Mimpi Buruk Lewis Hamilton Bersama Ferrari Berlanjut: Terpuruk di Posisi 18 Kualifikasi Sprint GP Qatar
INDOZONE.ID - Kepindahan sang veteran, Lewis Hamilton, dari Mercedes ke Scuderia Ferrari digadang-gadang sebagai salah satu transfer paling monumental dalam sejarah Formula 1.
Narasi tentang sang juara dunia tujuh kali yang menutup karirnya dengan balutan warna merah ikonik Maranello seharusnya menjadi kisah kepahlawanan yang manis.
Namun, realitas di lintasan balap seringkali jauh dari skenario film Hollywood.
Di debutnya bersama tim Kuda Jingkrak justru terus menyajikan drama memilukan yang seolah tak berujung, dan babak terbaru dari mimpi buruk tersebut baru saja terjadi di Sirkuit Internasional Lusail, Qatar.
Sesi Kualifikasi Sprint atau Sprint Qualifying (SQ) untuk Grand Prix Qatar menjadi saksi bisu betapa sulitnya proses adaptasi pembalap berusia 40 tahun tersebut dengan mobil barunya.
Baca juga: Hasil Persija Jakarta vs PSIM Yogyakarta: Macan Kemayoran Menang 2-0 Tepat di HUT Ke-97
Alih-alih bertarung di barisan depan melawan rival-rival lamanya, Hamilton justru harus menelan pil pahit karena tersingkir di sesi pertama (SQ1).
Catatan waktunya yang jauh dari kata kompetitif memaksanya harus memulai balapan Sprint hari Sabtu dari posisi ke-18.
Hal ini menjadi sangat asing dan tentu saja mengecewakan bagi seorang pembalap dengan rekor pole position terbanyak sepanjang masa.
Krisis Kecepatan dan Frustrasi di Kokpit
Masalah yang dihadapi Hamilton di Qatar bukan cuma kesalahan strategi atau insiden lalu lintas di trek, melainkan kurangnya kecepatan murni atau pure pace.
Melalui radio tim, nada frustrasi terdengar jelas ketika Hamilton melaporkan kepada insinyur balapnya bahwa mobil Ferrari yang dikendarainya "tidak bisa melaju lebih cepat lagi."
Pernyataan tersebut menyiratkan keputusasaan teknis, di mana sang pembalap merasa telah memeras seluruh potensi mobil namun hasilnya tetap nol besar.
Situasi ini semakin kontras jika dibandingkan dengan rekan setimnya, Charles Leclerc.
Meskipun Ferrari secara umum tampak kesulitan di Qatar, Leclerc masih mampu menyelamatkan muka tim dengan lolos ke babak selanjutnya (hingga SQ3) dan mengamankan posisi start kesembilan.
Perbedaan performa yang mencolok antara kedua pembalap dalam garasi yang sama ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai kecocokan gaya balap Hamilton dengan karakteristik mobil SF-25 musim ini.
Hasil buruk di Sprint GP Qatar bukanlah kejadian tunggal, melainkan kelanjutan dari tren negatif yang mengkhawatirkan.
Hal ini menandai kali kedua secara berturut-turut Hamilton gagal lolos dari segmen pertama kualifikasi.
Hanya beberapa hari sebelumnya di Grand Prix Las Vegas, Hamilton mengalami momen yang mungkin bisa disebut sebagai titik terendah dalam 17 tahun karirnya di F1.
Ia mana ia lolos kualifikasi di posisi paling buncit (P20) murni karena kurangnya kecepatan, meski akhirnya naik ke P19 akibat Yuki Tsunoda (Red Bull) start dari pit lane.
Wawancara yang Menjadi Sorotan
Kekecewaan mendalam Hamilton tercermin jelas dalam sesi wawancara pasca-kualifikasi.
Dikenal sebagai sosok yang biasanya memberikan analisis mendalam dan diplomatis, Hamilton tampil dengan wajah muram dan jawaban yang sangat minim bicara.
Dalam wawancaranya dengan Rachel Brooks dari Sky Sports F1, Hamilton hanya bicara seperlunya untuk menjawab serangkaian pertanyaan, sebuah indikasi betapa buruknya suasana hati sang pembalap Inggris tersebut.
Ketika ditanya apa yang membuat mobil Ferrari-nya begitu sulit dikendalikan di sirkuit Lusail, Hamilton menjawab dengan singkat dan tajam, "Ya, sama seperti biasanya."
Jawaban tersebut mengindikasikan bahwa masalah keseimbangan atau handling mobil yang ia rasakan bukanlah hal baru, melainkan masalah kronis yang belum ditemukan solusinya oleh para insinyur Ferrari.
Tidak berhenti di situ, ketika ditanya apakah perubahan pengaturan (setup) mobil yang dilakukan tim memberikan dampak positif, Hamilton hanya tersenyum kecut sambil menjawab, "Tidak, jelas tidak."
Puncaknya adalah ketika ia ditanya mengenai hal positif apa yang bisa dibawa untuk balapan esok hari.
Dengan nada sarkasme yang kental, Hamilton hanya menjawab, "Cuacanya bagus, kok."
Respon-respon singkat ini segera menjadi viral di media sosial, memicu diskusi hangat di kalangan penggemar tentang kondisi mental dan motivasi Hamilton.
AADF: Ada Apa Dengan Ferrari?
Melansir laporan dari Crash.net., mantan ahli strategi F1 yang kini menjadi analis Sky Sports, Bernie Collins, turut memberikan pandangannya.
Baca juga: Tidak Lagi Belanja Gila-gilaan, PSG Mulai Andalkan Pemain Akademi di Skuad Utama
Menurut Collins, sangat mengecewakan melihat seorang juara dunia seperti Hamilton berada dalam kondisi yang begitu terpuruk.
Ia menyoroti bahwa ketidakpuasan Hamilton bukanlah tanpa alasan.
Collins mempertanyakan efektivitas perubahan yang dilakukan tim antara sesi latihan bebas (FP1) dan kualifikasi.
Ferrari tampaknya memang sedang bergulat dengan inkonsistensi yang parah.
Mobil mereka bisa terlihat sangat kompetitif di satu akhir pekan, namun tiba-tiba kehilangan performa secara drastis di akhir pekan berikutnya, atau bahkan dalam sesi yang berbeda di hari yang sama.
Collins menekankan bahwa tim harus segera mencari jawaban mengapa mobil mereka bisa bekerja di beberapa kondisi trek namun gagal total di kondisi lain.
Bagi Hamilton, yang sedang berusaha membangun kepercayaan diri dengan tim barunya, inkonsistensi teknis ini adalah musuh terbesar.
Baca juga: Liverpool Kalah 1-4 dari PSV di Anfield, Arne Slot Akui Ruang Ganti Diliputi Kekecewaan
Menjelang balapan Sprint dan balapan utama di hari Minggu (30/11/2025) dini hari WIB, tugas berat menanti Hamilton dan Ferrari.
Memulai balapan dari barisan belakang di sirkuit cepat seperti Qatar, di mana menyalip bukanlah perkara mudah tanpa perbedaan kecepatan yang signifikan, akan menjadi tantangan fisik dan mental yang luar biasa.
Para penggemar kini hanya bisa menunggu, apakah Hamilton mampu menunjukkan magisnya untuk bangkit, ataukah GP Qatar akan menjadi satu lagi catatan kelam dalam musim debutnya bersama Si Kuda Jingkrak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crash.net