INDOZONE.ID - Dalam dunia catur, kemenangan memang manis, tetapi mampu memaksakan hasil remis (seri) saat posisi terdesak adalah tanda seorang master sejati.
Remis bukan sekadar akhir tanpa pemenang; ia adalah seni bertahan, taktik cerdas, dan terkadang, penyelamat di ujung tanduk.
Berikut adalah panduan memahami berbagai kondisi remis dalam catur dan bagaimana menjadikannya strategi "penyelamat" saat Anda hampir kalah:
Baca juga: Apa Itu Skakmat dalam Permainan Catur? Ini Penjelasannya
Dalam aturan Federasi Catur Dunia (FIDE), ada beberapa kondisi teknis yang membuat pertandingan dinyatakan remis:
Ini terjadi ketika pemain yang tiba gilirannya melangkah tidak memiliki langkah legal yang tersisa, namun Raja mereka tidak dalam posisi skak. Karena Raja tidak boleh melangkah ke kotak yang terancam (bunuh diri), maka permainan berhenti saat itu juga.
Jika posisi bidak yang sama persis muncul sebanyak tiga kali di atas papan (dengan giliran melangkah yang sama), pemain dapat mengajukan klaim remis. Ini sering terjadi melalui skak terus-menerus (perpetual check).
Permainan dinyatakan remis jika dalam 50 langkah terakhir dari masing-masing pemain, tidak ada bidak yang dimakan dan tidak ada pion yang bergerak. Ini untuk mencegah permainan yang berlarut-larut tanpa kemajuan.
Kondisi di mana kedua pemain tidak memiliki cukup "amunisi" untuk melakukan skakmat. Misalnya, hanya tersisa Raja vs Raja, atau Raja vs Raja dan satu Gajah/Kuda saja.
Kedua pemain setuju untuk remis karena merasa posisi sudah seimbang dan tidak ada peluang untuk menang bagi keduanya.
Baca juga: Sejarah Catur: Permainan Adu Strategi yang Telah Berusia Lebih dari 15 Abad!
Ilustrasi bermain catur (photo/pexels/Vlada Karpovich)
Pemain catur yang cerdas tahu kapan harus berhenti mengejar kemenangan dan mulai mengincar remis. Ini sering disebut sebagai strategi "Mancing Remis".
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan