Ilustrasi mafia bola. (Freepik/fabrikasimf)
INDOZONE.ID - Praktik mafia bola menjadi salah satu masalah serius yang mencoreng dunia sepak bola. Istilah ini merujuk pada jaringan yang melakukan pengaturan skor (match-fixing) untuk memanipulasi hasil pertandingan demi keuntungan tertentu.
Kasus mafia bola telah terjadi di berbagai negara dan kompetisi, dengan modus seperti menyuap wasit, memengaruhi pemain kunci, hingga mengendalikan pasar taruhan.
Kehadiran mafia bola ini tidak hanya merusak integritas pertandingan, tetapi juga mengancam kepercayaan publik terhadap dunia sepak bola.
Lantas, bagaimana seorang mafia bola bekerja?
Baca juga: MotoGP Resmi Tunda Balapan GP Qatar Akibat Situasi Geopolitik
Secara sederhana, mafia bola merujuk pada jaringan kriminal yang terlibat dalam pengaturan skor (match‑fixing) dan praktik curang lain untuk mendapatkan keuntungan ekonomi atau kemenangan tertentu dalam pertandingan.
Biasanya, aktivitas ini berkaitan erat dengan judi ilegal, suap, dan kolusi dengan pejabat pertandingan atau pemain untuk memanipulasi hasil laga sesuai dengan kepentingan mereka.
Dalam banyak kasus, pihak mafia akan mendekati wasit, pemain, atau pejabat pertandingan untuk memastikan hasil pertandingan sesuai dengan skenario yang telah disepakati sebelumnya.
Praktik ini biasanya dimulai dari mafia atau bandar judi yang memiliki jaringan luas. Mereka akan mencari titik lemah, seperti wasit yang rentan atau pemain yang kesulitan secara finansial, lalu memberikan tawaran suap agar keputusan di lapangan bisa memihak mereka.
Jika kontak ini berhasil, pertandingan yang seharusnya kompetitif tiba‑tiba menjadi ajang skenario yang sudah diatur sebelumnya.
Baca juga: Atlet Sepak Bola Putri Iran yang Dapat Suaka dari Australia Bertambah 2 Orang
Pengaturan skor melibatkan sejumlah modus yang bisa mengecoh publik. Salah satunya adalah manipulasi langsung terhadap hasil pertandingan, di mana mafia memastikan tim atau pemain tertentu menang, kalah, atau draw sesuai skenario taruhan.
Modus ini memanfaatkan suap, ancaman, atau bahkan tekanan psikologis pada pihak yang terlibat.
Selain itu, ada modus yang lebih halus seperti memengaruhi keputusan wasit untuk memberikan penalti, kartu merah/kuning, atau keputusan lain yang bisa memengaruhi hasil akhir pertandingan secara signifikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: FIFPRO