Jajal Eropa, si Kembar Atlet Panjat Tebing Ravianto dan Raviandi Ramadhan Lawan Cuaca Dingin hingga Bawa Rice Cooker Sendiri
INDOZONE.ID - Atlet panjat tebing kembar Indonesia, Ravianto Ramadhan dan Raviandi Ramadhan, membagikan cerita perjuangan mereka saat menjalani latihan dan pertandingan di Eropa ketika berkunjung ke kantor Indozone di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu 13 Mei 2026.
Dalam kunjungan tersebut, si kembar atlet panjat tebing kelahiran Jakarta 26 November 2002 itu menceritakan berbagai tantangan yang harus dihadapi dalam upaya melebarkan sayap dengan berlaga di Eropa.
Adaptasi Cuaca Dingin Jadi Tantangan Utama
Menurut Ravianto dan Raviandi, salah satu tantangan terbesar adalah proses adaptasi terhadap suhu dingin di Eropa. Banyak lokasi latihan dan kompetisi panjat tebing berada di daerah pegunungan dengan temperatur yang berbeda jauh dari Indonesia.
“Sebagai atlet Asia, salah satu tantangan terbesar saat latihan di Eropa itu adaptasi suhu. Banyak lokasi panjat tebing ada di daerah pegunungan dan dataran tinggi, jadi cuacanya jauh lebih dingin dibanding Indonesia,” ujar Ravianto.
Kondisi tersebut membuat tubuh mereka membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, terutama saat harus berlatih intensif di cuaca dingin.
Baca juga: Eberechi Eze Ngakak Lihat Foto Penggemar Manchester City Dijadikan Bahan Troll
Infrastruktur Panjat Tebing Eropa Lebih Lengkap
Selain faktor cuaca, mereka juga mengakui bahwa infrastruktur panjat tebing di Eropa lebih lengkap dibanding Indonesia. Ada beberapa jalur panjat dan fasilitas latihan di Eropa yang belum sepenuhnya mereka kuasai. Sebab, karakter medannya berbeda dengan yang biasa ditemui di Indonesia.
Menurut mereka, perkembangan fasilitas dan ekosistem panjat tebing di Indonesia memang terus meningkat, tetapi masih tertinggal dibanding negara-negara di Eropa yang sudah lebih dulu berkembang dalam olahraga tersebut.
“Di sana pilihan jalurnya lebih banyak dan fasilitasnya lebih lengkap. Jadi kami juga harus cepat beradaptasi,” ujar Raviandi saat berbincang di kantor Indozone.
Bawa Rice Cooker dan Masak Sendiri
Tak hanya soal latihan, kehidupan sehari-hari selama di Eropa juga menjadi tantangan tersendiri. Perbedaan waktu membuat pola istirahat dan ritme tubuh mereka harus beradaptasi, terutama saat baru tiba di Benua Biru.
Untuk urusan makanan, Ravianto dan Raviandi memilih membawa rice cooker sendiri selama tinggal di Eropa. Mereka bahkan lebih sering memasak sendiri agar tetap bisa menyesuaikan pola makan dengan kebutuhan latihan.
Baca juga: Jay Idzes Diragukan Tampil pada Laga Terakhir Serie A Kontra Parma, Apa Penyebabnya?
Andalkan Transportasi Umum
Mobilitas selama di Eropa juga tidak selalu mudah. Karena masih belum terlalu familiar dengan lingkungan di sana, mereka banyak mengandalkan transportasi umum untuk mobilisasi.
Mulai dari perjalanan dari Airbnb menuju lokasi latihan hingga ke arena kompetisi, mereka kerap harus berganti kereta dan bus agar bisa sampai tujuan.
“Kadang harus sambung kereta terus lanjut naik bus lagi. Awalnya lumayan bingung, tapi lama-lama mulai terbiasa,” kata mereka.
Pengalaman di Eropa Modal Berharga untuk Berprestasi di Masa Depan
Meski menghadapi banyak keterbatasan, Ravianto dan Raviandi mengaku hal tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar sebagai atlet profesional.
Bagi mereka, pengalaman berlatih dan bertanding di Eropa menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan agar mampu bersaing dengan atlet-atlet dunia lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung