Minggu, 23 NOVEMBER 2025 • 16:20 WIB

Premier League Terapkan Aturan Keuangan Baru, Squad Cost Ratio untuk Gantikan PSR

Author

Trofi Premier League (REUTERS/Dylan Martinez)

INDOZONE.ID - Klub-klub Premier League resmi menyepakati penerapan aturan keuangan baru bernama Squad Cost Ratio (SCR) untuk menggantikan Profit and Sustainability Rules (PSR) yang selama ini dipandang bermasalah.

Aturan baru ini akan mulai diberlakukan pada musim 2026–2027 dan disusun melalui proses konsultasi yang cukup panjang.

Pada Jumat (21/11/2025), Premier League merilis pernyataan bahwa para pemegang saham telah sepakat mengadopsi SCR.

Selain SCR, Premier League juga akan menggunakan sistem tambahan bernama Sustainability and Systemic Resilience (SSR) sebagai bagian dari penguatan struktur keuangan liga.

Baca juga: Lionel Messi: MLS Harus Longgarkan Batasan Pengeluaran agar Klub Bebas Datangkan Pemain

Detail Aturan Squad Cost Ratio (SCR)

Dalam aturan keuangan baru ini, pengeluaran klub dibatasi maksimal 85 persen dari pendapatan sepak bola dan laba-rugi penjualan pemain.

Setiap klub juga mendapat ruang tambahan berupa alokasi multi-tahun sebesar 30 persen, yang dapat dipakai untuk melampaui batas tersebut.

Namun, penggunaan alokasi itu memiliki konsekuensi berupa pungutan khusus. Setelah alokasi habis, klub wajib kembali mematuhi batas 85 persen atau terancam sanksi.

Baca juga: Federasi Sepak Bola Turki Jatuhkan Sanksi Larangan Bermain kepada 102 Pemain dan Wasit usai Terlibat Kasus Judi

Premier League juga menegaskan bahwa aturan ini dibuat agar setiap klub memiliki kesempatan yang lebih seimbang dalam bersaing.

Hal ini sekaligus mendekatkan aturan liga dengan regulasi SCR UEFA yang membatasi pengeluaran hingga 70 persen dari pendapatan.

Klub Premier League yang berlaga di kompetisi Eropa pun tetap harus mematuhi batas UEFA tersebut.

Transparansi Keuangan dan Sistem Pendukung SSR

Penerapan SCR memungkinkan proses pemantauan keuangan yang lebih transparan sepanjang musim.

Penilaian keuangan klub akan dilakukan setiap tahun pada Maret, setelah bursa transfer Januari ditutup, sehingga Premier League bisa menilai apakah klub memenuhi batas pengeluaran.

Baca juga: Haruskah Premier League Menerapkan Batasan Gaji Pemain Seperti di MLS untuk Mencegah Masalah Keuangan?

Selain itu, klub-klub juga menyetujui penerapan SSR (Sustainability and Systemic Resilience).

Sistem ini dirancang untuk menilai kondisi keuangan klub dalam jangka pendek, menengah, dan panjang melalui tiga tes: Tes Modal Kerja, Tes Likuiditas, dan Tes Ekuitas Positif.

Dampak Peralihan dari PSR ke SCR

Bola Premier League. (Action Images via Reuters/John Sibley)

Sebelumnya, sistem SCR dan TBA sudah diuji coba secara non-mengikat dalam dua musim terakhir.

Uji coba tersebut memberikan kesempatan bagi liga dan klub untuk menilai efektivitas sistem baru dan mengintegrasikan masukan dari berbagai pihak, termasuk PFA dan agen pemain.

PSR, yang mulai diterapkan sejak musim 2015–2016, menetapkan batas kerugian 105 juta pound dalam tiga tahun bergulir. Aturan ini dibuat untuk mencegah klub menghabiskan uang secara berlebihan.

Baca juga: Everton Dapat Sanksi Berat Pengurangan Poin, Langsung Terjun Bebas di Dasar Klasemen

Namun, banyak pihak menilai PSR terlalu ketat karena menghitung semua pendapatan dan pengeluaran klub, sehingga dianggap kurang fleksibel.

Beberapa klub seperti Nottingham Forest dan Everton pernah melanggar PSR dan hal ini memperkuat kritik bahwa aturan itu memperlebar ketimpangan antara klub berpendapatan besar dan klub lainnya.

PSR akan tetap berlaku hingga musim ini berakhir, sebelum resmi digantikan oleh SCR sepenuhnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Premierleague.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU