Enzo Maresca Sebut Penundaan 2 Jam Laga Chelsea vs Benfica di Piala Dunia Antarklub Sebagai Lelucon
INDOZONE.ID - Manajer Chelsea, Enzo Maresca, melontarkan kritik keras terhadap penundaan pertandingan Piala Dunia Antarklub yang dinilainya sangat tidak masuk akal.
Ia menyebut insiden tersebut sebagai “lelucon”, setelah pertandingan Chelsea melawan Benfica dihentikan hampir dua jam akibat badai petir dan peringatan cuaca ekstrem di Amerika Serikat.
Penundaan Waktu Dua Jam Ganggu Ritme Pertandingan
Pertandingan yang awalnya dijadwalkan berlangsung normal, akhirnya tertunda selama satu jam 53 menit. Ini bukan kali pertama terjadi dalam Piala Dunia Antarklub ini.
Tercatat sudah enam kali penundaan akibat cuaca ekstrem selama gelaran Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan negara tersebut untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun depan.
Baca juga: Jurgen Klopp Kritik Pedas Piala Dunia Antarklub: NBA Saja Ada Libur 4 Bulan!
Chelsea akhirnya mampu keluar sebagai pemenang dengan skor meyakinkan 4-1 atas Benfica. Namun kemenangan ini tidak diraih dengan mudah.
Selain menghadapi tekanan dari Benfica, Chelsea juga harus beradaptasi dengan gangguan waktu yang sangat panjang. Pertandingan tersebut bahkan memakan waktu hingga empat jam 38 menit dari awal kick-off.
Benfica sempat menyamakan skor lewat penalti di akhir waktu normal, namun harus bermain dengan 10 orang di babak tambahan, setelah Gianluca Prestianni mendapat kartu merah.
Hal ini berhasil dimanfaatkan oleh anak asuh Enzo Maresca untuk memastikan kemenangan.
Ditunda 2 Jam? Ini Lelucon!
Penundaan laga disebabkan oleh aturan keamanan yang diberlakukan panitia pelaksana pertandingan. Setiap kali terdeteksi kilat dalam radius lima mil dari stadion, pertandingan wajib dihentikan selama 30 menit.
Masalahnya, waktu jeda ini terus di-reset jika kilat kembali terlihat yang membuat pertandingan tak kunjung dilanjutkan.
“Ini lelucon. Kalau sudah enam kali terjadi penundaan, mungkin ada yang tidak beres. Saya tidak membuat aturan, tapi sebagai pelatih, sangat sulit mengelola situasi seperti ini,” ujar Maresca seusai pertandingan.
Baca juga: Penonton di Stadion Sepi, FIFA Dinilai Gagal Total Gelar Piala Dunia Antarklub 2025
Manajer asal Italia itu juga menyoroti dampak penundaan terhadap kondisi mental pemain. Ia menjelaskan bahwa selama hampir dua jam, para pemain berada di ruang ganti dalam kondisi tidak menentu. Konsentrasi mereka perlahan-lahan buyar karena terlalu lama menunggu.
Ia juga menilai bahwa terlalu banyak hal di luar kendali yang memengaruhi konsentrasi para pemain. Menurutnya, sulit menjaga para pemain tetap fokus ketika mereka harus menunggu selama dua jam tanpa kepastian.
Dalam waktu tunggu itu, para pemain malah sibuk berbincang dengan keluarga, makan, bermain, dan tertawa karena tidak ada aktivitas pertandingan yang bisa dilakukan.
“Selama dua jam mereka berada di ruang ganti. Mereka makan, bermain, tertawa, bahkan menelepon keluarga karena khawatir. Bagaimana caranya menjaga mereka tetap fokus dalam situasi seperti itu?” katanya.
Maresca: Amerika Serikat Tidak Layak Jadi Tuan Rumah
Lebih jauh, Maresca mempertanyakan pemilihan beberapa kota di Amerika Serikat sebagai lokasi pertandingan, mengingat risiko cuaca ekstrem pada periode ini.
Menurutnya, penundaan yang terlalu sering dapat merusak prinsip turnamen dan mengganggu persiapan tim secara keseluruhan.
Baca juga: Panen Kritik, Presiden La Liga Minta FIFA Hapus Piala Dunia Antarklub
Ia tidak mempersoalkan aturan keselamatan yang diterapkan, tetapi menegaskan bahwa jika situasi ini terus berulang, maka perlu ada evaluasi terkait lokasi penyelenggaraan turnamen besar. Terutama untuk turnamen sekelas Piala Dunia.
Situasi yang dihadapi Chelsea menjadi gambaran bahwa pertandingan sepak bola tidak hanya soal taktik dan fisik, tetapi juga kesiapan turnamen dan venue sekitarnya.
Menurut Maresca, gangguan yang terjadi secara berulang bukan hanya mengganggu timnya, tetapi juga merusak konsep dari kompetisi itu sendiri.
Ia menambahkan bahwa situasi seperti ini bukanlah sepak bola yang ideal dan jelas bukan kondisi yang diinginkan oleh para pemain maupun pelatih. Baginya, terlalu banyak penundaan justru merusak kompetisi.
Ia menegaskan bahwa dirinya dan tim senang mengikuti turnamen ini, tetapi menilai bahwa gangguan cuaca yang berulang menunjukkan perlunya evaluasi dalam pemilihan tempat penyelenggaraan ke depannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mirror Football