Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 17 JUNI 2026 • 15:00 WIB

Setiap Kesalahan Jadi Pelajaran, Ravianto dan Raviandi Ramadhan Tak Pernah Lupakan Perjalanan dari Nol

Setiap Kesalahan Jadi Pelajaran, Ravianto dan Raviandi Ramadhan Tak Pernah Lupakan Perjalanan dari NolRavianto dan Raviandi Ramadhan. (Instagram/raviandiramadhan)

INDOZONE.ID - Di balik sederet prestasi yang telah diraih, atlet panjat tebing kembar kebanggaan Indonesia, Ravianto Ramadhan dan Raviandi Ramadhan, melalui proses panjang. Jalan berliku dilalui mereka dalam setiap proses hingga ada di titik sekarang.

Sebelum ada di posisi sekarang, mereka harus melewati berbagai kegagalan dan kesalahan dalam setiap kompetisi yang mereka lewati sejak usia dini.

Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu atlet panjat tebing andalan Indonesia seperti sekarang, si kembar kelahiran 26 November 2002 itu pernah menghabiskan masa kecil untuk berlatih di sebuah dinding panjat sederhana yang dibangun sang om dan tante di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. 

Dari tempat itulah, keduanya mulai mengenal dunia panjat tebing dan merangkai mimpi untuk berprestasi sebagai atlet profesional.

Baca juga: Kata-kata Erling Haaland usai Cetak Brace Pertamanya di Piala Dunia 2026

Pandangan mereka terhadap proses tersebut mereka sampaikan dalam film dokumenter Dissidence yang dirilis pada Jumat (12/6/2026) silam.

"Setiap kesalahan jadi pelajaran yang berharga untuk kami,"  ungkap Ravianto dan Raviandi Ramadhan, dikutip dari trailer Dissidence, Rabu (17/6/2026).  

Berawal dari Dinding Panjat Sederhana

Perjalanan Ravianto dan Raviandi di dunia panjat tebing tidak dimulai dari climbing gym modern yang tersebar banyak di berbagai lokasi seperti saat ini.

Keduanya pertama kali mengenal olahraga tersebut melalui fasilitas latihan panjat sederhana yang dibangun oleh om dan tante mereka, Hendrawan dan Emi Zaenah, yang juga merupakan atlet panjat tebing.

Saat itu, mereka lebih sering menjadi penonton. Ravianto dan Raviandi kerap memperhatikan atlet-atlet yang datang ke rumah untuk berlatih, sebelum mencoba memanjat sendiri.

Rasa penasaran perlahan berubah menjadi ketertarikan serius. Mereka mulai menghabiskan waktu untuk latihan hampir setiap hari, hingga akhirnya mantap menekuni panjat tebing saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Baca juga: 6 Fakta Pertandingan Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026, Mbappe Cetak Brace!

Tumbuh Bersama Kesalahan dan Kegagalan

Menjadi atlet bukan berarti selalu meraih kemenangan. Si kembar mengakui bahwa proses berkembang sebagai atlet dipenuhi berbagai tantangan yang tidak mudah.

Mereka kerap mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan mereka. Alih-alih menjadikannya sebagai hambatan, mereka memilih menjadikan setiap pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk tampil lebih baik di pertandingan berikutnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan, Youtube/Petzl Sport

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Setiap Kesalahan Jadi Pelajaran, Ravianto dan Raviandi Ramadhan Tak Pernah Lupakan Perjalanan dari Nol

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!