INDOZONE.ID - UEFA mulai bergerak untuk mengadakan pemungutan suara atau voting, untuk membekukan Israel dari aktivitas sepak bola karena perang di Gaza.
Menurut laporan ESPN, Jumat (26/9/2025), mayoritas anggota UEFA, termasuk 20 anggota komite eksekutif, diharapkan bisa mendukung pemungutan suara untuk membekukan Israel dari semua level pertandingan Internasional. Laporan itu diungkapkan oleh dua sumber yang tak diketahui identitasnya, kepada Associated Press.
Tentunya, langkah tersebut akan mencegah Timnas Israel dan klub-klub negara tersebut, bermain di kompetisi internasional, termasuk Piala Dunia 2026.
Diketahui, Israel masih akan melakoni dua pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Norwegia (11 Oktober 2025) dan Italia (15 Oktober 2025).
Namun, masih belum jelas apakah FIFA akan mendukung untuk mengeluarkan Israel dari keanggotaannya. Apalagi, Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memiliki hubungan yang cukup dekat.
Dukungan pemerintahan Trump untuk mengamankan Piala Dunia dan memproses visa bagi para pemain, ofisial, dan ratusan ribu penggemar yang berkunjung, menjadi langkah kunci bagi FIFA untuk menyelenggarakan turnamen akbar ini di AS, Meksiko, dan Kanada.
Menurut laporan terbaru, juru bicara departemen luar negeri mengatakan, bahwa pihaknya akan berusaha untuk menghentikan upaya melarang Israel bermain di Piala Dunia.
Dewan pengatur FIFA kini telah dijadwalkan untuk bertemu di Zurich, Swiss, pada pekan depan. Adapun, dewan yang beranggotakan 37 orang itu, sudah termasuk 8 anggota UEFA.
FIFA telah menolak untuk berkomentar pada Kamis 25 September 2025, waktu setempat. Infantino saat ini berkantor di kantor satelit FIFA di Trump Tower, Manhattan, terlepas dari kehadirannya dalam acara Sidang Umum PBB.
Baca juga: Casemiro Siap Tinggalkan Manchester United Usai Piala Dunia 2026
Seruan untuk mengeluarkan Israel dari sepak bola dan olahraga lainnya, telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir di tengah pembantaian warga Gaza.
Pada pekan lalu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan Israel harus dilarang untuk mengikuti ajang olahraga internasional, seperti Rusia yang diberi sanksi serupa kala baru beberapa hari menyerang Ukraina pada 2022 lalu.
Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, mengisyararakan dengan tegas soal pandangan terhadap Israel saat banner dengan tulisan 'Berhenti membunuh anak-anak' dan 'Berhenti membunh rakyat sipil' diletakkan di atas lapangan di depan PSG dan Tottenham Hotspur jelang pertandingan UEFA Super Cup di Udine, Italia.
Pembicaraan terkait melarang Israel dari olahraga Internasional muncul, saat Israel menghadapi meningkatnya kritik dan isolasi atas kampanye militernya, yang diluncurkan sebagai respons dari serangan Hamas pada Oktober 2023 lalu.
Pekan lalu, Israel dituduh melakukan kejahatan genosida di Gaza oleh komisi penyelidikan yang ditugaskan oleh dewan Hak Asasi Manusia PBB.
Baca juga: Sering Gonta-Ganti Posisi, Amad Diallo Kesulitan Beradaptasi dengan Formasi 3-4-3 Ruben Amorim
Menteri Olahraga dan Budaya Israel, Miki Zohar, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan Ketua Federasi Sepak Bola Israel, Moshe Zuares, bekerja secara intensif untuk mencegah upaya mengeluarkan Israel dari UEFA.
"Langkah yang tepat saat ini adalah bertindak secara bertanggung jawab dengan para profesional dan tidak membuat pernyataan, dan begitulah cara semua pihak yang terlibat dalam upaya ini bertindak. Kita akan membahas hal ini nanti," ujar Zohar.
Keputusan UEFA untuk membekukan Rusia pada 2022 lalu sebagian didorong oleh penolakan sejumlah anggota federasi untuk melawan Rusia.
Sementara itu, banyak timnas dan klub tidak menolak melawan Israel meski kepala Federasi Sepak Bola Norwegia dan Italia menyatakan kekhawatiran mereka dalam beberapa pekan terakhir.
Federasi Sepak Bola Norwegia juga menegaskan, bahwa keuntungan penjualan tiket pertandingan mereka melawan Israel pada 11 Oktober 2025 mendatang akan didonasikan untuk kegiatan kemanusiaan.
Baca juga: Sindiran Pedas Toni Kroos untuk Timnas Jerman: Skuad Medioker dan Sulit Bersaing di Piala Dunia 2026
Baik Gabriel Gravina dari Italia maupun Lise Klaveness dari Norwegia, merupakan anggota terpilih komite eksekutif UEFA yang bisa memberikan suara untuk melarang Israel.
Nah, Zuares juga berada di panel tersebut, demikian pula Nasser Al Khelaifi yang juga anggota pemerintah Qatar sekaligus presiden PSG.
Israel membuat marah Qatar, bersama sekutu mereka Amerika Serikat yang telah menjadi mediator utama selama perang, dengan serangan udara pada 9 September lalu. Pasalnya, serangan itu menargetkan para pemimpin Hamas di Doha, Ibu Kota Qatar.
Di final Liga Champions pada Mei lalu, suporter PSG memajang spanduk bertuliskan "Hentikan Genosida di Gaza" dalam bahasa Prancis. UEFA tidak membuka kasus disiplin meski memiliki aturan yang melarang pesan politik di dalam stadion.
Bahkan, pada pertandingan Liga Europa pada Rabu 25 September 2025, dini hari WIB, antara Maccabi Tel Aviv melawan PAOK, terdapat protes dari Pro-Palestina di luar stadion Thessaloniki yang membentangkan banner bertuliskan 'Hentikan Genosida'.
Jadi, menurut kamu, apakahan UEFA akan membekukan Israel?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ESPN