Merangkum Rekam Jejak Leicester City: Dulu Juara Liga Inggris, Kini Terlempar ke Divisi 3!
INDOZONE.ID - Pada Mei 2016, Leicester City mengejutkan dunia dengan mencatat sejarah mengangkat trofi Premier League untuk pertama kalinya. Padahal bursa taruhan Inggris saat itu menyebut peluang Leicester untuk juara adalah 5000:1.
Namun pada akhirnya, klub berjuluk The Foxes itu mengukir cerita sebagai salah satu kisah tim "underdog” paling luar biasa dalam sejarah sepak bola Inggris.
Kini, kejayaan yang terukir selama satu dekade itu runtuh. Leicester harus menghadapi kenyataan pahit dengan turun ke divisi 3 Liga Inggris atau League One musim depan, setelah mengalami degradasi dua musim beruntun.
Baca juga: Ironis! Leicester City Resmi Terdegradasi ke League One Setelah 10 Tahun Juara Premier League
Leicester dipastikan ke divisi 3 setelah hanya bermain imbang 2-2 melawan Hull City di King Power Stadium pada Selasa (21/4/2026) malam waktu setempat.
Dengan hasil ini, Leicester untuk kedua kalinya bermain di kasta ketiga dalam 142 tahun sejarah klub berdiri.
Tentunya ini adalah sebuah kemunduran besar bagi klub yang dalam 10 tahun terakhir sempat dua kali finis di urutan lima besar Premier League, tampil hingga perempat final UEFA Champions League, serta menjuarai FA Cup untuk pertama kalinya pada 2021.
Namun di balik kejayaan Leicester selama ini, ada cerita kelam tersimpan di dalamnya. Salah satunya adalah kematian pemilik klub, Vichai Srivaddhanaprabha dalam kecelakaan helikopter pada Oktober 2018.
Leicester: Dari Keajaiban Menuju Keterpurukan
Musim 2015/2016 menjadi masa kejayaan Leicester. Di bawah asuhan Claudio Ranieri, mereka tampil apik sejak awal musim. Dari 17 pertandingan pertama, mereka hanya kalah satu kali.
Leicester memimpin klasemen sejak pertengahan Januari dan tak pernah tergeser hingga akhirnya menjadi juara dengan selisih 10 poin dari Arsenal. Sepanjang musim, mereka hanya kalah tiga kali.
Bomber andalan mereka, Jamie Vardy sukses mengemas 24 gol dan mencatat rekor dengan mencetak gol dalam 11 laga beruntun, sebuah rekor yang masih bertahan hingga kini.
Di musim selanjutnya, Leicester tampil di Liga Champions dan melaju hingga perempat final. Tapi sayang, langkah mereka di perempat final dikandaskan oleh Atletico Madrid.
Meninggalnya Bos Klub Jadi Awal Keterpurukan Leicester
Pada 27 Oktober 2018, beberapa jam setelah hasil imbang dramatis melawan West Ham United, helikopter yang membawa Vichai jatuh di luar stadion dan menewaskan lima orang di dalamnya.
Insiden mengerikan itu mengejutkan dunia sepak bola. Ribuan suporter memberikan penghormatan kepada sosok yang dianggap berjasa besar mengubah nasib klub sejak dibeli pada 2010.
Setelah kematian Vichai, kepemimpinan klub diambil alih putranya, Aiyawatt Srivaddhanaprabha. Namun sejak saat itu, Leicester kesulitan mempertahankan konsistensi prestasi.
Performa Merosot Tajam
Meski sempat meraih gelar FA Cup 2021 setelah mengalahkan Chelsea di Wembley, performa Leicester mulai menurun.
Di bawah pelatih Brendan Rodgers, mereka cuma bisa finis di urutan delapan dan mencapai semifinal UEFA Conference League. Di musim berikutnya menjadi titik awal kemunduran Leicester.
Klub memecat Rodgers pada April 2023, dan Leicester akhirnya terdegradasi. Mereka sempat kembali ke Premier League di musim 2024, tetapi langsung turun lagi pada 2025. Dalam tiga tahun terakhir, klub bahkan telah berganti enam pelatih tetap.
Masalah di dalam lapangan juga diikuti persoalan finansial. Pada Februari lalu, Leicester mendapat pengurangan enam poin akibat melanggar batas kerugian lebih dari £20 juta dalam periode tiga tahun hingga 2024.
Selain itu, klub juga mencatat kerugian sebelum pajak sebesar £71,1 juta pada musim 2024/2025.
Meski Aiyawatt telah menghapus utang klub hingga ratusan juta pound, serta memiliki salah satu skuad termahal di kasta kedua, hal itu tidak cukup untuk mengangkat performa Leicester di kompetisi.
Baca juga: Ditahan Imbang Leicester City, Bos Nottingham Forest Semprot Nuno Espirito Santo di Lapangan
Namun kini, Leicester menghadapi kenyataan pahit. Degradasi ke League One bukan hanya berdampak pada prestasi, tetapi juga memperburuk kondisi finansial klub, serta menambah kekecewaan para fans.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan, Sky News