Kamis, 09 APRIL 2026 • 15:15 WIB

Masa Depan Lapangan Hijau: Evolusi dari VAR hingga Sensor Bola Berbasis IoT

Author

Ruangan VAR di Piala Dunia Rusia 2018. (dok. FIFA)

INDOZONE.ID - Sepak bola modern bukan lagi sekadar 22 pemain mengejar bola di atas rumput hijau. Di balik layar, stadion telah berubah menjadi laboratorium raksasa di mana setiap milimeter pergerakan dipantau oleh algoritma. 

Dari sensor di dalam bola hingga kecerdasan buatan (AI) yang mendeteksi offside, teknologi telah mengubah drama lapangan menjadi barisan data 3D yang akurat.

Berikut adalah evolusi teknologi yang telah merevolusi wajah sepak bola dunia:

Baca juga: Teknologi VAR: Menyempurnakan Sepak Bola atau Mengacaukan Suasana?

1. Mikrocip dalam Bola

Ilustrasi bola dalam permainan sepak bola. (REUTERS/Radovan Stoklasa)

Dahulu, perdebatan apakah bola sudah melewati garis gawang bisa berlangsung selamanya. Kini, bola resmi turnamen besar telah dilengkapi dengan Connected Ball Technology.

Sebuah sensor Inertial Measurement Unit (IMU) diletakkan di pusat gravitasi bola. Sensor ini mengirimkan data posisi dan gerakan 500 kali per detik ke pusat data.

Teknologi ini berfungsi untuk mendeteksi titik sentuh (kick point) dengan akurasi ekstrem, sangat krusial untuk membantu keputusan offside dan mendeteksi sentuhan tangan (handball) yang halus sekalipun.

2. Video Assistant Referee (VAR)

Wasit Ermano Feliciani dari Serie A melihat layar VAR selama tinjauan penalti. (REUTERS/Daniele Mascolo)

VAR adalah revolusi pertama yang paling terasa bagi penonton. Ini adalah sistem yang memungkinkan wasit meninjau kembali kejadian penting melalui rekaman video dari berbagai sudut kamera.

Empat pilar yang diputuskan oleh VAR ialah gol/tidak gol, keputusan penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identifikasi pemain.

Akan tetapi seiring waktu, komunikasi antara wasit lapangan dan ruang VAR menjadi lebih cepat berkat integrasi serat optik berkecepatan tinggi.

Baca juga: 5 Aturan Baru di Euro 2024 dan Inovasi Teknologi yang Diterapkan

3. Semi-Automated Offside Technology (SAOT)

Semi-Automated Offside Technology (SAOT). (Premier League)

Dahulu, petugas VAR harus menarik garis manual yang memakan waktu lama. SAOT hadir untuk memangkas waktu tersebut hingga hitungan detik.

Teknologi ini menggunakan 12 kamera pelacak khusus yang dipasang di bawah atap stadion. Kamera ini melacak 29 titik tubuh setiap pemain sebanyak 50 kali per detik.

Data dari kamera digabungkan dengan sensor di dalam bola untuk menentukan posisi offside secara otomatis. AI kemudian menghasilkan animasi 3D yang ditampilkan di layar stadion dan siaran TV untuk transparansi publik.

4. EPTS

Para pemain Timnas Indonesia U-23 melakukan latihan persiapan jelang SEA Games 2019. (Antara/Hafidz Mubarak A)

Electronic Performance and Tracking Systems (EPTS) adalah perangkat yang biasanya dipakai pemain di punggung (menyerupai sport bra).

Data yang direkam EPTS ialah mulai dari jarak tempuh, kecepatan lari, detak jantung, hingga beban kerja otot.

Data mentah ini diolah menjadi visualisasi 3D yang menunjukkan peta panas (heatmap), akurasi operan, hingga distribusi beban fisik pemain. Pelatih bisa mengetahui kapan seorang pemain mulai kelelahan secara medis sebelum mata manusia menyadarinya.

5. Transformasi Menuju Data 3D Analitik

Puncak dari semua teknologi ini adalah penggabungan seluruh data menjadi satu ekosistem digital. Penonton kini bisa melihat statistik seperti "Probability of Scoring" atau "Expected Goals (xG)" secara real-time. 

Visualisasi 3D memungkinkan analis untuk memutar ulang kejadian dari sudut pandang pemain mana pun di lapangan, memberikan pemahaman taktis yang belum pernah ada sebelumnya.

Sepak bola memang tetap mengandalkan otot dan keringat, namun kini setiap tetesnya telah terukur oleh algoritma. 

Teknologi bukan hadir untuk menghilangkan seni dalam permainan, melainkan untuk memastikan bahwa keadilan dan presisi data menjadi standar baru di olahraga paling populer di planet ini

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: FIFA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU