Menyimpan Luka di Balik Kemudi: Pierre Gasly dan Penyesalan Terakhir untuk Mendiang Sahabatnya
INDOZONE.ID - Dunia Formula 1 (F1) sering kali dilihat sebagai panggung glamor yang dipenuhi kecepatan dan adrenalin.
Namun, di balik helm dan baju balap yang tebal, para pembalap tetaplah manusia biasa yang memiliki hati dan kerentanan.
Hal inilah yang diungkapkan oleh pembalap tim Alpine, Pierre Gasly, saat ia membuka kembali lembaran kelam dalam hidupnya berupa kehilangan sahabat karibnya, Anthoine Hubert.
Hubert bukan hanya sebagai rekan sesama pembalap bagi Gasly.
Mereka tumbuh bersama di lintasan gokart, berbagi mimpi yang sama untuk menembus ajang balap tertinggi.
Baca juga: Mengenal Triathlon: Pengertian, Urutan Disiplin, dan Sejarah Panjangnya
Namun, takdir berkata lain. Hubert meninggal dunia secara tragis dalam kecelakaan fatal pada lap kedua balapan Formula 2 (F2) di Sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia, pada tahun 2019 silam.
Dalam sebuah perbincangan mendalam bersama Lawrence Barretto di seri Off The Grid F1.com, Gasly menuturkan sebuah penyesalan yang hingga kini masih menghantuinya.
Penyesalan itu bukan tentang balapan, melainkan tentang momen perpisahan terakhir yang ia lakukan dengan mendiang Hubert sebelum kecelakaan merenggut nyawanya.
Gasly mengenang momen di Budapest, Hungaria, sesaat sebelum jeda musim panas dan sebelum tragedi di Belgia terjadi.
Kala itu, setelah balapan usai, mereka pergi berpesta bersama. Gasly, yang tidak ingin pulang terlalu larut, memutuskan meninggalkan pesta lebih awal.
Baca juga: Cara Melakukan Gerakan Meroda dalam Senam: Pengertian, Teknik Dasar, dan Variasi Tingkat Lanjut
Saat ia berjalan keluar klub, ia melihat Hubert sedang berada di teras.
"Saya hanya melambaikan tangan padanya dan berkata 'dadah, selamat menikmati musim panas, sampai jumpa di Belgia'," kenang Gasly dengan nada getir.
Siapa sangka, lambaian tangan sederhana itu menjadi interaksi terakhir mereka.
Gasly mengaku sangat menyesal tidak menyempatkan waktu sedikit lebih lama untuk setidaknya memeluk sahabatnya atau mengucapkan salam perpisahan yang lebih hangat.
Beban emosional Gasly kala itu sungguh tak terbayangkan.
Baca juga: Timnas Indonesia akan Berkompetisi di ASEAN Cup 2026, John Herdman Pastikan Turunkan Pemain Lokal
Tragedi kematian Hubert terjadi hanya beberapa hari setelah Gasly menerima pukulan telak dalam karirnya, yakni diturunkan dari tim utama Red Bull kembali ke Toro Rosso (sekarang Racing Bulls).
Mentalnya sedang diuji habis-habisan, dan kematian sahabatnya menjadi pukulan yang meremukkan hati.
Gasly menceritakan detik-detik mengerikan saat ia mengetahui kabar duka tersebut.
Awalnya, ia melihat kecelakaan dan bendera merah saat menonton balapan F2, namun belum mengetahui siapa yang terlibat.
Ketika manajer tim memberitahunya bahwa Hubert terlibat, Gasly bergegas turun ke area hospitality untuk mencari informasi.
Baca juga: Tak Langsung Rombak Tim, Ini Strategi Awal John Herdman di Timnas Indonesia
Pemandangan yang ia temui di sana langsung memberinya jawaban yang paling ia takutkan.
Ia melihat kedua orang tua Hubert menangis tersedu-sedu. Seketika itu juga, ia paham bahwa sahabatnya telah tiada.
"Rasanya hanya sakit. Ini bukan pertama kalinya saya harus melalui emosi seperti ini dengan teman terdekat. Dua tahun sebelumnya saya kehilangan teman dari kampung halaman, dan dua tahun kemudian, itu terjadi pada Anthoine (Hubert)," ungkap Gasly.
Ironisnya, Gasly harus tetap profesional. Hanya 18 jam setelah kehilangan sahabatnya, ia harus kembali ke kokpit untuk menjalani balapan F1-nya.
Di tengah duka yang mendalam, ia harus menghadapi pertanyaan media yang terus mencecarnya tentang penurunan posisinya dari Red Bull, seolah-olah duka yang ia rasakan tidak ada artinya dibandingkan drama bursa transfer pembalap.
Baca juga: John Herdman Beberkan Cara Satukan Pemain Diaspora dan Lokal di Timnas Indonesia
Bagi Gasly, butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar memproses kejadian tersebut dan menerima kenyataan hidup yang pahit.
Ia menyadari bahwa sekolah dan orang tua mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, namun tidak ada yang pernah mengajarkan bagaimana cara menghadapi diri sendiri saat hancur lebur dalam situasi seperti itu.
Kini, sebagai bentuk penghormatan abadi, Gasly rutin mengorganisir kegiatan lari tahunan di Spa-Francorchamps.
Sebuah ritual sunyi untuk mengenang Anthoine Hubert, sahabat yang pergi terlalu cepat, namun tak pernah benar-benar meninggalkan hatinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: F1.com