Jogo Bonito Taktik Andalan Timnas Brasil: Sudah Usang atau Masih Relevan dengan Sepak Bola Modern?
INDOZONE.ID - Jogo Bonito taktik andalan Timnas Brasil yang membawa mereka lima kali jadi kampiun Piala Dunia. Akan tetapi, apakah Jogo Bonito masih relevan dengan sepak bola modern?
Nama Brasil harum dalam sejarah sepak bola dunia. Itu tidak terlepas dari sepak terjangnya di Piala Dunia.
Brasil merupakan tim paling dominan sepanjang sejarah Piala Dunia sejak pertama kali digelar pada 1930 silam.
Bagaimana tidak, dalam 22 kali keikutsertaan, Brasil delapan kali mencapai semifinal yang enam di antaranya membawa mereka ke partai puncak.
Baca juga: Daftar 7 Tim Unggulan yang Berpotensi Tampil Mengecewakan di Piala Dunia 2026
Brasil menjadi juara Piala Dunia untuk pertama kali pada 1958. Lalu, Brasil jadi juara lagi pada edisi 1962, 1970, 1994, dan 2002.
Brasil hampir selalu menjadi juara jika menembus partai puncak. Brasil hanya gagal menjadi juara Piala Dunia saat menembus final Piala Dunia 1998.
Apa Itu Jogo Bonito?
Tak bisa dipungkiri, keberhasilan Brasil di Piala Dunia dicapai berkat gaya permainan Jogo Bonito. Apa yang dimaksud Jogo Bonito?
Jogo Bonito merupakan ungkapan dalam bahasa Portugis yang berarti “Permainan indah”. Jogo Bonito merupakan gaya bermain ekspresif yang tidak dapat diajarkan dari taktik.
Taktik ini memiliki inti keterampilan individu, umpan satu sentuhan, pergerakan tanpa bola, dan kreativitas.
Pada 1977, mendiang legenda sepak bola Brasil, Pele, merilis otobiografi berjudul “My Life and the Beautiful Game”, dengan pernyataan yang berbunyi, “Saya mendedikasikan buku ini kepada semua orang yang telah menjadikan permainan hebat ini sebagai permainan yang indah.” Pele dianggap punya tanggung jawab besar atas popularitas Jogo Bonito.
Kejatuhan Jogo Bonito
Namun, setelah Piala Dunia 2002, Brasil kesulitan untuk berprestasi di level tertinggi. Brasil dengan Jogo Bonito-nya bak kehilangan taji sehingga kesulitan bersaing dengan tim-tim Eropa.
Italia (2006), Spanyol (2010), Jerman (2014), dan Prancis (2018) jadi juara Piala Dunia. Bahkan, di Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brasil, Selecao kalah 1-7 di semifinal.
Trofi Piala Dunia baru kembali ke Amerika Selatan saat Argentina menjadi kampiun pada edisi 2022.
Keberhasilan Argentina bak tamparan bagi Brasil. Sebab, La Albiceleste merupakan rival abadi Brasil di sepak bola internasional.
Kegagalan Brasil hingga sekarang, mantan penyerang Selecao, Grafite, menyebut Jogo Bonito tidak dikenali lagi sekarang.
“Jenis sepak bola Brasil seperti ini sudah tidak ada lagi saat ini,” ungkap Grafite pada 2024.
Sebelum Grafite, Mario Zagallo, pemenang Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih Brasil, mengaitkan terkikisnya gaya permainan Jogo Bonito karena kehilangan bakat-bakat lokal.
Gelombang para pemain lokal Brasil, terutama yang masih muda, untuk pindah ke Eropa, makin mudah karena perubahan hukum Eropa sudah sekitar 20 tahun. Kamu harus tahu, perubahan ini memudahkan warga non-Uni Eropa berbisnis di Benua Biru, termasuk bidang sepak bola.
Bagi bakat-bakat muda Brasil, pindah ke Eropa untuk bermain di liga-liga terbaik, seperti Premier League dan La Liga, itu merupakan impian. Akan tetapi, menurut sejarawan David Dere Gomes, itu justru mempengaruhi perkembangan identitas sepak bola Brasil.
“Ini mempengaruhi perkembangan identitas sepak bola Brasil,” jelas Gomes yang telah meneliti sepak bola di Rio de Janeiro selama bertahun-tahun.
Gomes menjelaskan, bahwa para pemain yang mampu menentukan hasil pertandingan dengan cara Brasil, dirampas waktu berkembang di negara sendiri supaya paham Jogo Bonito.
Maksud cara Brasil, adalah dribbling spektakuler yang dapat membuat para penggemar kagum. Dribbling luar biasa itu adalah bagian besar dari identitas sepak bola Brasil.
Lalu, selain transfer bakat-bakat lokal ke Benua Biru, adaptasi dengan gaya main Eropa yang mengandalkan kecepatan dan sistem, juga mengikis Jogo Bonito di Brasil.
“Wajar jika pemain Brasil beradaptasi dengan gaya sepak bola Eropa, tapi Brasil belum mampu mengimbanginya,” jelas Grafite.
Benturan antara gaya main Jogo Bonito dan Eropa, membuat permainan Selecao tidak menggigit. Ia mengambil contoh pada penampilan Brasil di Piala Dunia 2022 kala tersingkir oleh Kroasia di perempat final.
“Hal ini cukup jelas terlihat di Piala Dunia terakhir,” ungkap Grafite.
Jogo Bonito memang terkikis sejak Piala Dunia 2002. Akan tetapi, Brasil tidak bisa meratapi itu terlalu lama.
Selecao harus memikirkan cara untuk bermain maksimal di Piala Dunia 2026 meski tidak lagi mengandalkan Jogo Bonito. Bagaimanapun, fans Brasil sudah rindu melihat Selecao berdiri di podium tertinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NBC Miami, DW