INDOZONE.ID - Setiap atlet ingin menjadi yang terbaik di setiap olahraganya masing-masing. Akan tetapi, predikat terbaik semestinya dicapai dengan cara sportif.
Sportivitas jadi nilai utama dalam setiap olahraga, bahkan berada di atas kemenangan. Oleh sebab itu, penggunaan zat terlarang atau doping dalam olahraga amat dilarang.
Bagaimana tidak, penggunaan doping oleh atlet akan membuat pertandingan tidak adil bagi sang lawan.
Namun, pada kenyataannya, ada beberapa atlet ternama yang justru terseret kasus doping. Yuk, simak penjelasan lengkapnya.
Baca juga: Staf INEOS yang Diselidiki Menggunakan Doping Ternyata Pernah Bekerja di Manchester United
4 Skandal Doping Terbesar di Dunia
1. Diego Maradona - 1991 dan 1994
Daftar ini akan dimulai dengan legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona. Punya segudang prestasi, termasuk juarai Piala Dunia 1986 bersama Argentina, ia dua kali tersandung kasus doping.
Pada 1991, Maradona yang membela Napoli kala itu, dapat skors 15 bulan karena positif memakai kokain dalam tes doping.
Selang tiga tahun, pada Piala Dunia 1994, Maradona kembali positif memakai ephedrine. Kamu harus tahu, ephedrine adalah stimulan sistem saraf pusat yang mengurangi kelelahan dan meningkatkan daya saing serta kewaspadaan.
2. Lance Armstrong - 2012
Pencinta olahraga sepeda, tentu mengenal Lance Armstrong. Bagaimana tidak, ia tujuh kali beruntun menjadi juara Tour de France pada 1999 hingga 2005.
Sebagai penyintas kanker, prestasi Lance Armstrong tentu menginspirasi banyak orang, terutama para pencinta olahraga sepeda.
Namun, ia sempat dituduh oleh mantan rekan setim Lance Armstrong, Floyd Landis, yang juga pelaku doping, menuduhnya memakai zat-zat terlarang.
Hingga 2010, Lance Armstrong bisa menghindari penyelidikan mendalam perihal penggunaan obat-obatan penunjang performa.
Pada 2012, Badang Anti-Doping Amerika Serikat (AS) mendakwa Lance Armstrong atas tudahan penggunaan doping.
Ujungnya, Badan Anti-Doping Dunia (WADA) merilis laporan setebal 1.000 halaman yang membuktikan Lance Armstrong telah menggunakan doping.
Bahkan, WADA menyebut kasus Lance Armstrong sebagai program doping paling canggih, professional, dan sukses dalam sejarah olahraga.
Semua gelar Tour de France Lance Armstrong pun dicopot. Ia juga mendapatkan larangan berkecimpung di dunia balap sepeda profesional tanpa batas waktu.
3. Max Hauke - 2019
Kasus selanjutnya datang dari olahraga ski. Max Hauke, atlet ski Austria, tertangkap basah melakukan transfusi darah sendiri di pondok ski, Seefeld, Austria, dalam Kejuaraan Dunia Ski Nordik 2019.
Penggerebekan ini dilakukan oleh polisi internasional berdasarkan informasi intelijen dari WADA.
Transfusi darah yang dilakukan Max Hauke, bertujuan meningkatkan produksi sel darah merah sehingga stamina otot jadi lebih awet.
4. Tim Olimpiade Rusia - 2020
Kasus terakhir dalam daftar ini mungkin akan membuat kamu kaget. Bagaimana tidak, kasus ini melibatkan Tim Olimpiade Rusia.
Baca juga: Mykhailo Mudryk Terancam Sanksi Empat Tahun oleh FA Akibat Terjerat Kasus Doping
Di Olimpiade 2014, Tim Rusia dituduh melakukan skema tertentu untuk menyembunyikan penggunaan obat-obatan oleh atlet-atlet mereka.
Investigasi WADA menyatakan budaya doping marak dilakukan di atletik Rusia. Bahkan, atlet, pelatih, dokter, manajer, federasi, dan bahkan menteri olahraga Rusia diduga punya peran kunci dalam penggunaan doping.
Pada 2016, mantan kepala laboratorium anti-doping Moskow, membongkar program peningkatan performa atlet melalui obat-obatan.
Karena kasus ini, Rusia dihukum larangan empat tahun untuk mengikuti Olimpiade dan ajang olahraga internasional lainnya. Hukuman untuk Rusia dikurangi jadi dua tahun oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga pada 2020.
Tak ayal, pada Olimpiade 2022, atlet Negeri Beruang Merah itu boleh mengikutinya, tapi tidak berpartisipasi dengan membawa bendera dan lagu kebangsaan Rusia.
Itulah empat skandal doping terbesar di dunia yang bikin publik tercengang. Menurut kamu, kasus mana yang terparah?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Numan