Aparat menembakkan gas air mata di Tragedi Kanjuruhan. (ANTARA/Ari Bowo Sucipto)
INDOZONE.ID - Tragedi Kanjuruhan terjadi pada tiga tahun lalu. Tragedi tersebut merupakan salah dukacita mendalam bagi sepak bola Indonesia.
Tragedi Kanjuruhan terjadi dalam pertandingan Liga 1 (kini disebut Super League) musim 2022/23 antara Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, 1 Oktober 2022. Pada pertandingan tersebut, Singo Edan kalah 2-3 dari Persebaya.
Dalam tragedi berdarah itu menelan setidaknya 135 korban jiwa. Tak ayal, tragedi Kanjuruhan merupakan insiden sepak bola terbesar setelah tragedi Estadio Nacional di Peru.
INDOZONE akan membeberkan lagi kepada kamu, kronologi terkait tragedi Kanjuruhan. Yuk, simak selengkapnya di bawah!
Baca juga: Gelar Juara MotoGP 2025 Sudah Digenggam, Marc Marquez Ingin Nikmati Balapan di Sirkuit Mandalika
Pertandingan antara Arema FC vs Persebaya awalnya berjalan cukup aman. Akan tetapi, setelah pertandingan berakhir dengan kekalahan Arema, 4 penonton dari tribune 9 dan 10 masuk ke lapangan hingga mendekat ke pemain.
Sebanyak tiga penonton diamankan oleh aparat keamanan, sedangkan sisanya mendekat dan memeluk pemain Arema FC saat itu, yakni Sergio Silva. Tak lama berselang, sejumlah suporter lain ikut memasuki lapangan tapi dikejar oleh polisi.
Tindakan itu memicu kemarahan suporter Arema FC lainnya, hingga setidaknya 3 ribu suporter juga masuk lapangan. Kelompok suporter pertama berasal dari tribune 12. Kelompok suporter tersebut berpencar untuk mendekati para pemain, pelatih, dan ofisial Arema FC.
Baca juga: Demi Kebaikan Bersama, Manchester United Harus Segera Pecat Ruben Amorim
Suasana makin kacau setelah suporter mulai melemparkan benda-benda, merusak kendaraan polisi, bahkan menyalakan api dalam stadion. Tindakan itu memaksa para pemain Persebaya langsung berlindung di ruang ganti, sebelum dilarikan ke mobil personel lapis baja selama satu jam hingga bisa meninggalkan stadion.
Setelah pencegahan pertama gagal, pihak kepolisian mulai menembakkan gas air mata ke arah tribune 12, dengan tribune 10, 11 dan 14 kemudian ditargetkan, disusul dengan tribune selatan dan utara.
Hal itu memicu kepanikan penonton. Sejumlah suporter kemudian berlarian ke arah pintu keluar di tribune 12-14, untuk menghindari semprotan gas air mata.
Saat itu, semua gerbang dikunci kecuali gerbang 14. Hal itu menyebabkan terjadinya penumpukan dan penghimpitan di tengah kerumunan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA