Selasa, 30 JUNI 2026 • 11:10 WIB

Korea Selatan Didesak Lakukan Reformasi Besar Usai Tersingkir Memalukan dari Piala Dunia 2026

Author

Para penggemar sepak bola bereaksi saat menyaksikan siaran langsung pertandingan Grup A Piala Dunia 2026 antara Afrika Selatan dan Korea Selatan di lokasi nonton bareng (public viewing) di Seoul, Korea Selatan, pada 25 Juni 2026. (Naver)

INDOZONE.ID - Kegagalan Korea Selatan melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026 memicu gelombang kemarahan di dalam negeri.

Meski pelatih Hong Myung-bo telah memutuskan mundur dari jabatannya, tuntutan agar federasi sepak bola melakukan reformasi total justru semakin menguat.

Negara yang pernah mencatat sejarah dengan menembus semifinal Piala Dunia 2002, saat menjadi tuan rumah bersama Jepang itu, harus mengakhiri kiprahnya lebih cepat.

Hal itu terjadi setelah gagal menjadi salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik, yang berhak lolos ke fase gugur.

Harapan Taegeuk Warriors sempat terbuka lebar. Namun, kekalahan mengejutkan 0-1 dari Afrika Selatan membuat mimpi mereka kandas di fase grup.

Baca juga: Gagal Total di Piala Dunia 2026, Hong Myung-bo Mundur Sebagai Pelatih Korea Selatan

Hong Myung-bo Mundur, Masa Depan Son Heung-min Dipertanyakan

Kekalahan menyakitkan tersebut membuat Hong Myung-bo memilih mengundurkan diri pada Minggu (28/6/2026).

Selain itu, muncul pula spekulasi mengenai masa depan kapten tim nasional Korea Selatan, Son Heung-min, di level internasional.

Kekecewaan masyarakat juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada publik, sekaligus mengkritik keras pihak-pihak yang dinilainya tidak kompeten dalam mengelola sepak bola nasional.

Pernyataan presiden mencerminkan kemarahan publik, yang selama bertahun-tahun terus memuncak terhadap kepemimpinan Federasi Sepak Bola Korea (KFA).

Baca juga: Kalahkan Korea Selatan, Afrika Selatan Cetak Sejarah Lolos ke Fase Knockout Piala Dunia untuk Pertama Kali

Park Ji-sung: Kegagalan Ini Sudah Bisa Diprediksi

Legenda sepak bola Korea Selatan sekaligus mantan kapten tim nasional, Park Ji-sung, mengaku tidak terkejut dengan hasil tersebut.

Menurut mantan gelandang Manchester United itu, tanda-tanda kemunduran sepak bola Korea sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir.

Ia menilai, federasi telah melupakan berbagai pelajaran berharga yang diperoleh selama lebih dari satu dekade dalam membangun sistem pembinaan dan persiapan menuju Piala Dunia.

"Kita harus mengevaluasi mengapa situasinya bisa menjadi seperti sekarang. Semua pengalaman yang pernah kita pelajari seolah kembali dilupakan," ujarnya.

Gagal Memenuhi Ekspektasi di Fase Grup

Sebelum turnamen dimulai, Korea Selatan diprediksi mampu lolos dari Grup A yang dihuni tuan rumah Meksiko, Republik Ceko, dan Afrika Selatan.

Mereka mengawali kompetisi dengan kemenangan 2-1 atas Republik Ceko. Namun setelah itu performa tim menurun drastis.

Korea Selatan kalah 0-1 dari Meksiko, kemudian kembali tumbang dengan skor yang sama saat menghadapi Afrika Selatan.

Kekalahan terakhir itulah yang memastikan mereka gagal melangkah ke babak 32 besar.

Menurut laporan media lokal, setibanya di Korea Selatan pada Selasa pagi, tidak akan ada acara penyambutan resmi yang diselenggarakan oleh Federasi Sepak Bola Korea.

Situasi ini mengingatkan pada Piala Dunia 2014 di Brasil. 

Saat itu, para pendukung yang kecewa melempari skuad Korea Selatan dengan permen tradisional sebagai bentuk protes setelah tim juga tersingkir di fase grup pada periode pertama kepelatihan Hong Myung-bo.

Penunjukan Hong Myung-bo Kembali Dipersoalkan

Hong Myung-bo memang telah menjadi sasaran kritik sejak kembali dipercaya menangani tim nasional pada Juli 2024, menggantikan Jurgen Klinsmann yang sebelumnya dipecat.

Proses penunjukan Hong kala itu menuai kontroversi karena dinilai kurang transparan dan tidak adil.

Kritik terhadap sang pelatih semakin keras saat ia mencadangkan Son Heung-min dalam laga hidup-mati melawan Afrika Selatan. Padahal, Korea Selatan hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengamankan tiket ke fase berikutnya.

Usai pertandingan, Hong mengaku kesulitan memahami penyebab kegagalan timnya, sementara publik Korea harus menunggu hasil pertandingan lain demi menjaga peluang lolos yang akhirnya tetap gagal terwujud.

Desakan Agar Seluruh Pengurus Mundur

Mantan pemain timnas Korea Selatan pada Piala Dunia 2002, Lee Chun-soo, turut melontarkan kritik tajam.

Ia mengaku merasa frustrasi karena harus berharap Uzbekistan mengalahkan Republik Demokratik Kongo demi membuka jalan bagi Korea Selatan lolos ke babak berikutnya.

Menurut Lee, situasi tersebut merupakan sinyal bahwa perubahan besar harus segera dilakukan.

"Ini adalah pesan agar semua berubah. Semua pihak harus siap mundur," katanya melalui kanal YouTube pribadinya.

Presiden Federasi Jadi Sasaran Kemarahan Publik

Selain pelatih, Presiden Federasi Sepak Bola Korea, Chung Mong-gyu, juga menjadi sasaran utama kritik suporter.

Sebelum Piala Dunia dimulai, Chung sebenarnya telah menyatakan akan mengundurkan diri setelah turnamen berakhir. 

Ia mengaku bertanggung jawab atas berbagai kritik yang diterimanya selama memimpin federasi selama 13 tahun.

Pria berusia 65 tahun yang kini menjalani periode keempat sebagai presiden KFA itu sebelumnya juga menuai kontroversi karena berupaya memberikan pengampunan kepada sejumlah mantan pemain yang dijatuhi hukuman larangan seumur hidup akibat kasus pengaturan skor.

Korea Selatan Diminta Bangkit dan Belajar dari Kesalahan

Selain Hong dan Chung, masa depan Son Heung-min juga masih menjadi tanda tanya. 

Penyerang yang akan berusia 34 tahun bulan depan itu, belum memberikan pernyataan mengenai kelanjutan kariernya bersama tim nasional, meski sebelumnya pernah mengisyaratkan kemungkinan pensiun dari sepak bola internasional.

Park Ji-sung berharap kegagalan kali ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi sepak bola Korea Selatan.

Menurutnya, siklus kegagalan yang terus berulang harus segera dihentikan agar generasi berikutnya tidak kembali mengalami nasib serupa.

"Kita harus membangun masa depan yang lebih baik dan melangkah secara bertahap agar kesalahan yang sama tidak terus terulang," tutup Park.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: N.news.naver.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU