelah kiamat tidak terjadi, kariernya tidak pernah sama lagi.
2. Wendell Lira (Ingin Jadi Atlet eSports)
Nama Wendell Lira sempat meroket saat ia memenangkan Puskas Award 2015 (gol terbaik dunia), mengalahkan Lionel Messi. Namun, setahun kemudian, di usia yang baru 27 tahun, ia memutuskan pensiun.
Bukannya pindah ke klub besar, Lira justru memilih menjadi pemain profesional game FIFA (eSports) dan fokus mengelola saluran YouTube. Ia mengaku bahwa kecintaannya pada video game lebih besar daripada sepak bola lapangan hijau.
Baca juga: 5 Pelatih Timnas Indonesia dengan Masa Jabatan Tersingkat: Ada yang Cuma 46 Hari!
3. Dani Osvaldo (Lebih Memilih Musik Rock)
Osvaldo adalah penyerang berbakat yang pernah membela klub-klub besar seperti Juventus, AS Roma, dan Inter Milan. Pada tahun 2016, saat usianya baru 30 tahun dan mendapat tawaran gaji besar dari klub di Liga Italia, ia menolak semuanya.
Osvaldo memilih pensiun karena ingin fokus mengejar impian masa kecilnya: menjadi vokalis band rock bernama Barrio Viejo. Baginya, kebebasan bermusik jauh lebih berharga daripada latihan fisik yang melelahkan.
4. Lars Elstrup (Bergabung dengan Sekte)
Pahlawan Denmark saat menjuarai Euro 1992 ini pensiun di usia 30 tahun dengan alasan spiritual yang sangat ekstrem. Elstrup memilih bergabung dengan sebuah sekte/aliran spiritual bernama Wild Goose.
Setelah pensiun, ia sering melakukan aksi-aksi aneh, termasuk melakukan aksi telanjang di tengah lapangan saat sebuah pertandingan berlangsung sebagai bentuk "pencerahan spiritual".
5. David Bentley (Bosan dengan Sepak Bola Modern)
Pernah digadang-gadang sebagai "The Next David Beckham", David Bentley mengejutkan publik saat pensiun di usia 29 tahun. Alasannya sangat jujur namun aneh bagi banyak orang: ia merasa sepak bola sudah membosankan dan terlalu mekanis (seperti robot).
Bentley mengaku sudah kehilangan gairah sejak uang mulai mendominasi permainan dan ia lebih memilih mengelola bisnis restoran di Spanyol.
6. Arjan de Zeeuw (Menjadi Detektif Polisi)
Bek asal Belanda yang merupakan legenda Wigan Athletic ini memiliki alasan pensiun yang sangat mulia sekaligus unik. Setelah gantung sepatu, ia tidak mengambil lisensi kepelatihan atau menjadi komentator.
De Zeeuw justru menempuh pendidikan kepolisian dan kini bekerja sebagai detektif forensik spesialis narkoba di Belanda. Ia mengaku mengejar penjahat memberikan adrenalin yang sama dengan menjaga striker lawan.
7. Eric Cantona (Kehilangan Imajinasi)
Sang legenda Manchester United ini pensiun saat masih berada di puncak performa pada usia 30 tahun. Cantona tidak cedera, ia hanya merasa tidak lagi mendapatkan tantangan.
Dalam pernyataannya yang puitis, ia merasa sudah kehilangan gairah dan imajinasi untuk bermain. Ia kemudian beralih ke dunia akting dan perfilman, merasa bahwa layar lebar adalah panggung baru yang lebih menarik daripada lapangan hijau.
Sepak bola memang bukan sekadar permainan di atas rumput, tapi juga soal gairah dan pilihan hidup. Bagi para pemain ini, kebahagiaan sejati ternyata tidak selalu ditemukan di dalam stadion yang penuh sorakan penonton.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan